
Ridwan dan Susi sudah menyelesaikan ritual mandinya dan sudah terlihat segar, mereka menuju keruang tamu untuk berkumpul bersama Arif dan Mona yang masih berada disana Karena Arif tak mau membawa Mona kerumahnya karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Ridwan dan Susi menghampiri mereka dan duduk bersisian di sofa yang ada di ruang tamu
" lu sore nyampe sini lu mau nginep apa mau pulang Na" tanya Susi pada Mona
" ya gue nginep lah masa kalian tega ngebiarin gue pulang malem malem" kata Mona
" masalahnya kamar disini penuh Na, malah mpet mpetan kita nggak ada yang kosong kan disini kamarnya cuma ada tiga dan diisi semua"
kata Susi menjelaskan
" tapi rumah bang Arif kan kosong cuma ada bang Arif doang jadi bisa dong gue tidur disana" kata Mona dengan mata penuh harap,
" ya ngga bisa begitu juga atuh neng, ini kan kampung bukannya kota, ada beberapa aturan dan tatak rama yang harus di taati dan perhatikan, kamu mau digerebek warga dan diarak keliling kampung dengan rambut kamu yang indah itu di gundulin" kata Ridwan
" tapi kita kan belum tentu nganu nganu " sanggah Mona
" apa kamu bisa menjamin itu, saya rasa tidak karena selama ini kalian nggak pernah bisa tahan nafsu" kata Ridwan dengan tatapan sinis, Mona menatap tajam penuh kebencian pada Ridwan yang hanya ditanggapi santai oleh Ridwan
" iya na sebaiknya lu pulang aja dari pada jadi masalah " kata Susi lagi
" lu kok nggak belain gue Si" kata Mona kesal sama Susi yang bukannya ngebelain malah menyuruh dia pulang
" bukannya nggak belain Na, tapi gue nggak mau kita semua dapat masalah dari warga, dan lu nggak mau kan di jadiin bulan bulanan warga, lu tau nggak warga disini tuh taat banget sama aturan" jelas Susi
" iya Na, sebaiknya kamu pulang saja, bukannya aku nggak mau kamu ada disini tapi aku nggak mau kamu di hakimi warga" kata Arif yang mengerti kalau Ridwan dan Susi sedang berusaha menjauhkan Mona dari nya
" pokoknya aku nggak mau pulang" katanya merengek dan bergelayut manja di lengan Arif, Arif menghela nafas panjang mendengar rengekan Mona
" ya sudah gini aja deh lu nginep di hotel di daerah kota saja biar lu nggak jauh kalau mau kesini, tap kalau lu mau kesini hanya siang jangka malam ok " kata Susi menengahi,
" tapi kan kota jauh" keluh Mona
" di hotel atau tidak sama sekali" tegas Ridwan, Mona menghentakan kakinya kesal
__ADS_1
"bang kok Abang diam diam saja sih, aku kan kangen banget sama kamu, ok aku nginep di penginapan asal bareng kamu" semua orang menarik nafas dalam-dalam tak habis pikir dengan cara berpikir Mona .
" atuh kalau gitu mah sama saja neng" kata Ridwan kesal sambil mengetatkan rahangnya saking kesalnya dengan Mona
" abaaang..." rengek Mona sambil mengguncangkan tangan Arif, Arif hanya menghela nafas, sebenarnya ada rasa tak tega melihat Mona yang merengek dan baru datang harus pergi lagi, tapi hatinya sudah mantap untuk menjauhi Mona dan semoga berhasil karena melihat kegigihan Mona yang tak kendur
" sudah turuti saja dari pada jadi masalah, kamu harus mengerti dengan kondisi kampung" kata Ridwan sambil mengelus rambut Mona, tak bisa dipungkiri kalau ha***tanya naik kalau dekat mona, tapi Arif akan berusaha demi mendapatkan maaf dari bapak
" ok ya sudah tapi kamu yang anterin aku mencari penginapan aku kan nggak tahu di sebuah mana aku kan baru pertama kali ke daerah sini" katanya mencoba memberikan penawaran
" biar gue aja Na, Abang kan sebentar lagi mau ikut acara pengajian tahlilan Almarhumah Mama" kata Susi, mencoba untuk mencegah
" ya sudah nggak apa-apa biar aku antar, tapi aku hanya antar sampai check on aja ya, soalnya ku balik lagi buat tahlilan" kata Arif akhirnya rasa tak tega menguasai nya
" tapi Rif, acara tahlilan cuma tinggal satu jam lagi" kata Ridwan kesal dengan sikap Arif yang tidak tegas
" tahlilan dua jam lagi aku keburu perjalan ke penginapan paling cuma setengah jam jadi bolak balik satu jam keburu malah masih ada waktu untuk siap siap satu jam, gue hanya bantu check in aja kok" kata Arif menjelaskan, Ridwan dan Mona saling pandang dan menghela nafas panjang karena mereka tak bisa berbuat banyak kalau Arif nya tidak bisa tegas dengan dirinya sendiri, dan mereka akhirnya mengangguk lesu
" ya sudah, tapi satu jam lagi lu harus balik karena kita harus nyiapin kebutuhan buat acara tahlilan" kata Ridwan pasrah tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Mona tersenyum menang karena Arif masih membelanya dan mau menuruti keinginannya
" ok Si gue pergi dulu ya besok gue balik sini" kata Mona pada Susi
" ya udah kalian hati hati dijalan, sebaiknya kalian pamit bapak dulu" saran Susi
" nggak apa-apa lah lagian aku pergi nggak lama kok" kata Arif
" ya sudah terserah lu lah" kata Ridwan pasrah campur kesal.
Akhirnya Mona dan Ridwan pergi meninggalkan mereka.
Di perjalan mereka hanya diam Mona kesal dengan sikap Arif yang hanya diam
" sayang kok kamu diam terus dari tadi, kamu marah ya sama aku" kata Mona sbil mengelus lengan Arif yang sedang memegang kemudi
__ADS_1
" aku sama sekali nggak marah sama kamu, aku senang kamu datang kamu sangat perhatian sama aku, tapi aku merasa masih belum terima dengan kepergian Mama," kata Ridwan sambil menunduk, Mona yang melihat Arif bersedih membuka sabuk pengamannya dan menggeser duduknya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arif
" kamu yang sabar ya mungkin sudah jalannya kan maut sudah di tentukan oleh Tuhan" kata Mona sambil mengelus dada Arif, darah Arif berdesir dengan perlakuan Mona rasa itu datang lagi
" sayang jangan begini ini di jalan aku lagi nyetir" Arif mulai gelisah menghadapi ulah Mona, Mona tersenyum dengan sikap Arif yang salah tingkah dengan dan gelisah karena ulahnya.
" kamu tak akan pernah bisa menolak ku sayang" kata Mona dalam hati, dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya
" aku hanya kangen banget sama kamu," katanya sambil terus mengelus dada Arif
" iya aku tahu tapi jangan begini kita lagi di jalanan aku lagi nyetir kalau nggak fokus gimana?" kata Arif masih mencoba menghindari rasa itu.
" kamu itu kenapa sih, kok jadi berubah gini" kata Mona sambil bangkit duduk dengan posisi normal tapi dengan mata berkaca-kaca " sepertinya kamu menghindari aku, kamu juga tadi nggak sekalipun bela aku dari bapak kamu, Ridwan dan juga Susi yang memojokkan aku, kamu malah diam saja" kata Mona sambil menangis, Arif yang melihat itu menepikan mobilnya dan berhenti
" sayang kamu dengar aku bukannya nggak mau belain kamu, tapi kalau aku bela kamu merek akan tambah benci sama kamu, coba kamu rubah sikap kamu lebih manis pada mereka dan gaya pakaian kamu lebih tertutup kalau mau ke kampung jangan memakai baju seksi kayak gini, kamu tahu sendiri kan kalau bapak itu orangnya alim banget" kata Arif mencoba menjelaskan
" jadi kamu nggak marah sama aku" tanya Mona sambil menghentikan tangisnya dan mengalihkan perhatiannya pada Arif, Arif mengangguk sambil tersenyum, Mona pun tersenyum ketika Arif menghapus air matanya
" aku sayang kamu' aku takut kamu marah dan ninggalin aku" kata Mona sambil men***m bibir Arif dan untuk sementara Arif membalasnya untuk menenangkan Mona, tangan nian sudah mulai traveling Arif hampir saja terlena tapi Arif keburu sadar kalau mereka sedang berada di pinggir jalan
" sayang sudah ya ini di jalan nggak baik kalau di lihat orang yang lewat bisa di gerebek kita sama mereka" kata Arif sambil terkekeh dan tak bisa di pungkiri darahnya mulai memanas karena ulah Mona, Mona memang selalu bisa membuatnya tak bisa tenang.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mencari penginapan terdekat dari tempat tinggal Arif yang ada di daerah itu untuk Mona.
Mereka akhirnya menemukan penginapan yang sesuai dengan keinginan Mona setelah selesai check in
" kamu kan udah dapat kamar, aku pulang dulu ya takut telat ntar acara" pamit Arif
" anterin aku ke kamar dulu ya" kata Mona manja sambil menarik tangan Arif untuk mengantarnya ke kamar
" tapi ini sudah sore banget bentar lagi magrib dan sebentar lagi acaranya, kasihan Ridwan dan Susi nggak ada yang bantu" kata Arif mencoba menjelaskan
" sebentar saja" akhirnya Arif pun mengalah dari pada tambah lama karena perdebatan yang nggak bakalan menghasilkan apa-apa tetap saja akhirnya dia akan kalah.
__ADS_1
" ya sudah tapi sampai depan kamar saja ya" katanya sambil berjalan menuju lift.
setelah sampai depan pintu Mona memaksa Arif untuk mengantarnya masuk dengan alasan melihat dalam dari kamar sesuai atau tidak akhirnya Arif pun ikut juga.