Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 86


__ADS_3

Ridwan sampai didepan rumah dan dia melihat lampu rumah Arif masih pada mati, itu berarti Arif belum pulang mobilnya memang terlihat ada karena Arif tadi menggunakan mobil Mona jadi ada kemungkinan Arif akan pulang naik taksi tapi tidak menutup kemungkinan pula Arif sampai tidak pulang, Ridwan menghela nafas ternyata apa yang mere usahakan untuk memeberi pengertian dan saran pada Arif hanya dia sia belaka dan Arif yang selalu berjanji akan berubah ternyata hanya di mulut saja tak pernah direalisasikan oleh Arif ketika sudah bertemu Mona semua janji yang dengan di sertai air mata menguap begitu saja


" nanti pulang nangis nangis lagi minta maaf janji nggak akan ngilangin, hah sia sia gua mulut sampai berbusa nasehatin dia nggak guna" gumam Arif dalam hati sambil menggelengkan kepalanya,


" papa ayo masuk aku laper " Ridwan kaget mendengar suara Rayhan, ternyata dia dari tadi melamun, Arif tersenyum kikuk


" ya sudah, let's ya eat my son " kata Ridwan sambil terkekeh


" papa mah melamun telus " gerutu Rayhan dengan mulut yang komat Kamit sambil mantu manyun lucu, Ridwan sampai tertawa melihat kelucuan Rayhan yang manyun manyun sambil komat Kamit


" ih kenapa nih anak mama nyampe mantu manyun gitu " kata Susi yang membuka pintu


" tuh papa tuh Masya jalannya sambil ngelamun diajak bicala Juda diem saja di depan rumah om" adu nya pada Susi, Susi yang mendengar itu Susi malah tertawa


" iih sebel mama sama papa di bilangin malah ketawa" Rayhan kesal mengadu malah ditertawakan, Rayhan berjalan cepat dengan kaki di hentak hentakan kesal dan itu malah membuat Ridwan dan Susi tambah tertawa.


" gimana mas diluar aman" Ridwan mendesah berat sambil menggelengkan kepalanya lesu


" anak buah Ivan sepertinya malah tambah banyak sepertinya mereka benar benar curiga sama kamu" kata Ridwan dengan mengelus pipi Susi lembut, Susi mengangguk lemah.

__ADS_1


" maaf kalau bukan karena membela aku kamu tidak akan seperti ini" kata Ridwan menatap lekat istrinya merasa bersalah, Susi menggeleng


"kamu tidak salah kenapa minta maaf, aku memang sudah menyadari semua kesalahanku, sama kamu" Mira menjeda ucapannya " lagian walaupun aku tidak memberi tahu semuanya toh mereka tetap akan menyakiti ku dan Rayhan aku takutnya kamu dan Rayhan, lagian ujung ujungnya aku akan tetap dalam bahaya karena Ivan tuh tak akan melepas begitu saja orang yang sudah mengetahui semua rahasianya" tambah Susi lagi, Ridwan mengangguk mengerti


" papa mama ayo kita makan jangan ngobrol terus " teriak Rayhan menyadarkan Susi dan Ridwan kalau mereka masih berdiri di ambang pintu mereka saling tatap dan dan tertawa kecil mengingat Rayhan yang menggemaskan, akhirnya mereka pun masuk keruang makan dan langsung makan karena yang lainnya sudah menunggu mereka dari tadi, mete makan dalam diam hanya suara sendok yang beradu dengan piring dan garpu.


Selesai makan Susi, dan Dewi membereskan meja makan dan mencuci piring bersama


" wi besok mah kita sudah kembali kerumah, mas Ridwan terlalu lama ninggalin kerjaan" kata Susi pada Dewi


" iya Bu aku juga sudah kangen kamarku he he... juga bibi, " kata Dewi sambil tersenyum,


" iya Wi, aku juga sangat bahagia walau sekarang akan ada banyak hal yang tak terduga, tapi dengan kejadian ini aku bahagia mas Ridwan mau menerima aku apa adanya" kata Susi dengan senyum yang tak pernah lepas, baginya merupakan sebuah kebahagiaan yang tak ternilai mendapatkan perubahan Ridwan yang mau menerimanya dan Rayhan, Susi bertekad semua kan ia lakukan supaya Ridwan tetap memperlakukan tetap seperti sekarang ini, ia akan bayar semua itu walau pun dengan nyawanya tidak masalah, sebenarnya Susi sudah menyimpan rasa sejak lama, walaupun pada awalnya tidak ada sama sekali rasa itu,tapi seiring berjalannya waktu dan seringnya Mereka bertemu karena tinggal satu atap rasa itu tumbuh, tapi Susi merasa tak pantas mendapatkan cinta Ridwan karena mengingat kesalahannya yang begitu fatal pada Ridwan.


" Bu, ibu di panggil bapak " Susi tersentak dari lamunannya oleh panggilan Dewi, Susi tergagap karena kaget


" iya Wi, maaf aku malah melamun" kata Susi sambil berjalan meninggalkan Dewi yang menggelengkan kepalanya melihat kelakuan majikannya sambil tersenyum bahagia melihat majikannya akur.


" Aku doain semoga seterusnya ibu sama bapak seperti ini, aku ikut seneng lihatnya, dan semoga tak akan ada yang misahin mereka seperti pernikahan Bu Mira dan pak Arif yang hancur karena ulah itu ulat bulu, ih jijik aku lihatnya cantik dan seksi sih tapi sayang di obral kaya barang bekas di pasar, hiiih amit amit" gumam Dewi sambil bergidik mengingat kelakuan Mona yang seperti itu.

__ADS_1


Susi berjalan kearah ruang tengah menghampiri pak Agus dan suaminya yang sedang ngobrol sambil nonton TV, Rayhan sudah tidur sejak tadi selesai makan dia merengek minta tidur sama kakeknya, memang sekarang tidurnya selalu dengan pak Agus, Susi duduk samping Ridwan


" Pak anak anak sekarang sudah sampai di tempatnya sini tapi mereka tidur di tempat Farhan, mungkin mereka kasini besok" kata Ridwan membuka pembicaraan


" sama Mira juga dan Syifa" kata pak Agus dengan mata berbinar senang


" iya sama ibu juga, " Susi menunduk mendengar sahabat sahabatnya Ridwan akan datang, Susi takut mereka akan bersikap jutek seperti Sebelum sebelumnya, Susi malu sama Mira Karena selama ini Susi selalu tak pernah ramah pada Mira, perasaannya campur aduk, takut dan malu pada sahabat suaminya, Ridwan yang peka dengan sikap Susi menggenggam tangan Susi lembut


" jangan takut mereka tidak akan apa apa, Mereka tahu semuanya " bisiknya sambil tersenyum memeberi ketenangan, Susi menoleh kearah Ridwan dengan kening berkerut tak mengerti " nanti aku jelasin" bisik Ridwan lagi, akhirnya Susi mengangguk mengerti


" Bapak seneng ketemu mereka" kata bapak sambil tersenyum, lalu dia menoleh pada Susi dan menghela nafas panjang dia tahu hubungan antara Mira dan Susi selama ini tidak baik " Si bapak menyayangi Mira Karena Mira juga sangat menyayangi kami dengan sangat tulus, selama ibumu sakit Mira lah yang merawatnya ditengah kesibukannya mengurus warung dan kreditannya dia rela berkorban mengorbankan semua tabungannya untuk membantu biaya pengobatan Mama, bahkan dia berusaha mencari pinjaman ke ibunya untuk biaya pengobatan Mama di kota, karena kamu tahu sendiri Arif tak lagi bekerja mereka hanya mengandalkan warung dan Mira lah yang sangat berperan mencari uang buat memenuhi kebutuhan keluarga, selama hampir setahun ibu sakit Mira lah yang mengurus semuanya, karena itulah bapak sama Mama sangat menyayanginya, tapi bukan berarti kami tak menyayangi kamu, kami sangat menyayangi kamu lebih dari apapun karena kamu adalah putri kami satu satunya, bersikaplah baik pada Mira dia orangnya tulus dia akan bersikap sangat baik pada orang yang baik padanya" kata pak Agus menasehati Susi, Susi hanya menunduk dan memang dia dapat melihat ketulusan Mira menyayangi orang tuanya bahkan dia yang notabenenya anak kandung mereka pun tidak setelaten Mira


" Iya aku tahu Mira sejak dia masih SD dia memang seperti itu, karena Ayah sama ibu mendidik mereka dengan seperti itu, prinsip mereka adalah Jangan pernah bersikap tidak baik sama orang jangan tegaan tapi juga jangan mau dianggap rendah sama orang, mereka akan berontak untuk melindungi diri mereka bahkan mereka tak segan untuk bertindak jika sesuatu akan mengancam mereka dan jangan salah Mira sama gank berisiknya itu mereka jago silat mereka sudah memenangkan beberapa penghargaan" tambah Ridwan menerangkan tentang siapa Mira. Susi menoleh pada Ridwan dia tak mengerti kenapa Ridwan tahu betul siapa Mira, Ridwan yang mengerti tatapan istrinya terkekeh


" aku sahabatan sama tuh kembar sengklek dari SMP apalagi Andi dari orok karena kami sepupu, papa adalah adiknya om Hadi ayahnya Andi, aku sayang banget sama Ana, Mira dan Vita, Vita adalah adik Almarhum Radit sahabat kami yang meninggal bersama orangtuanya dalam kecelakaan waktu Vita masih SMA, sejak saat itu kami berjanji akan menjaga ketiga bocah berisik itu dengan apapun walaupun kami sudah menikah ketiganya sudah menjadi tanggung jawab kami dan akan tetap seperti itu" Ridwan menerangkan agar istrinya tak salah paham


" oh pantes kamu sayang banget sama Mira dan sahabat sahabatnya" kata Susi mengerti kenapa Ridwan terlihat sangat perhatian sama ketiganya.


" ya sudah sekarang kalian tidur bapak juga mau istirahat besok akan banyak orang yang datang dan kita akan sangat sibuk" kata pak Agus menyela obrolan mereka" dan satu lagi bapak tidak mau bertemu dengan Arif " katanya sambil berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Ridwan dan Susi saling pandang dan hanya mengangguk mengerti.


__ADS_2