Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 83


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore Susi, Ridwan dan Dewi izin ke mall mau belanja keperluan sehari-hari pak Agus tersenyum bahagia melihat kedekatan Ridwan dan Susi


" lihat Bu dulu ibu khawatir pernikahan Ridwan dan Susi juga akan kandas seperti pernikahan Mira dan Arif, tapi mereka sekarang terlihat sangat bahagia dan akur semoga tetap seperti itu sampai maut memisahkan mereka seperti kita" kata pak Agus sambil melihat mobil yang di kendarai Ridwan menghilang, pak Agus duduk di kursi teras dengan secangkir teh yan tadi di hidangkan Susi sebelum mereka berangkat, pak Agus bahagia yang melihat Susi berubah jadi lebih baik, tapi senyum pak Agus hilang ketika mengingat Arif, hatinya sedih dengan perubahan yang terjadi pada Arif, disaat pak Agus sedang larut dengan lamunannya tiba tiba Arif datang menghampiri


" pak Arif bicara sebentar" tanya Arif lembut, pak Agus hanya melirik dengan ujung matanya tidak mengiyakan tidak juga menolak, Hadi duduk di kursi yang lain yang hanya terhalang meja


" pak Arif mau minta maaf, Arif sadar sudah terlalu banyak Arif buat bapak sama almarhumah mama sedih Arif sudah kelewatan, Arif mohon ampun" Arif menangis sambil bersimpuh di kaki ayahnya


" Arif tau Arif sudah berlumur dosa Arif akan berusaha untuk kembali menjadi Arif yang dulu,. tapi tolong bapak bantu Arif Arif tak akan bisa kalau bapak masih marah sama Arif." Arif masih bersimpuh di kaki pak Agus , pak Agus yang melihat Arif seperti itu terenyuh, hatinya lunak melihat anaknya yang bersimpuh, pak Agus mengangkat bahu Arif dan membangunkannya


" bapak akan memaafkan kamu kalau kamu mau berjanji untuk tidak lagi bersama dengan perempuan itu, masalah pekerjaan bapak akan ngomong sama Ridwan tapi tolong jauhi dia, dia sumber dari kekacauan keluarga kita, bapak tau kamu cinta sama dia tapi kamu harus bisa menilai mana yang pantas untuk dijadikan istri, apa kamu tidak berfikir dengan begitu mudahnya dia melakukan hal seperti itu sama kamu apa kamu tidak berpikir bahwa tidak menutup kemungkinan kalau dia juga sering melakukannya dengan laki laki lain, bahkan kamu tau sendiri dulu juga dia melakukan hal itu saat kalian masih pacaran, dan kamu dengan mudahnya percaya dan yang lebih parahnya kamu malah ikut ikutan gaya hidupnya yang bebas wanita yang baik itu adalah wanita yang bisa menjaga dirinya terutama bagian paling sensitif dalam dirinya, sampai sejauh ini kamu mengerti apa yang bapak maksud ?" tanya pak Agus " apa kamu bisa melakukan hal itu?" tanya nya lagi


" bapak tahu itu tak mudah tapi kalau teks kamu kuat dan yakin insyaallah kamu bisa," kata pak Agus lagi memberi dukungan pada Arif


" insyaallah Arif akan bisa dengan dukungan bapak, Arif berusaha lebih keras lagi" kata Arif dengan mantap.


" buktikan, bapak tidak butuh janji kamu tapi bapak ingin bukti dari kamu, bapak kasih kamu kesempatan ini yang terakhir buat kamu, bapak nggak tahu harus yakin atau tidak sama kamu sudah sering kamu janji sama kami, tapi kamu selalu mengingkarinya, dan ini yang terakhir buat kamu, dan satu lagi jangan sampai perempuan itu kesini apalagi sampai nginep bareng kamu, bapak tidak mau warga kampung lihat kamu punya hubungan sama wanita yang mengumbar aurat," kata pak Agus tegas


Ketika mereka sedang asik ngobrol terlihat ada sebuah mobil, Arif uang tau itu mobil siapa langsung pias


" itu mobil siapa? sepertinya itu bukan mobil Ridwan tapi mobil siapa ya" tanya pak Agus, Arif menghela nafas panjang, Arif putuskan mulai sekarang akan terbuka pada keluarganya


" pak sepertinya aku kenal, kalau nggak salah itu mobilnya mona, aduh bagaimana ini pak" kata Arif


" apa..." kata pak Arif kaget " kamu kasih dia alamat rumah kita sama perempuan itu," "sumpah pak bapak harus percaya sama Arif" kata Arif memelas,


" kamu dengar bapak, jangan sampai wanita itu nginep dirumah kita, kamu mau digerebek warga dan kamu tahu siapa bapak dikampung ini kamu akan menghancurkan nama baik bapak, dan bapak tidak mau hal itu terjadi kan?" kata pak Agus geram


" pak aku mohon beri Arif kesempatan untuk membuktikan pada bapak keseriusan Arif untuk berubah, Arif akan melakukannya tapi secara perlahan karena tidak mungkin Arif mengusir Mona secara kasar, Arif janji tidak akan membiarkan dia menginap di rumah Arif juga akan berusaha untuk menyuruh dia kembali ke kota tapi harus dengan cara yang baik karena sifat Mona kalau di perlakukan Secara kasar dia akan lebih berontak dan akan menambah masalah buat kita" kata Arif

__ADS_1


" ok bapak akan percaya sama kamu, dan satu lagi jangan pernah melakukan perbuatan-perbuatan mesum dikampung ini" tegas pak Agus.


Mona menghentikan mobilnya dan turun dan menengok kiri kanan mencari keberadaan Arif dan ketika mereka melihat keberadaan pak Agus dan Arif Mona langsung tersenyum lebar,lalu menghampiri Arif dan pak Agus


" Hai sayang, aku kangen banget sama kamu, kamu kenapa sih nggak pernah ngabarin aku, aku kan jadi khawatir sama kamu takut kenapa napa sama kamu" cerocos Mona, pak Agus mencebikan bibirnya kesal


" bukannya salam atau apa ini, Astaghfirullah" kata pak Agus sambil mengusap wajahnya kasar" atuh menghela nafas berat, benar apa yang di katakan bapak Mona memang tidak baik dan lihat pakaiannya dia konsisten dengan model baju yang kurang bahan, Arif menengok sekeliling dan sudah ada ibu ibu rumpi yang saling berbisik Arif menghela napasnya berat, Arif sudah membuka mulutnya untuk bicara tapi


" sayang kamu kok diam saja" kata Mona sambil mendekat dan ingin memeluk arif, Arif berusaha menghentikan Mona


" Mona jangan begitu ini kampung bukan kota lihat sekeliling jangan melakukan hal yang bisa membuat aku dan keluargaku di benci dan di usir dari kampung sini" kata Arif berusaha untuk bicara' dengan lembut tapi tegas, Mona mengerucutkan bibirnya lalu bergelayut manja pada lengan Arif


" Eh ada bapak, apa kabar pak " katanya sbil mengulurkan tangan untuk mengajak pak Agus bersalaman, pak Agus hanya menagkupkan kedua belah tangan di dada menghormati Mona, Mona tersenyum getir melihat perlakuan pak Agus yang memang tidak menyukai Mona,


" bapak masuk dulu, ingat apa yang bapak katakan jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi bapak tidak mau" kata pak Agus sbil berjalan masuk rumah


" kenapa sih bang bapak kamu itu tidak pernah menyukai aku padahal aku sudah berusaha baik Sam dia" kata Mona kesal dengan perlakuan pak Agus


" iya tapi aku kesel pasti ini gara gara bapak kamu itu sering bergaul dengan mereka jadi selalu menjelekan namaku, mereka itu racun tau nggak" katanya dengan muka kesal Arif menghela nafas panjang mendengar ucapan mona, sekarang dia sadar kenapa bapaknya tidak menyukai Mona karena selalu susdzon kepada orang lain dan yang lebih parah lagi menghasutnya dan bodohnya dia mau saja ikut terhasut omongan Mona.


" sudah kamu jangan terlalu suudzon sama orang nggak baik buat kamu" kata Arif


" ih kamu mah, jangan jangan kamu juga sudah ikutan sama mereka, kamu kok malah ikutan nyalahin aku" rengek mona, di tengah perdebatan mereka mobil Ridwan dan Susi yang baru pulang dari pasar.


mereka keluar dari mobil sambil tersenyum pada Arif dan Mona


" Assalamualaikum ...." kata mereka sambil meyalami mereka


" waalaikumsallam ..." jawab Arif

__ADS_1


" kapan lu sampai Na?" tanya Susi sbil cipika cipiki dengan Mona


" baru aja, lu pada dari mana?" tanya Mona


" biasa abis belanja buat ntar tahlilan ya sekalian ngajak Rey kasian dari kemaren nggak kemana mana, jadi takut bosen, sekalian mas Ridwan juga ada yang mau dibeli" jelas Susi, Susi memang tak pernah mengatakan pada siapapun soal kehidupan rumah tangganya dengan Ridwan walau sama Mona sekalipun, hanya orang rumah saja yang tahu, jadi mereka tahunya rumah tangga mereka baik baik saja seperti Sekarang


" lu tau dari mana kita disini Abang yang ngasih tau ya" tanya Susi lagi pura pura tidak tahu


" hah Abang lu ini boro boro dia ngasih tau alamat disini ponselnya nggak aktif dari kemaren" katanya


" iya Abang dari kemaren terpukul banget sama kepergian mama soalnya diakan anak kesayangannya Almarhumah mama, apalagi pas mama meninggal Abang nggak ada di tempat, jadi yah gitu sekarang" kata Susi sambil menekakan kata anak kesayangan supaya mereka sadar, Arif yang mendengar dan mengerti ucapan adiknya menundukkan kepalanya dia memang pantas disebut anak yang durhaka, " oh ya kali bukan Abang yang ngasih alamat suami lu tau dari mana, telisik Susi ingin tahu bagaimana reaksi Mona saat di tanya seperti itu, Mona kelabakan mendapatkan pertanyaan yang belum dia siapkan jawabannya.


" it itu gue..." kata Mona gugup dan salah tingkah " ya ada deh..


" sudah sudah sebaiknya kita ngobrol didalam saja malu sama tetangga disini kan kampung atitude kita diperhatikan warga, prilaku apapun akan di nilai baik atau buruk sama warga, dari pakaian yang kita pake aja jadi bahan gunjingan." kata Ridwan menengahi akhirnya mereka masuk kedalam rumah, setelah sampai di dalam


" sayang aku kedalam dulu ya gerah mau bersih bersih" kata Ridwan pada Susi.


" ya udah sebentar ya na gue ada kedalam dulu, oh ya lu mau minum apa?" tanya Susi


" apa aja yang penting manis dan dingin" jawab Mona dan diangguki oleh Susi. dan akhirnya Susi masuk menyusul Ridwan setelah meminta Dewi menyiapkan minuman dan cemilan.


Setelah Susi dan Ridwan di dalam kamar Susi mengelus dadanya lega


" kamu hebat kamu bisa mengendalikan diri kamu untuk bisa bersiap biasa saja" kata Ridwan pada Susi sambil mengelus pipi Susi lembut


"iya mas tapi aku ketar ketir takut dia curiga" kata Susi sambil mengerucutkan bibirnya, Ridwan terkekeh mendengar ucapan Susi


" jangan takut aku yakin kamu pasti bisa, kamu harus semangat " kata Ridwan menyemangati Susi " ya sudah aku mau mandi dulu gerah" kata Ridwan sambil berjalan menuju kamar mandi tiba di depan pintu Ridwan menghentikan langkahnya dan berbalik sambil tersenyum penuh arti " mau mandi bareng nggak biar cepet" katanya

__ADS_1


" nggak ah, kamu mah modus " kata Susi sambil memanyunkan bibirnya, Ridwan tertawa keluar dari kamar.


"


__ADS_2