Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 62


__ADS_3

Di perjalanan tak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan, hanya suara deru mesin mobil yang terdengar.


sesampainya mereka dirumah pak Agus langsung sigap membantu isterinya turun dari mobil dan menyiapkan kursi roda


" Ayo ma, hati hati" kata pak agus


" pak mama mau coba jalan aja kata dokter Andi pun harus sedikit demi sedikit harus coba digerakkan" kata Bu Diah


" ya sudah, ayo bapak bantu" katanya sambil mengulurkan tangannya kepada istrinya dan langsung di sambut Bu Diah sambil tersenyum


" iya terimakasih pak" katanya dan hanya di balas dengan senyuman meneduhkan oleh pak Agus.

__ADS_1


Mereka sudah duduk berkumpul di ruang tengah sambil nonton TV


" hmmm, Mah gimana perkembangan kesehatan mama?" kata Arif mencoba membuka pembicaraan pak Agus dan Bu Diah menoleh pada Arif, Bu Diah mengguk yakin sambil tersenyum dengan mata berbinar


" mama baik, malah sangat baik malah," kata Bu Diah dengan semangat dan pak Agus mengelus tangan istrinya lembut sbil tersenyum memberikan semangat " dan kamu mau dengar apa yang dokter Andi bilang" Arif menoleh pada ibunya


" apa katanya" Arif tidak mau gegabah dia akan pelan pelan bicara dengan orang tua nya


" hmmmm ma, apa mama nggak ada niatan buat pindah kontrol kerumah sakit yang lebih baik metode pengobatannya misalkan'" kata Arif hati hati


" apa maksu kamu?" kata Bu Diah sambil memicingkan matanya curiga

__ADS_1


" yang mungkin saja kali dirumah sakit lain penyakit mamah bisa lebih cepat sembuhnya" kata Arif sambil mengusap tengkuknya gugup takut ibunya marah dan tersinggung


" Arif kamu dengar, rumah sakit itu adalah rumah sakit terbesar di kota ini dengan alat medis dan pelayanan terbaik dan sekarang kamu bilang mau mencari rumah sakit yang terbaik? kemana?" pak Agus yang memberikan jawaban dan sekaligus pertanyaan


" maaf pak rumah sakit, perawatan, peralatan dan sebagainya mungkin yang terbaik, tapi aku tidak yakin dengan si Andi yang merawat mama, secara mereka itu sahabat Mira dan kakak kakaknya apa mama dan bapak tidak curiga kalau pengobatannya di sengaja di perlambat, nanti yang ada bukanya sembuh malah yang ada tambah parah." katanya bsambil tersenyum sinis " lagian mah temannya Mona sakit kanker sembuh berobat di rumah sakit xxx dengan waktu cepat, dan sekarang sudah bisa beraktivitas seperti biasa" kata Arif meyakinkan orang tua nya agar mau pindah dari rumah sakit tempat praktek Andi.


" oooh ternyata itu maksud kamu, kamu curiga meter akan balas dendam atas semua kelakuan kamu yang kejam pada Mira, tapi pantes sih kalau mereka dendam karena kelakuan kamu yang keterlaluan, tapi denger ya mama tau siapa Mira dan keluarganya mereka bukan manusia pengecut macam kamu, dan satu lagi itu yang membuat kami sama sekali tidak suka dengan perempuan itu dia selalu menghasut kamu untuk kita bertengkar dan mama curiga malah dia yang ingin melihat mama mati" kata Bu Diah yang berdiri dan melangkah baru beberapa langkah ternyata sudah ambruk tak sadarkan diri, pak Agus yang panik langsung menggendong istrinya dan berlari kedepan mencari supir, ya memang Ridwan tak main main menempatkan Bu Diah dan pak Agus di lengkapi dengan fasilitas lengkap yang dibutuhkan keduanya termasuk mobil.


" pake mobilku saja pak" kata Arif sambil membuka pintu mobilnya tapi tak dihiraukan oleh pak Agus dan menghampiri mobil yang sudah disiapkan supirnya.


Mobil melaju menuju rumah sakit tak lupa pak Agus menghubungi dokter Andi tentang kondisi istrinya dan kebetulan Andi masih dirumah sakit dan langsung menyiapkan segalanya.

__ADS_1


__ADS_2