Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 114


__ADS_3

mereka sudah Samapi di SPBU


" ayo turun, kamu yang lagi dapet aja yang lain tinggal di mobil!" perintah pimpinan mereka,


" om kita juga mau sekalian pipis" kata Susi sambil mengeram kesal


" iya om dari pada entar kita mau pipis lagi jadi kita harus berhenti lagi dong, om mau?" kata Mira sambil mendengus kesal " lagian nggak mungkin juga kan kita ngompol disini," tambah Mira lagi


" malah kalau sekarang kita barengan ke toilet semua malah jadi hemat waktu bukan nya bos si om lagi nunggu, masa ada bos nunggu nya kelamaan" kata Ana menjelaskan panjang lebar supaya mereka mengerti


" tapi kalian jangan coba coba ngakalin kami ya!" katanya dengan sorot mata curiga


" om kalau kita mau ngakalin kalian kita mau kemana, kita tuh perempuan mana kita nggak tahu kita di mana sekarang, ntar yang ada kami malah nyasar malah tambah ribet urusannya" kata Mira meyakinkan


" ok kalian turun beli kebutuhan kalian seperlunya, cepat!" perintahnya, Ana, Mira dan Susi sudah turun dari Mobil


" awas kalian kalau coba coba menghubungi siapa pun" katanya masih tetap curiga


" om ponsel kita ada sama kalian mau menghubungi pake apa coba" ketus Ana, Pimpinan penculik itu menghela nafas kesal pada ketiga wanita itu, mereka masih saja diam berdiri di luar Mobil dan tak beranjak


" kenapa masih disini ayo cepetan sana!" katanya sekali tapi suaranya karena takut ada yang mendengar bisa bahaya

__ADS_1


" om kita mau beli pake apa tas kita juga ada sama kalian kan " pimpinan dari mereka mengelus dadanya sambil menenangkan diri supaya lebih sabar menghadapi tawanan yang ekstra mengesalkan kalau boleh milih mungkin mereka lebih baik di suruh ikut perang ketimbang menghadapi tingkah ketiga tawanannya ini, yang sungguh memacu adrenalin,


" ya sudah ini, " kata pria itu sambil menyerahkan satu dompet milik Mira bukan tasnya tapi hanya dompetnya, dahi Ana dan Susi mengernyit melihat dompet dan tas Mereka di tahan,


" kok cuma satu om, terus punya kita mana om" protes Ana,


" sudahlah Na, nggak apa-apa punyaku juga cukup buat bayar kebutuhan kita" kata Mira sambil menyikut lengan Ana agar diam,


" kamu mau beli apa juga aku yang bayar nggak apa kok" kata Mira sambil tersenyum


" iya lah Na, segini juga si om nya sudah baik ngijinin kita ke toilet sama beli pembalut dan yang lainnya, iya kan Om?" kata Susi sambil tersenyum yang di buat semanis mungkin,


" ya sudah ayo cepat nanti kelamaan, kalian jaga disini, gue awasi mereka," katanya, sambil mengangguk tanda setuju, sedang Ana, Mira dan Susi saling lirik Mira memejamkan matanya sebentar memberi isyarat supaya membiarkan saja, sesampai mereka didalam


" cepetan kalian beli apa yang kalian butuhkan biar cepat kalian jangan ngulur waktu ya" katanya sambil memelototi mereka


" I iya, om" kata Susi tergagap karena memang Susi, bukanlah wanita yang pemberani seperti mereka, katanya sambil buru buru menarik tangan kedua sahabatnya berjalan dengan cepat, Susi ngeri melihat tampang pria itu yang menurutnya seperti malaikat pencabut nyawa saking sangarnya wajah pria itu,


" Si, pelan dikit ngapa" kata Ana berjalan terseok-seok Karena diseret Susi, Mira nasibnya tak beda jauh dari Ana, sedang pria itu mulai mengawasi dari jarak yang agak jauh karena takut orang lain curiga dan itu di manfaatkan oleh mereka, karena berpencar agak jauh untuk memecah perhatian pria itu, Ana ketempat pembalut, Susi ketempat obat, Sedang Mira ketempat cemilan yang di dekatnya terdapat rak alat tulis, Mira buru buru mengambil pulpen, dan buku nota kecil, lalu menuliskan beberapa lembar dan menyobeknya perlembar, dengan cekatan dia menyelipkan pada tangan orang orang yang ada di sekitar, pria itu tampaknya mulai curiga dengan gerak gerik Mira, dia segera mendekati Mira, dan mencekal lengan atas Mira sambil berbisik


" apa kamu mau minta bantuan Mereka hah?" Mira meringis dan menggelengkan kepalanya seolah dia tersakiti, supaya mereka percaya

__ADS_1


" kamu sudah mendapatkan apa yang kamu butuhkan " Mira mengangguk lalu memperlihatkan keranjangnya, dan pria itu menyeret Mira mendekat ke arah kasir di sana sudah ada Susi dan Ana dengan di jaga oleh dua pria lainnya


" lu bayar semua" perintah pimpinan mereka sambil menyeret ketiga gadis itu, menuju ka arah mobil, dan para pengunjung mini market itu menatap dengan iba, dan setelah mereka semua keluar mereka dengan cepat, ada yang menghubungi kantor polisi, dan ada pula yang menghubungi nomor yang tertera di kertas yang di tulis Mira.


" kita jalan saja, kita cari toilet umum yang lain saja" perintahnya


" aduh om, aku udah penuh ini, nanti bocor gimana?" rengek Ana


" tidak kalian sepertinya meminta pertolongan Mereka, kan" bentaknya " cepat masuk " perintahnya, mereka memang memiliki kemampuan beladiri, tapi mereka tak bisa berkutik karena mereka masing masing membawa senjata api, mereka takut akan melukai yang ada di sekitarnya dan juga Mereka memikirkan kandungan Mira yang masih muda, jadi mereka lebih memilih


meminta pertolongan


" kasih saja lah bos dari pada ntar dia tembus di mobil, kan jijik" kata anak buah nya memberi saran, pria itu menghela napasnya dan menghembuskan nafasnya kasar, saking kesalnya, kalau tidak bosnya yang memberikan ultimatum agar mereka jangan melukai ketiga wanita itu mungkin dia sudah di ikat dan di tempatkan di bawah, tapi dia tak bisa berbuat banyak, akhirnya menuruti apa mau mereka,


" ya sudah lu disini pantau situasi, lu ikut gue ngawal mereka" perintahnya pada kedua anak buahnya dan mereka langsung mengangguk setuju " ayo cepat jangan banyak tingkah kalian sambil berjalan mendapingi mereka agar tidak kabur, dan berusaha agar tak menimbulkan rasa curiga pada orang yang ada di sekitarnya.


Sesampainya mereka di toilet, mereka di hadang penjaga toilet umum karena laki laki dilarang mesum.toilet permpuan, dan mereka berdebat cukup sengit tapi akhirnya dua pria itu mengalah dengan ancaman mereka akan di laporkan karena akan berbuat mesum di toilet.


Akhirnya mereka bertiga masuk kedalam toilet.


sedangkan kedua pria itu menunggu di depan pintu batas toilet pria dan wanita, mereka menunggu dengan harap harap cemas takut ketiga tawanannya bertingkah yang akan membuat mereka gagal menjalankan misi ini, mereka takut Bos besar mereka murka yang akan berakibat fatal pada mereka semua, menurut mereka ini adalah misi paling berat bagi mereka.

__ADS_1


__ADS_2