
Ridwan dan Susi sampai dirumah jam enam pagi di sambut oleh celotehan Rayhan yang menanyakan dari mana saja
" Assalamualaikum ..." ketika mereka masuk kedalam rumah
" waalaikumsallam..." sambut Rayhan, papinya Ridwan dan pak Agus yang baru saja keluar dari kamar.
" papa sama Mama dari mana aja sih jalan segini balu pulang kan aku nungguin" katanya sbil cemberut
" ouh anak kesayangan Papa nungguin, maaf semalem Papa nginep di rumah kakak Syifa dulu soalnya ada pekerjaan yang selesaikan." jelas Ridwan sambil langsung menggendong Rayhan dan mengengkat nya tinggi, Rayhan tertawa senang, Susi tertawa melihat keakraban mereka dia langsung masuk menyalami ayah, mertuanya dan cipika cipiki dengan ibu mertuanya
" kok kalian baru pulang iya habis ngebahas kejadian semalem sekalian saja mereka ngejailin Rey sama Mira" kata Mira sambil tertawa
" mereka itu tak pernah berubah sejak dulu selalu saja seperti itu, tapi mereka kompak tak pernah mereka marah benar benar, mereka selalu saling bantu apalagi setelah kepergian kakaknya Vita Mereka tambah kompak mereka tak ingin lagi kehilangan salah satu dari mereka" kata Mami nya Ridwan sambil menerawang mengingat waktu Ridwan dan sahabat sahabatnya dari masih SMP mereka bersama dan mereka akan menyayangi Mira, Ana dan Vita selayaknya saudara mere sendiri
" mami nggak nyangka kalau Rey akan jatuh cinta sama Mira, memang mereka lama tak bertemu sih, Rey emang pisah sendiri soalnya dia kan setelah lulus kuliah dia memutuskan untuk masuk kepolisian jadi kan dalam ranah kerja Rey beda sendiri kan keluarganya kebanyakan polisi dan TNI," tambah papinya Ridwan
" Ya sudah kalian bersih bersih dulu sana, Rey biar papanya bersih bersih dulu baru main lagi" kata Maminya Ridwan memanggil cucunya
" iya Papa bau banyak kuman" kata Rayhan sambil memencet hidungnya
" enak saja Papa mah wangi dan selalu ganteng dong" kata sambil mencium leher Rayhan jelas saja anak itu terpingkal pingkal tertawa kegelian
" sudah sebentar lagi waktunya sarapan" sergah mami
" baiklah bunda ratu" kata Ridwan mencium pipi maminya sekilas sambil berlari
" anak itu..." kata mami Eva kesal tapi langsung tertawa bahagia anaknya tidak pernah berubah walau sudah berkeluarga, Pak Agus yang melihat itu tersenyum kecut melihat keakraban ibu dan anak tak lekang oleh usia.
" itulah Ridwan kalau sudah sama Maminya manjanya lebih dari Rey masih saja kelakuannya kayak anak ABG" jelas papinya Ridwan pada besannya " dan memang bagi kami dia adalah putra kecil kami, kami hanya punya dia" Katanya lagi sambil tersenyum " tapi kami bahagia dia anak yang tidak terlalu banyak tingkah walaupun waktu remaja dia bendel banget tapi masih dalam tahap wajar kebandelan anak remaja" kata papi Anwar.
" Bapak masih ada hubungan keluarga sama Andi dan Ana?" tanya Pak Agus penasaran
__ADS_1
" iya Mereka ponakan saya, dia anaknya Almarhum kakak saya Bang Fauzy kami dua bersaudara, mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika Ana masih SMP" kata pak Anwar sambil tersenyum miris mengingat kakaknya " awalnya mereka tinggal dengan adik istrinya bang Fauzy Mereka pun meninggal saat Ana kelas tiga SMA dan Andi kuliah semester akhir, akhirnya mereka hidup mandiri dan tidak mau tinggal dengan kami mereka lebih mandiri mungkin karena keadaan yang sudah di tinggal orang tua sejak mereka remaja dan Andi begitu menyayangi Ana lebih dari pada dirinya sendiri." kata Pak Anwar sambil menghela nafas panjang mengingat masa lalu.
Tak lama Ridwan dan Susi turun dan mereka sarapan selesai sarapan
" Pi ada waktu nggak? " tanya Ridwan hati hati, pak Anwar menghela nafas seperti sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh anaknya lalu menjawab dengan anggukan, Mereka berjalan menuju ruang kerja Ridwan.
" Pi waktu aku dulu kecelakaan papi tahu nggak kalau Jovan tinggal dengan siapa setelah dia pergi dari keluarga kita" tanya Ridwan pada papinya, Pak Anwar mengerutkan dahinya
" Papi tidak tahu yang papi tahu dia kabur setelah papi menegur dia karena membaut kamu celaka sebenarnya mami yang sangat marah mungkin merasa tidak enak sama papi karena mami yang membawanya ke keluarga kita, soalnya pas papi pulang dari rumah sakit dia sudah nggak ada dan nggak lagi dengar kabar dia ada dimana, tinggal sama siapa, sempat sih papi cari dia tapi tidak ketemu, memangnya kenapa?" tanya papi Anwar sambil menautkan keningnya
" nggak sih Pi, dari hasil analisa Rey sepertinya ada seseorang yang ada di belakang, membantu atau Bahkan orang itu adalah sutradara dibalik semua ini dan jovan lah yang jadi pemeran utamanya" kata Ridwan pada Papi Anwar,
" Papi belum ada gambaran, tapi nanti kita bahas sama mami karena yang tahu Jovan banget adalah mami" kata papi Anwar " apa kamu sudah laporkan kasus ini ke polisi, seperti nya ini sudah nyerempet bahaya takutnya kalian dalam bahaya "
" sepertinya memang harus lapor Pi, tadinya kami mau tangani ini sendiri tapi yang di incar bukan hanya aku, tapi kami semua" kata Ridwan sambil menghela nafas
" maksudnya?" tanya papi Anwar masih belum faham betul maksud anaknya
" ini urusannya sudah sangat melebar kemana-mana ya" kata Papi Anwar
" iya Pi, awalnya kita mengira ini buntut dari hubungan Ana sama Ivan saja tapi ternyata, semua itu jadi mengarah sama kita Pi" jelas Ridwan sambil mengusap mukanya kasar,
" terus apa yang membuat kalian yakin kalau ada dalang di balik semua ini selain Jovan" tanya Papi
" melihat dari gerak geriknya semalam sepertinya dia ada dalam tekanan karena kita tahu dia sangat mencintai Ana" jelas Ridwan lagi
" terus Susi?" tanya Papi yang memang pertanyaan itulah yang dari tadi malam ingin segera dia tanyakan kepada Ridwan, Ridwan menghela nafas berat sebelum memulai pembicaraan tentang keterlibatan Susi dalam kasus ini, Ridwan berat berterus terang tentang Susi dan Ray tapi mereka sudah sepakat akan berterus terang kepada Papi Anwar dia takut Papi Anwar akan marah dan tidak mau menerima Susi dan Rayhan, tapi ini mungkin waktu yang tepat untuk menjelaskan segalanya dari pada mereka tahu dari orang lain dan akan tambah runyam masalahnya ketika Ridwan akan memulai pembicaraan tentang Susi
tok tok tok
terdengar ada yang mengetuk pintu, Ridwan berdiri dan di sana sudah ada Mami Eva, Susi dan pak Agus memang tadi Ridwan mengirim pesan pada Susi untuk membawa mereka keruang kerjanya agar semua langsung mengerti dan tak akan adalagi mengulang cerita yang sama pada orang yang berbeda lebih baik menceritakan semuanya bersama,
__ADS_1
" masuklah, Pi aku menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tolong kalian jangan ada yang menyela sebelum kami selesai menjelaskannya" pesan Ridwan pada tiga orang tua mereka, Susi sudah tertunduk karena kali ini dialah yang akan membuat pengakuan walaupun awalnya Ridwan menolak tapi Susi kukuh pada pendiriannya agar dia sendiri yang menjelaskan semuanya.
Akhirnya Susi menjelaskan semuanya keterlibatannya dari awal sampai akhir dan juga siapa Ayah biologis dari Rayhan, papi dan Mami mengangguk mengerti, walaupun pada awal cerita mereka sempat syok dan terlihat marah tapi setelah mendengar semuanya mereka tampak lebih kalem dan sepertinya mengerti tapi berbeda dengan pak Agus yang memperlihatkan ekspresi yang sepertinya akan meledak, Susi selesai menceritakan semuanya dan tak lupa juga beberapa rekaman pembicaraan, cctv semuanya Oleh Ridwan Susi jelaskan berdua.
" aku pasrah kalau sekarang mami dan papi tidak mau menerima aku sama Rey aku akan terima karena aku sadar kesalahan kunci mama lalu dan ini sangat fatal" kata Susi sambil terisak
Plak plak
tak Mereka duga serangan mengsung mendarat di kedua belah pipi Susi dari pak Agus
" dasar anak nggak tau di untung kamu sudah membuat aib keluarga tidak kurang kah semua yang di lakukan Arif " pak Agus marah dan ketika dia kembali akan melayang kan tamparan di halangi oleh mami Eva yang memeluk Susi dan di Ridwan juga sedang Pak Agus di tenangkan oleh Papi Anwar
" pak istighfar mungkin Susi sudah membuat sebuah kesalahan yang sangat fatal tapi dia melakukan hal karena tekanan dan Rey dia tidak berdosa kenapa kita harus menghukumnya, dan mungkin Bahakan dosa kita lebih besar dari apa yang sudah Susi lakukan, " jelas Papi Anwar yang begitu sangat berbesar hati, Susi yang mendengar itu langsung merosot kan tubuhnya bersimpuh di kaki Papi, Mami dan pak Agus
" aku minta maaf, aku mohon maafkan aku, kalian boleh membenci dan menghukum ku tapi aku mohon jangan benci Rayhan" katanya sambil tak henti menangis, Ridwan memeluk isterinya
" kamu jangan seperti ini sayang, mami maafin kamu,kamu tetap mantu mami" kata mami Eva sambil memeluk Susi
" sudah kamu jangan nangis lagi, papi enggak terima menantu cengeng papi mau menantu papi tegar dan berani mengakui kesalahan dan siap menanggung resikonya, sudah kalau papi nggak maafin kamu terus kamu mau bawa cucu papi gitu enak aja nggak ada" kata Papi Anwar, seketika Susi semuanya mengalihkan pandangannya pada Papi Anwar yang sedang tersenyum sambil merentangkan tangannya Susi memandang bingung pada Mertuanya lalu menoleh pada Ridwan yang tersenyum dan mengangguk, Susi bangkit dan langsung menghambur ke pelukan mertuanya dan di sambut dengan pelukan hangat.
" terimakasih Pi, maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Susi.
" Papi bangga sama kamu yang dengan berani mengakui semuanya, kamu mantu Papi, dan Rey adalah Cucu papi tak akan da yang bisa merubah itu" semua Taka ada yang tak menangis, pak Agus yang tadi sangat marah sudah terlihat tenang dan merasa malu dengan besannya yang begitu lapang dada memaafkan kesalahan Susi.
Susi melerai pelukannya lalu berjalan pelan menghampiri ayahnya
" Susi minta maaf sudah bikin bapak malu, " katanya sambil tertunduk, pak Agus langsung memeluk Susi
" bapak maafkan tapi bapak juga minta maaf sudah lepas kontrol dan bapak janji ini yang pertama dan terakhir bapak melakukan hal itu" katanya sambil menangis memeluk putri kesayangannya " Nak Ridwan, bapak dan ibu saya berterima kasih sekaligus memohon maaf atas keteledoran saya sebagi orang tua Susi" kata pak Agus sambil tertunduk
" sudah dunia manusia tidak pernah ada yang luput dari dosa tinggal kita bagaimana menyikapi kedepannya" kata Papi Anwar.
__ADS_1
akhirnya mereka pun tersenyum ada rasa plong di dihari Susi rasanya beban yang selama ini dia pikul lepas sudah.