Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 102


__ADS_3

Arif tiba di kantor dengan muka kuyu, lingkar hitam membayang di bagian bawah matanya sorot matanya sendu seperti banyak pikiran, teman teman satu divisi saling lempar pandang, dan saling melempar pertanyaan melalui isyarat, sampai tiba waktunya jam istirahat pekerjaan Arif ngga ada yang beres semuanya berantakan dan harus bolak balik revisi, teman temannya merasa heran karena Arif sangat berubah,


" Rif cari makan yuk" ajakAdam sambil menepuk bahu Arif yang terlihat sangat memprihatinkan


" kalian duluan aja" jawab Arif singkat


" biar gue bungkusin dech lu mau makan apa bang?" tanya Mirna


" nggak usah deh" jawab Arif sambil menggeleng


" Wir lu cari tahu deh ntar gue bungkusin makan buat lu" bisik Adam pada Wira teman satu divisi yang terkenal paling bijak dan paling mengerti agama, maklum dia salah satu jebolan pesantren besar waktu sekolah dan kuliahnya dia tinggal di pesantren, Wira adalah orang yang selalu bisa diajak curhat, asal di sogok nasi bungkus dia sudah bisa mengeluarkan semua dalil dalil yang menenangkan yang selalu bisa jadi solusi,


" ok, rendang ye" pesannya, teman temannya mengacungkan jempol sambil berlalu keluar ruangan untuk makan siang, Wira mendekat pada Arif,


" Bang lu sakit?" tanya Wira yang memang usianya empat tahun di bawah Arif, Arif menggeleng sambil tertunduk " kayaknya lagi ada masalah, kalau lu butuh teman curhat gue siap kok, kali aja gue bisa bantu" kata Wira sambil duduk dikursi depan meja Arif, Arif menatap Ragu pada Wira, tapi dia memang butuh teman curhat, Arif menghela nafas berat lalu menghembuskanya sebelum memulai


" gue kemaren ketemu sama anak gue dan mantan istri juga suaminya, dia terlihat sangat menyayangi anak gue, bahkan dia lebih dekat sama anak gue dari pada gue dan mereka dengan lapang dada mengijinkan gue kalau mau ketemu atau ngajak jalan anak gue, tapi yang gue nggak habis pikir mereka ngasih syarat " kata Arif sambil menatap kosong ke depan

__ADS_1


" apa lu harus beliin anak lu banyak mainan" kata Wira sekenanya, Arif terkekeh sambil menggelengkan kepalanya


" mereka itu orang yang sangat kaya Wir, jadi mereka nggak bakalan butuh duit gue yang kalau di bandingin gaji kita sebulan buat mereka mah bisa buat satu kali makan siang Wir" Kat Arif sambil terkekeh lucu mendengar ucapan Wira. " mereka ngasih syarat jangan biarkan anak gue ketemu sama kekasih gue, apalagi ngajak jalan bareng, kata mereka itu akan menganggu psikologis dan mental anak gue" kata Arif menjeda ucapannya, kening Wira terlihat bertaut tanda belum faham dengan ucapan ARif


" sepertinya bahaya banget sampai ngasih ultimatum kayak gitu " kata Wira, dan Arif mengangguk


" gue nggak tahu apa yang sudah dilakukan kekasih gue sampai mereka setakut itu, dan gue nggak tahu apa yang sudah di lakukan kekasih gue dibelakang gue Sampai mereka sebegitu tidak bolehnya Syifa ketemu sama Mona" kata Arif menjeda ucapannya " dan kalau gue harus jujur sampai sekarang gue nggak mengerti semua keluarga gue begitu benci sama kekasih gue bahkan adek gue pun yang notabenenya mereka sahabatan dia pun sangat menentang hubungan gue sama Mona," kata Arif sambil menunduk


" mungkin pacar lu, siapa namanya tadi? Mona ya Mona bukanlah wanita yang baik kalau mereka segitu nggak sukanya sama si Mona itu atau mungkin dia sudah bikin kesalahan yang sangat fatal" kata Wira, Arif menghela nafas sebelum menjawab


" sebenarnya memang Mona itu mantan cinta pertama gue, kita pisah karena dia selingkuh dengan mantan atasan gue di kantor tempat gue kerja, gue mergokin Mereka sedang melakukan hubungan intim dan parahnya waktu itu gue lagi sama bapak gue ikut menyaksikan semuanya. setahun kemudian gue menikah dengan Mira, dia wanita baik dan Sholihah orang tua gue bahkan sangat sayang sama dia bahkan adek gue Samapi cemburu sama Mira Karena melihat orang tua gue yang begitu sayang sama dia karena dia adalah wanita yang tulus dia rela mengorbankan segalanya ngerawat bahkan dia rela tabungannya habis di pake buat pengobatan mama padahal gue belum sempat ngasih apa apa sama dia gue bahkan pas nikah sama dia tidak punya pekerjaan dia mau gue ajak hidup melarat tau nggak dia mau buka warung dan ngereditin baju dan alat rumah tangga sama tetangga sekitar dia rela melakukan itu padahal dia anak keluarga kaya tapi dia menutupi identitasnya karena nggak mau gue minder padahal kita nikah karena di jodohkan, walaupun awalnya dia menolak tapi setelah resmi nikah dia mau belajar menerima gue dan sekitar tujuh bulan yang lalu ibu gue harus dioperasi di kota dan dia rela memakai tabungan pribadinya untuk pengobatan Mama disini, dan bejatnya gue membiarkan Mona menghina Mira tanpa membela sedikitpun dan ternyata itu adalah awal keretakan rumah tangga gue dan dengan teganya gue ngaku sama Mira kalau gue masih mencintai Mona" t jelas Arif panjang lebar


" maksud lu?" tanya nya tak mengerti


" maksud gue maaf nih bang ya bukannya gue terlalu ikut campur sama urusan pribadi lu tapi gue udah kepalang basah nih tahu semuanya, maksud gue lu kagak curiga kalau si Mona itu, apa dia setia sama lu secara kan adek lu pasti akan lebih tahu kelakuan sahabatnya, dan secara alami dia akan lebih memilih kebaikan sodaranya ketimbang sahabatnya, mungkin saja bahkan gue sangat yakin adek lu tahu boroknya si Mona itu" Arif menatap lekat pada mata Wira dan dia merasa ada benarnya apa yang di katakan oleh Wira


" gue nggak tahu tapi rasanya itu nggak mungkin karena dia dulu berselingkuh dari gue juga karena butuh uang buat biaya pengobatan ibunya" kata Arif mantap, mencoba membantah apa yang Wira duga

__ADS_1


" dan lu percaya begitu saja?" tanya Wira sambil terkekeh miris dengan kepolosan Arif


" maksud lu dia bohong sama gue tentang penyakit ibunya" kata Arif memastikan, Wira mengangkat kedua bahunya


" bukan hal yang mustahil kan" kata Wira menjeda ucapannya " bang wanita baik itu akan menjaga kehormatannya walaupun sama orang yang sangat dia cintai bukannya mengumbar hawa nafsunya dengan topeng cinta" kata Wira


" tapi tunggu kayaknya bukan hanya masalah anak lu aja yang bikin lu Kayak gini, menurut penerawangan gue lu ada masalah lain" Arif menatap pada Wira di dalam hati bertanya sebenarnya Wira ini santri atau paranormal sih kok bisa tahu, Arif menghela nafas berat sudah tanggung Wira mengetahui semua tentangnya dan sepertinya Wira bisa menyimpan rahasia dan bisa menjadi sahabat yang baik, karena selama ini tak ada yang bisa dia ajak bicara tapi pada Wira dia bisa dengan mudah mengeluarkan semua masalah yang sedang dialaminya akhirnya Arif pun menceritakan tentang mimpinya semalam semuanya sampai dia tanpa sadar menangis dengan wajah sembab karena dia dalam mimpi menangis meraung-raung seperti anak kecil dan dia yakin hal itu bukan hanya mimpi, setelah selesai mengatakan mimpinya semalam tak terasa Arif kembali meneteskan air matanya, Wira menatap iba pada Arif sungguh berat hidup Arif


" Bang menurut gue nih mimpi merupakan suatu pertanda dan sebenarnya ini ada dalam Al-Qur'an dan hadits, yang menolong seseorang dari siksa kubur adalah salah satunya anak yang Sholeh dan Sholihah


Maaf nih bang Abang sering mendoakan almarhumah nggak' kalau habis sholat, atau mungkin almarhumah punya hutang tapi kalau yang ini sepertinya nggak' soalnya minta tolong sama Abang dan mungkin Abang sering bikin dosa, karena yang saya tahu nih bang sebaik apapun amalan orang tua kalau anaknya selalu berbuat dosa otomatis anak sama saja dengan menjerumuskan orang tuanya kedalam siksa dan akan menjerat orang itu supaya tidak jadi masuk surga dan begitu pun sebaliknya amalan anak juga bisa menyelamatkan orang tuanya yang sedang di siksa di neraka, cobalah Abang introspeksi diri Abang, saran gue bang berhenti lah berbuat zinah karena itu mungkin yang sekarang menjerat almarhumah dan bukan tidak mungkin kalau bapak Abang meninggal hal yang sama juga akan terjadi pada beliau, dan satu lagi ada baiknya Abang cari tahu siapa Mona tanpa sepengetahuan dia " kata Wira sambil menepuk bahu Arif " maaf bang kalau kata kata gue menyinggung Abang tapi gue lakuin itu karena gue peduli sama lu, lu udah gue anggap sebagai Abang gue sendiri" kata Wira lagi


" apa gue harus putus dari Mona Wir, karena gue sudah pernah coba menghindar tapi tetep gue nggak bisa menolak Mona, gue laki laki biasa Wir, yang punya hasrat " kata Arif


" kalau itu yang terbaik kenapa nggak, tapi ada baiknya lu cari tahu dulu siapa dia karena lu bisa juga bisa punya alibi yang kuat buat ninggalin dia tapi kalau bisa lu ajak kejalan yang baik dan saran gue sekarang sholat, sholat taubat dan sholat malam juga Dhuha insyaallah itu bisa melindungi kita dari dosa" kata Wira


" tapi dosa gue sudah terlalu banyak bahkan gue pun sampai nggak bisa maafin diri gue sendiri" kata Arif lagi

__ADS_1


" Bang Allah itu lautan maaf sebesar apapun dosa kita kalau kita mau bertaubat Insyaallah Allah akan memaafkan semuanya asal kita taubat beneran bukannya tobat sambel" kata Wira lagi " yuk sekarang kita awali dengan sholat Dzuhur nggak baik mengakhirkan shalat, ayo berjamaah, taubat itu jangan di tunda tunda ayok " kata Wira sambil menarik tangan Arif, Arif masih belum beranjak dia menatap pada Wira " Bismillah bang katanya mau berubah minta ampun sama Allah dan doakan almarhumah ayok bareng" kata Wira dan akhirnya Arif pun mengikuti Wira


" nggak usah di gandeng juga kali Wir" kata Arif sambil terkekeh dan mereka pun tertawa sambil berjalan menuju mushola Hotel.


__ADS_2