Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
bab 17


__ADS_3

Bu Diah sudah dipindahkan keruang rawat tinggal menunggu sadar kondisinya sudah stabil.


tok tok tok


suara ketukan pintu sonten membuat mere yang menunggu mengalihkan pandangannya kearah pintu


" masuk... " jawab pa Agus


tak lama pintupin dibuka dari luar mereka masih menunggu siapa yang akan masuk masuklah seorang wanita berambut panjang berwajah manis. Mira yang baru keluar dari kamar mandi menoleh kearah pintu


" Ana...." sambil berlari dan langsung memeluk perempuan itu dan mereka pun saling berpelukan melupakan orang disekitarnya yang memperhatikan mereka.


" gue kangen mir,kangen banget, apalagi sama masakan Lo yang gurih gurih nyoy" ternyata an yang datang sahabat Mira adiknya dokter Andi


" jadi... Lo cuma kangen sama masakan gue, terus sama gue Lo nggak kangen hah, dasar sahabat gak punya akhlak Lo" kata Mira merajuk sambil memajukan bibirnya


" ulu ulu ulu markonah marah " kata ana sambil tertawa


" eh Saodah Lo tuh datang cuma bilang masakan gue doang, siapa yang nggak marah coba" mereka pun tertawa lepas sambil kembali berpelukan semua yang ada di dalam ruangan itu cuma melongo yang baru melihat Mira tertawa sedemikan lepas dan begitu ceria selama ini Mira yang mereka tau ana yang kalem


" udah udah awas ini sultan mau lewat jangan ngalangin jalan," tak lama dokter Andi masuk sambil mendorong mereka berdua yang sedang asik berpelukan melepas rindu

__ADS_1


" kakaaaaaak..." kata mereka nerdi bersamaan sambil langsung menghujani Andi dengan cubitan dan pukulan di dada dan pinggang lelaki itu


" lagian udah pada tua juga masih aja kayak bocah" kata Andi cuek


" eh siapa yang kakak bilang tua kita tuh wanita terimut abad ini tau nggak" kata Mira sambil bertolak pinggang


" dan apa tadi katanya tua nah dia sendiri udah bangkotan lapuk lagi" sambung ana, sekarang giliran abdi yang manyun ana dan Mira tertawa puas


" eh denger ya lapuk lapuk gini laku keras dipasaran lokal dan internasional ya" kata Andi sambil menepuk dada sombong


" PD nya nggak hilang dia Odah?" emang itu panggilan kesayangan mereka markonah dan Saodah.


" oh ternyata perasaan mereka cuma mereka bertiga yang ada di ruangan ini kita mah cuma patung yang nggak di anggap" sindir Ridwan sambil tersenyum


" eh bang Ridwan kok disini?" kata Ana


" dia kan suami adik ipar gue na" Mira yang jawab " emang Lo kenal sama Ridwan"


" ya kenal lah dia kan dulu sering minta makan dirumah" kata Ana sambil tersenyum jail


" eh enak aja bocah

__ADS_1


gue tuh bukanya minta mkn tapi gue mah dipaksa sama om dan Tante lagian rezeki mah gak boleh di tolak pamali" kata Ridwan cuek


" eh tadi Lo bilang bang Ridwan suami adik ipar Lo? Lo udah nikah?" tanya Ana mengalihkan pandangannya pada Mira


" iya sorry gue lupa belum kenalin" kata ana sambil nyengir kalau menghampiri Arif dana bapa yang dari tadi hanya memperhatikan interaksi mereka yang seru " ini suami gue namanya Arif" dan Mira dan Arif pun berjabat tangan " dan ini mertua gue" katanya pada pa agus" yang dari tadi hanya tersenyum melihat menantunya yang terlihat sangat bahagia,


" assalamualaikum om, maaf dari tadi baru nyapa" kata Ana sambil nyengir malu lalu menyalimi tangan agus


" nggak apa-apa nak, om ngerti kok kalian sudah lama tidak bertemu" kata pai Agus


"dan itu ibu mertua gue" lanjut Mira menunjuk Bu Diah yang masih belum siuman


" oh yang pasien kak Andi kan"


" eh bocah Lo tuh jangan ngoceh Mulu itu si Mira di ajak makan dulu soalnya dari tadi belum makan" sela Ridwan


" oh iya gue lupa gue janji mau ngajak kalian makan kesini tuh" kata ana sambil nyengir


" ya sudah kalian aja yang pergi biar bapak disini nungguin mama kalian" kata pa Agus pada mereka semua


"nggak apa-apa pak biar aku temani disini" kata Arif yang sepertinya canggung

__ADS_1


" udah ayok kita sama sama aja biar bapaknya disini, nanti kalau pasien udah siuman panggil perawat ya pak" pesan Andi pada pak agus.


dan akhirnya mereka pun berangkat untuk makan.


__ADS_2