Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 75


__ADS_3

Arif setelah pulang dari pemakaman dia masuk kerumah lamanya dengan Mira dulu disana masih terpajang Poto pernikahannya dengan Mira,foto mereka bertiga setelah adanya syifa, foto Mira sedang tersenyum manis dengan hijab yang melakat menutupi rambutnya yang indah dan hanya dirinya yang bisa melihat rambut itu, Arif mengusap foto itu dengan senyum Dan air mata tak terasa sudah menetes di pipi


" maaf..." hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, tatapan Arif beralih pada foto keluarga besar mereka ada Bu Diah, pak Agus, Susi, Ridwan, dirinya, Mira Syifa dan Rayhan di foto itu terlihat senyum bahagia dari semuanya foto itu di ambil saat lebaran kemarin, Arif mengambil foto itu dan duduk di kursi dan memeluk foto itu dan air matanya mengalir begitu deras dalam kesendirian dia sadar di telah menyebabkan rasa sakit semua orang yang ada di sekeliling nya terutama ibunya dan Mira dan Syifa adalah korban keegoisan nya, di menyalahkan diri atas kepergian ibunya, lalu saja dia tak mementingkan rasa yang entah namanya cinta atau nafsu dengan Mona mungkin keluarganya masih utuh dan bahagia, kalau saja dia tidak ngotot untuk menyuruh ibunya pindah rumah sakit ibunya tidak akan ngedrop sampai merenggut nyawanya, semuanya karenya itu yang ada di otaknya, di menangis sejadi jadinya di menyesali sampai nafas terakhir ibunya pun dia tak berada disampingnya dia malah sedang mereguk nikmatnya dosa alangkah kotornya dirinya, masihkah ibunya memaafkan semua kesalahannya yang begitu sangat besar.


Arif meringkuk di kursi sambil terus memeluk foto keluarga besarnya sambil menangis, Arif bahkan tak menyadari kalau Susi masuk dengan membawa makanan dinampan dan melihat pemandangan itu Susi tak ayal diapun ikut sedih dia tahu Arif juga adalah korban dari kejahatan Ivan yang ingin memisahkan Mira dan Arif melalui Mona entah kenapa Susi pun tak tahu apa yang menyebabkan Ivan ingin sekali menghancurkan kehidupan Ridwan cs, entah apa yang telah mereka perbuat dulu sehingga Ivan begitu membenci mereka, sampai semua orang yang ada sekitar mereka harus terseret kedalam lingkaran dendam ivan,


Susi juga yakin kalau Mira juga sebenarnya tak bersalah dia juga sepertinya menjadi korban karena Mira adalah adik Farhan, meskipun dulu Susi sempat tidak menyukai Mira Karena Susi merasa orang tuanya lebih menyayangi Mira, tapi setelah tahu pantas orang tuanya begitu menyayangi mira, Mira memiliki cita dan ketulusan terhadap keluarganya, dia rela berkorban tenaga, harta dan giliran untuk membantu dan merawat ibunya yang sakit sedang dirinya boro boro ngerawat menjenguk pun enggan karena rasa iri yang da di hatinya kini Susi sadar itu, Susi merasa sudah terlalu banyak Ivan menyeret orang yang tidak bersalah dan bukanya hal yang tidak mungkin akan bermunculan korban korban baru, Susi merasa dia harus bangkit dan menyadarkan mereka dan dia harus berani dia jangan takut karena mungkin dia bisa menjadi kunci, di akan coba dari Arif, Susi merasa harus bangkit. untuk memutuskan rantai dendam ivan, Susi sudah tak peduli lagi kalau Ridwan harus tahu kalau Rayhan bukan darah dagingnya dia nggak peduli kalau video itu tersebar kemana-mana walupun dia harus kehilangan nyawa pun di akan rela.


Susi berjalan menghampiri Arif yang meringkuk sambil memeluk sebuah foto


" bang, Abang jangan begini Abang harus kuat Abang harus jadi pelindung buat bapak sama aku kalau Abang lemah kayak gini siapa yang akan melindungi kami" Susi memeluk Kakak satu-satunya, Arif mengangkat kepalanya untuk mengetahui siapa yang datang walau di sudah tahu betul siapa itu, setelah tahu dan melihat Susi yang datang Arif tersenyum dipaksakan.


" Abang nggak apa-apa kok Abang baik, cuma beri waktu Abang untuk menyadari semua kesalahan Abang walau sudah terlambat" kata Arif sambil menerawang kedepan tatapannya kosong lalu menghela nafas panjang.

__ADS_1


" ok asal Abang makan dulu ya aku nggak mau ya ngerawat duda bangkotan yang nadanya aja Segede gajah" kata Susi mencoba cara itu biasanya berhasil, Arif terkekeh mendengar level duda yang diberikan Susi sambil menepuk puncak kepala Susi dengan sayang.


" Ya sudah sini mana makanannya" kata arif, mendengar itu Susi langsung bangkit dan mengambil makanan yang tadi di bawanya pada Arif, akhirnya Arif makan dengan tenang. Susi tersenyum melihat Arif yang makan, Susi melihat kondisi Arif yang sangat memperhatikan, sepertinya Susi harus mengukur waktu dulu untuk berbicara tentang Mona yang memeperalat Arif, mungkin nanti setelah dia agak lebih tenang karena melihat kondis Arif yang sedang terpuruk, tapi dia harus segera memberi tahu Ridwan tapi bagai mana caranya Mona bingung dia yakin ponselnya di bajak oleh Ivan atau Riky dan Susi yakin gerak geriknya di awasi oleh mereka, Susi harus main cantik untuk mengelabui mereka dan itu yang sedang Susi pikirkan bagai mana cara memeberi tahu Ridwan karena hanya Ridwan yang paling berpotensi untuk menolongnya, terutama keselamatan Rayhan.


Arif sudah menyelesaikan makannya Rayhan sedang main dengan Dewi pengasuhnya, Arif dan Susi duduk di ruang tv rumah ridwan,


" dek, bagai mana keadaan bapak?" Arif mulai bertanya tentang ayahnya karena setelah selesai pemakaman Ridwan belum berani menemui pak Agus dia sangat merasa berdosa.


" abang jahat banget ya dek?" kata Arif sambil tersenyum kecut dengan mata menerawang, menatap kosong " Abang sudah buat mama bapak, Mira Syifa sedih dan yang lebih parah Abang sampai membuat mama meninggal dan kamu tahu waktu mama meninggal Abang sedang apa?" katanya, Susi menghela nafas panjang dan mengangguk


" aku tahu bahkan semua orang tahu apa yang sudah Abang lakukan waktu itu karena semua orang yang sudah dewasa mengerti dan dapat melihat bagaimana penampilan Abang" kata sus, Arif yang mendengar itu tertawa miris bahkan semua orang mengetahui betapa bejatnya kelakuannya. Ridwan mengangguk mendengar pertanyaan Susi "bang, emang Abang sangat mencintai Mona ya, sampai Abang melakukan hal yang seperti itu" kata Susi hati hati dia tahu Arif saat ini sangat sensitif dan rapuh.


" Abang nggak tahu rasa ini masih murni cinta atau hanya nafsu belaka,?" katanya " karena setiap kali Abang bertemu dengannya dosa itu pasti terulang dan mungkin karena itu bapa sama mama sangat tidak menyukai bahkan sangat membenci Mona" katanya sambil kembali menangis, Susi yang melihat itu tidak tega

__ADS_1


" ya sudah gini saja sekarang Abang sekarang bersih bersih sholat minta ampun sama Allah, doain mama tenangkan diri Abang dulu, dan pelan pelan Abang bicara sama bapak, mungkin itu akan lebih membuat Abang lebih tenang kembalilah menjadi kakakku yang hebat." kata Susi


" apa Allah sama Abang mau menerima maaf Abang?" katanya sambil tertawa miris mengingat dosanya yang sudah sangat menumpuk


" Abang pernah dengar kalau Allah itu maha pengampun dosa umatnya yang mau bertaubat? maka bertaubatlah insyaallah Allah mengampuni" kata Susi menyemangati


" akan Abang coba, terimakasih kamu sudah mengingatkan Abang" katanya sambil mengelus sayang rambut adik semata wayangnya itu.


" ya sudah aku mau lihat Rayhan dan bapak dulu ya" kata Susi


" ya sudah pergilah"


" Abang jangan ngelmun lagi, Abang harus mandi, bau" kata Susi sambil memencet hidungnya dan berlari menjuh, Arif hanya tertawa melihat kelakuan adiknya.

__ADS_1


__ADS_2