Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 89


__ADS_3

Ridwan di seret keluar dari rumah Arif dan masuk kerumah pak Agus tapi Ridwan meronta


" lu mau Dien nggak? kalau nggak gua bius nih mau lu?" teriak Andi


" Lu jangan gegabah wan kita ini sedang dalam mosi, kalau nggak rencana kita akan kacau balau ya nggak lu" sambung Reynand


" kita tahu lu kesel, marah, kecewa semua campur aduk dalam diri lu tapi lu harus ngontrol diri lu sendiri" kata Budi sambil memegang bahu Ridwan" satu lagi ini kampung bukan di kota, nama baik mertua lu bakalan hancur, sudahlah sama kelakuan Arif lu mau ikut ikutan " kata Farhan, Ridwan tertunduk dengan nafas yang masih belum teratur.


" inget Wan, misi kita ini buat kehidupan keluarga lu dan kita semua lu tahan dulu sampai semuanya selesai" kata Reynand, diantara semua memang Reynand lah yang paling bisa mengontrol emosi karena memang jiwanya sudah terlatih untuk itu sebagai seorang polisi,


" gue marah, lu tau nggak dari kemaren sore bapak nggak mau makan semaleman dia nggak tidur mimikirin tuh bajingan tapi dengan tak tahu malunya bawa tuh cewek j***ng kerumah tanpa dia peduli dengan perasaan kita, kalian tahu semaleman bini gue nangis cuma karena dia " kata Ridwan menunjuk kearah luar katanya dengan rahang mengetat, muka dan mata memerah menahan amarah


" lu jangan kepancing lu tahu ini yang mereka mau lu marah dan melakukan hal-hal yang tidak baik dan dia akan dengan mudah ngancurin lu" kata Reynand lagi


" lu pikirin buat apa dia, menjebak Arif kalau buat ngehancurin lu melalui orang orang terdekat lu, dan yang dia mau adalah lu bertengkar dan lu jauh sama orang orang disekitar lu, salah satunya melalui Arif, sampai sini lu ngerti?" jelas Reynand panjang lebar dan diangguki semuanya


" dan lu Si, kita butuh banget bantuan lu tolong kontrol Ridwan dan bapak, lu harus jadi peredam buat mereka dan untuk masalah Arif sepertinya sudah tak dapat kita pertahankan, dia sudah memilih jalannya sendiri, lu harus jadi mood Buster buat Ridwan dan bapak" kata Reynand lagi, Susi mengangguk mengerti


" lu pasti bisa, selama ini lu bisa bertahan dengan tekanan mereka dan sekarang bukan merupakan hal yang berat buat lu, you a strong woman ok" kata Mira, Susi mengerti


" terimakasih kalian sudah menerima ku dan percaya sama aku, aku akan berusaha menjaga kepercayaan kalian" kata Susi mantap dengan mata berkaca kaca.


" mulai sekarang kita satu satu sakit yang lain jadi obat dan penguat" kata Ana


" lu nggak salah na, bukannya satu sakit yang lain ikut sakit itu yang bener" kata Farhan dengan dahi berkerut .

__ADS_1


" Abang ku sayang, kalau Abang sakit terus kita ikutan sakit hancur dong kita secara orang sakit kan lemah" kata Ana menjelaskan


" iya gue setuju tuh" kata Vita dan Mira sambil bertos ala ala Mereka yang kata Budi mah alay,Budi dan sahabat sahabatnya memutar bola mata mereka sebal melihat kelakuan mereka


" ayo Si lu harus ikutan kita biar kompak lu kan udah resmi jadi anggota kita" tarik Vita pada Susi


" aduh jangan deh sayang, ntar kamu ikutan sengklek kaya mereka" sergah Ridwan, Susi tersenyum penuh arti pada Ridwan tapi sambil bergabung dengan Ana, Mira dan Vita.


" hancurlah kita, tiga aja udah membuat jengah apalagi ini nambah satu" kata Reynand sambil menepuk dahinya, Reynand belum sadar ada sepasang mata menatap tajam mengancam,


" He he sayang, ngga deh aku kan cuma bercanda itu semua gara gara Abang kamu aja" katanya mendekati Mira


" hajar mir emang dia nggak suka lihat kalian senang" kata Andi memprovokasi


" kemarin aja ngajak aku ngajak ke warung si seksi mir" tambahnya lagi


" AW sakit bego" katanya sambil mengusap kakinya yang ditendang Reynand


" yu ah mending kita tinggalin Mereka" kata Vita


" kita makan bakso yuk, bakso bapaknya si Yuni mantap tuh " kata Mira


" iya bener enak itu" timpal Susi


" bunda Ifa ikut" kata Syifa

__ADS_1


" ley Juda" dua anak itu sambil berlari mengejar ibu mereka


" sayang bukusin buat kita" teriak Reynand dan hanya di jawab dengan acungan jempol oleh Mira.


Di rumah Arif, sepeninggalnya Ridwan dan temannya Arif merebahkan tubuhnya di tempat tidur, pintu kembali terbuka dan ternyata Susi


" tega kamu bang, aku kecewa sama Abang, mulai sekarang jangan temui aku sama bapak, anggap kami sudah mati dan yang ada di hidup Abang hanya ada Mona," kata Susi sambil berbalik " dan satu lagi bapak akan aku bawa, hiduplah bersama Mona dan semoga Abang bahagia, walaupun itu akan mustahil Abang akan merasa bahagia" sambung Susi sambil berjalan keluar meninggalkan Arif yang duduk mematung mendengar ucapan Susi bagaikan petir di tengah teriknya matahari, hatinya hancur dia ditinggalkan orang orang yang selama ini sangat menyayanginya, tapi Arif telah menorehkan luka yang begitu dalam dan menyakitkan bagi mereka, Arif menangis dia sangat menyesali perbuatannya tapi sekarang sudah terlambat tak akan da lagi pintu maaf buatnya dari adik dan ayahnya.


Pintu kamar terbuka dan menampilkan Mona


" Sayang kamu kenapa? mereka menyakiti kamu, dasar manusia munafik semua, mukanya saja seperti pada baik nggak tahunya pencitraan doang" omel Mona muali memanas manasi Arif, " Susi juga sepertinya sudah terpengaruh oleh mereka ikut ikutan memusuhi kamu, memang hanya aku yang paling peduli sama kamu, se..." ucapan Mona terpotong oleh Arif


" tinggalin aku sendiri, aku mau sendiri dulu, tolong jangan ganggu aku dulu" katanya dengan posisi tak berubah dan tak menoleh sedikit pun


" tapi sa..."


" aku bilang tinggalin aku sendiri, keluar Mona dan tolong tutup pintunya" kata Arif dengan kata kata yang di tekankan


" tap..." Mona masih mau mencoba


" keluar Mona" teriak Arif menggelegar seisi kamar, Mona kaget an berangsur turun dari tempat tidur


" ok aku keluar, kalau perlu apa apa aku ada di ruang tengah, aku akan selalu ada buat kamu" katanya sambil berjalan keluar dari kamar sambil menutup pintu pelan tak menimbulkan suara, Arif tak menjawab ucapan Mona dia tak peduli apapun dia hanya ingin meratapi penyesalannya dia merasa orang yang paling jahat di dunia ini, dia anak yang paling durhaka, kakak yang paling tidak bisa menjaga dan membahagiakan adiknya sendiri, terlebih dia adalah seorang ayah yang tidak bermoral buat anaknya, dia rasa tidak akan ada lagi pintu maaf terbuka untuknya walupun hanya sedikit celah.


Acara tahlilan dan peringatan tujuh hari meninggalnya Bu Diah telah selesai dan malam itu juga mereka langsung kembali ke Jakarta dengan pa Agus yang juga ikut bersama Susi dan Ridwan yang pada awalnya pak Agus ingin tetap tinggal di desa tapi Susi dan Ridwan melakukan berbagai macam cara agar pak Agus mau ikut dengan mereka, dan juga teman teman Ridwan meyakinkannya untuk ikut ke Jakarta, karena mereka takut terjadi apa-apa dengan pak Agus kalau hanya sendiri, rumah dan sawah pak Agus akan di urus oleh orang tua Yuni, dan pak Agus juga berfikir memang ada baiknya dia ikut ke Jakarta tak ada lagi yang diharapkan, Arif yang di harapkan bisa menjaga dan menemaninya sekarang bukan lagi Arif yang bisa diandalkan.

__ADS_1


Pa Agus berjalan keluar dari rumah, dan sebelum masuk mobil pak Agus menatap sebentar kearah rumah Arif dan menghela nafas berat, tak terasa air matanya menetes dan dengan segera sekanya agar tak ada yang melihat air matanya, dan masuk kedalam mobil, setelah semuanya siap mobil mobil mewah itu pun perlahan meninggalkan perkampungan.


__ADS_2