Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
bab 13


__ADS_3

sesampainya Ridwan di rumah sakit dia tidak langsung menemui keruangan Bu Diah diwata di mendatangi ruang administrasi untuk menanyakan biaya operasi dan pengobatan budiah sudah dibayar apa belum


" maaf mbak" kata Ridwan kepada petugas bagian administrasi rumah sakit


" iya pak, ada yang bisa saya bantu?" jawab petugas itu sopan


" begini mbak saya mau tanya atas nama pasien ibu Diah pasien operasi kanker payu**** untuk biaya nya sudah dibayar apa belum?"


" sebentar ya pak saya cek dulu" kata perawat itu sambil mengutak Atik komputer yang ada di depannya " oh baru sebagian pa belum di lunasi semuanya" kata perawat itu kepada Ridwan


" oh ya sudah saya lunasi semuanya, sekalian tolong ruang perawatan nya di pindahkan ke ruang VIP saja ya mbak!" kata Ridwan sambil menyerahkan sebuah kartu debit kepada petugas itu. Ridwan merasa iba kepada keluarga istrinya yang harus dirawat di ruang umum dengan penyakit yang bisa dikatakan parah, istrinya itu memang keterlaluan.


" baik pak" kata perawat itu singkat


setelah selesai dengan biaya administrasi rumah sakit Bu Diah Ridwan menuju ruang perawatan Bu Diah.

__ADS_1


" assalamualaikum..." ucapnya sambil menghampiri ranjang perawatan Bu Diah dan nampak Mira yang duduk di bawah ranjang dengan karpet yang di gelar, sedangkan Bu Diah nampak sudah terlelap dengan jarum infus ditangannya tampak di keningnya bulir keringat sepertinya kepanasan karena tidak ada AC tidak ada kenyamanan. Mira yang belum menyadari kedatangan Ridwan sedang membaca Alquran dengan suara pelan karena takut mengganggu pasien lain,


" sungguh wanita yang Sholehah kamu mir, sifat kamu sangat bertolak belakang dengan susi, " gumam Ridwan dia membandingkan sifat Mira dan susi, memang sejak awal semenjak dia menikah dengan Susi Ridwan belum pernah melihat Susi mengaji, sifatnya yang keras tidak pernah mau dinasehati.


" Mir,..." sapa Ridwan dengan lembut. Mira mengangkat kepalanya demi melihat siapa yang menyapanya kemudian dia mencium lalu menutup Al-Qur'an yang tadi di bacanya.


"wan kok kamu balik lagi? ada yang ketinggalan?"dengan raut heran karena Ridwan tadi tidak mengatakan akan ikut menemani mereka menunggui Bu Diah.


" nggak, aku mau ikut nemenin kalian disini sebagai penebus yang kemarin kemarin belum pernah ikut merawat ibu, maaf ya mir aku baru bisa sekarang" kata Ridwan sambil menunduk dan mengusap tengkuknya dengan raut penuh penyesalan.


" makasih ya, oh ya bapa sama bang Arif kemana kok nggak ada?" kata Ridwan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.


" bapa sama bang Arif sholat di masjid rumah sakit tadi," jawab Mira


oh ya udah ini aku bawa makanan dan ini ada bakso kesukaan kamu kan," kata Ridwan, dia ingat kalau Mira suka makan baso kalau keluarga mereka sedang ngumpul

__ADS_1


" ah, kamu tau aja aku suka baso, pedes kan?" tanyanya sambil mengambil kantong berisi baso dan makanan lainnya dari tangan Ridwan


" itu ada sambel sama saus kecapnya di pisah" jawab Ridwan sambil tersenyum merasa lucu dengan ekspresi Mira yang seperti menerima hadiah berlian padahal cuma baso " padahal cuma baso mir, sederhana sekali bikin kamu bahagia" gumam Ridwan dalam hati. tak lama terlihat Arif dan pak Agus masuk ruangan di susul di belakang ada blankar dan beberapa perawat


" eh wan kok kamu disini sudah lama " kata bapa heran dengan adanya Ridwan


" iya pa Ridwan katanya mau ikut nunggu mama katanya pa" kata Mira yang menjawab pertanyaan mertuanya.


" maaf ibu bapa kami akan memindahkan pasien keruang VIP" kata perawat itu.


" eh kok dipindah" kata Mira bingung bapa dan Arif pun tak kalah bingung


" sudah jangan di pikirin, aku yang minta ruangan ibu di pindah biar ibu sama yang nunggu juga nyaman, ya walaupun tak akan senyaman rumah" kata Ridwan nyengir


" tapi wan kan mahal" kata bapak sambil menunduk

__ADS_1


" sudah gak usah dipikirin masalah biaya" kata Ridwan, akhirnya nya Bu Diah pun dipindahkan keruang VIP.


__ADS_2