Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 105


__ADS_3

Arif sedang ngobrol di taman belakang sambil menunggu Farhan dan Budi yang belum pulang dari kantor karena ada meeting penting dan Bu Asih meminta Arif untuk makan malam bersama dulu tapi mereka harus menunggu Farhan dan Budi pulang


" Rif, gimana kerjaan lu lancar?" tanya Reynand membuka percakapan


" Alhamdulillah sejauh lancar lancar saja" kata Arif sambil memandang kolam renang yang ada di hadapan mereka " kerjaan lu gimana sedang nanganin kasus apa sekarang ?" Tanya balik Arif


" ya gue sekarang lagi pegang kasus lumayan pelik sih soalnya masih teka teki siapa dalang di balik semuanya dan apa motif nya" kata Reynand dia tak mungkin mengatakan secara detail soalnya itu sangat rahasia


" oh gue doain kasus lu cepat kelar dan berhasil" kata Arif dia tak mau bertanya lebih jauh soal kasus yang ditangani Reynand sebab dia tahu itu rahasia kepolisian yang tak akan diumbar ke orang luar, tiba tiba terdengar suara orang yang bertanya


" Rey lu tadi siang di tanyain bang Indra" kata Farhan belum menyadari kalau disana Reynand tidak sendiri karena posisi duduk Arif terhalang tiang gazebo yang mereka tempati


" udah gue tadi ketemu" kata Reynand singkat sambil memeberi isyarat agar Farhan tak lagi bicara soal itu, Farhan mengerti dan memicingkan matanya untuk melihat siapa orang yang bersama Reynand


" Rey gue telepon dari tadi lu kagak angkat" terdengar suara Budi


" sorry tadi gue tadi lagi meeting " kata Reynand, Farhan memberi isyarat agar Budi diam dan mereka berjalan menghampiri Reynand, dan setelah tahu siapa orang yang duduk bersama Reynand


" Eh Rif, lu disini? udah lama?" tanya Budi sambil bersalaman dan bergantian dengan Farhan


" dari jam limaan kayaknya" jawab Arif "kalian baru pulang ?" sambung nya lagi


" iya baru saja" kata Farhan memang Budi dan Farhan masih memakai kemeja kerja mereka tapi sudah menanggalkan dasi dan jas mereka


" eh ****** lu belum pada mandi? mandi sana" tanya Reynand sambil menatap jijik pada Farhan dan Budi

__ADS_1


" tar aja tanggung" jawab Budi cuek


" iya lagian badan kita mah wangi" kata Farhan sambil mendekatkan ketiaknya pada Reynand


" iiih najis jorok lu pada" kata Reynand sambil menggeser duduknya menjauh dari Farhan da Budi


" lu mau ngajak nginep Syifa ya?" tanya Budi


"Iya, tapi ibu minta kita makan dulu" kata Arif


" oh ya udah, tapi kita minta lu jangan sampai ngajak ketemuan sama si Mona kalau lagi sama Syifa, kasihan mentalnya belum stabil, dan jauhkan juga dari pisau " pesan Budi, Arung mengerutkan keningnya tambah tak mengerti dengan mereka kenapa mereka sebegitu takutnya kalau Syifa ketemu dengan Mona


" boleh gue tahu, sebenarnya dari kemaren gue penasaran banget sebenarnya ada apa sama Syifa dan Mona, sampai sebegitu takutnya kalian, kalau mereka bertemu" Reynand, Farhan dan Budi saling tatap dan mereka pun mengangguk, lalu menghela nafas berat, lalu Farhan tanpa mengatakan apapun mengeluarkan ponselnya seperti sedang mencari sesuatu,


" apa ini?" tanya nya


" lu lihat aja, kali aja setelah melihat itu lu sadar siapa Mona" kata Budi , Arif meraih ponsel Farhan dan menekan tombolnya untuk memulai rekaman itu, mata Arif seakan mau loncat melihat apa yang terjadi pada rekaman itu, mulutnya terbuka tubuhnya bergetar dengan muka memerah, melihat Mona yang mengancam Syifa dan Rayhan yang di ancam Mona memakai pisau dengan posisi dua anak itu duduk di lantai pojokan dapur, mereka menangis sambil berpelukan sangat miris melihat dua kondisi dua anak itu saat mereka di peluk orang tuanya, rekaman itu sudah selesai tapi Arif masih mematung, dadanya bagai dihantam batu yang sangat besar menyaksikan anak dan ponakannya diperlakukan sama orang yang dia cintai, wajahnya memerah, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal sampai buku bukunya memutih, Budi mengelus punggung Arif yang masih tampak syok setelah melihat hal itu


" Lu tau kondisi dua anak itu saat kami temukan mereka tampak depresi tak bisa di tanya mereka sampai demam bahkan sehari setelah kejadian itu mereka di rawat dan ditangani oleh psikolog, dan sampai saat ini mereka akan takut kalau bertemu Mona atau melihat pisau mereka akan histeris" kata Reynand sambil menepuk pundak Arif pelan, hati Arif begitu sakit nafasnya terasa sesak mendapati kenyataan tentang anak semata wayangnya


" kenapa kalian baru mengatakan sekarang?" kata Arif dengan mata yang sudah basah oleh Air mata


" kita mau ngomong sama lu gimana caranya, sedang ponsel lu aja nggak bisa di hubungi, kan baru kemaren lu ngasih no ponsel lu sama gue" jelas Reynand, memang saat itu ponselnya hancur di banting dan kartu nya pun tak bisa ditemukan entah kemana makanya dia ganti ponsel dan nomor baru


" gue memang ganti ponsel dan nomor lama gue hilang entah kemana waktu masih di kampung" jelas Arif

__ADS_1


" setelah melihat rekaman itu terserah mau nilai kita bagaimana, " kata Farhan


" gue sungguh ayah yang tidak berguna" kata Arif sambil menunduk lemah


" lu masih bisa memperbaiki semuanya dengan membantu kami. kalau lu sayang sama Syifa" kata Reynand


" Rey..." peringat Farhan pada Reynand


" gue sudah membicarakan hal ini sama om Indra dan memang Arif harus tahu karena dia melakukan itu bukan hanya demi Syifa tapi juga demi Susi, Rayhan dan Ridwan mereka adalah keluarganya" kata Reynand, dan Akhirnya mereka pun menceritakan semuanya tentang Susi Ridwan dan Rayhan dan hubungannya dengan Ivan dan Mona, dan semuanya mereka ceritakan bersama pada Arif bukan hanya murah dia menangis' tanpa malu merasa dirinya adalah orang yang paling tidak berguna telah membiarkan semuanya terjadi. setelah Arif terlihat lebih tenang


" lu masih sama si Mona itu" tanya Reynand sambil melirik dengan ujung matanya kearah Arif, Arif menghela nafas panjang menenangkan hati dan tubuhnya, dia mengangguk lemah nafasnya seakan tercekat di tenggorokan, rasa cinta untuk Mona menguap begitu saja terganti oleh rasa kecewa dan benci.


" Rif, lu mau batu kita kan? ini bukan hanya demi Syifa tapi juga demi Susi, Ridwan dan Rayhan juga, " Reynand menatap pada pada Arif


" gue akan ngelakuin apapun buat mereka, buat keluarga gue walaupun gue harus kehilangan nyawa gue, gue akan menebus semua kesalahan gue sama mereka terutama sama bapa" katanya dengan air mata yang kembali menetes


" begini lu bisa pura pura nggak tahu apa apa tentang semuanya di depan Mona bahkan semuanya untuk meminimalisir kebocoran informasi kecuali mungkin sama Kita, mungkin nabati kita akan mengatakan ini sama yang lain tapi lu nggak akan kita ajak untuk kumpul karena itu tadi lu fokus gali informasi dari Mona secara perlahan tapi pasti, lu bisa kan" kata Reynand mengutarakan rencananya, Arif mengannguk setuju


" gue akan berusaha, sebiasa mungkin supaya Mona tidak curiga, tapi gue nggak yakin setelah tahu semuanya gue rasanya ingin membunuhnya " kata Arif sambil mengepalkan tangannya


" lu harus bisa, kita yakin lu bisa" kata Farhan sambil menepuk pundak Arif


" demi mereka hanya lu yang bisa masuk dalam kehidupan mereka" tambah Budi


" bismillah gue akan berusaha " kata Arif mantap dia sudah bulat untuk melakukan semuanya demi mereka.

__ADS_1


__ADS_2