Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 85


__ADS_3

Di rumah


Sebentar lagi adzan magrib berkumandang pak Agus, Ridwan dan Susi dibantu sama Dewi sedang menyiapkan segala sesuatunya buat tahlilan sampai menjelang magrib tiba persiapan selesai, dan sampai sekarang Arif belum juga menampakkan batang hidungnya, mereka sudah harap harap cemas khawatir Arif akan kembali masuk dalam perangkap Mona,


pak Agus hanya tak bersuara selain pada hanya bila di tanya, Mereka tahu pak Agus sedang memendam kekecewaan pada Arif tapi dia berusaha diam Susi tahu betul sifat bapaknya


Susi dan Ridwan sedang berada di kamar Mereka, Ridwan sudah siap berangkat ke masjid dengan baju koko, sarung dan peci yang tampak menambah ketampanannya


" mas bagaimana ini, bang Arif belum juga pulang" kata Susi dengan wajah panik, Ridwan menghela nafas berat dia bingung harus jawab apa " aku takut Abang akan kembali ke dalam perangkap Mona, aku nggak ngerti kenapa Abang jadi lemah begini, aku nggak tega sama bapak kasihan dia sudah tua ditinggal Mama, dan memikirkan anaknya yang seperti Abang" kata Susi sambil mendesah berat " dan aku takut bapak sakit karena terlalu banyak pikiran " kata Susi dengan air mata yang sudah menetes di pipi


" jangan sedih Insyaallah bapak akan baik baik saja, justru kita harus menguatkan bapak agar bapak lebih semangat menjalani semua cobaan ini" kata Ridwan sambil menarik Susi kedalam pelukannya, memberikan ketenangan


" kamu jangan ikut ikutan lemah apalagi sakit siapa yang akan mengurangi kami" kata Ridwan, Ridwan tahu istrinya itu sudah terlalu banyak mendapat tekanan.


" mas boleh nggak kalau bapak aku bawa bersama kita aku nggak akan tega ninggalin bapa sendiri disini dan bang Arif sudah nggak bisa di harapkan, dia sudah terlalu jauh untuk bisa kembali apalagi Mona terus membayangi kehidupan bang Arif" kata Mona


" tentu saja boleh lagian bapak terlihat senang kalau bersama Rey dan lalu bapak bersama kita bapak juga akan dengan mudah bertemu Syifa" kata Ridwan


" bener mas, terimakasih mas" kata Mona sambil mengeratkan pelukannya dengan tangis haru akan ketulusan suaminya yang begitu lapang dada menerimanya dan juga keluarganya.


" kamu jangan merasa sungkan seperti itu orang tua kamu adalah orang tuaku juga, dan bapak sudah menjadi tanggung jawab ku" kata Ridwan sambil mengecup puncak kepala Susi, dan setelah kedatangan Ridwan itu mereka memang sekarang lebih dekat dan rasa saling sayang itu sudah hadir diantara mereka.


" mas bagaimana kalau sampai waktu tahlil tiba Abang belum juga pulang" kata Susi mengangkat kepalanya menatap wajah suaminya


" aku nggak tahu, dan aku rasa bapak tidak akan memaafkan dia, Arif sudah terlalu banyak menorehkan luka buat bapak, kesabaran bapak sepertinya sudah sampai pada titik terakhir buat Arif" kata Ridwan lemah


" aku yang salah karena aku tidak suka dengan Mira sehingga aku mengajak Mona kerumah sakit, kalau saja aku baik pada Mira dan Mona tidak akan kembali masuk kedalam kebidanan abang" kata Susi lagi


" sudah jangan merasa bersalah, mungkin ini sudah jalannya" kata Ridwan lagi " coba kamu telepon lagi dan suruh dia cepat pulang supaya bapak tidak terlalu kecewa" kata Ridwan lagi " kamu di rumah sama Dewi ya aku sama bapak Rey dan bapak mau ke masjid dulu, kita berdoa saja semoga Allah memberinya hidayah, sudah jangan sedih lagi " kata Ridwan pada Susi dan akhirnya mereka pun keluar dari kamar dan disana pak Agus dan Rayhan sudah siap untuk berangkat shalat ke masjid, akhirnya mereka berjalan menuju masjid yang ada di dekat rumah.


Acara tahlilan sudah selesai dan para warga sudah pada pulang dan sampai saat ini Arif belum juga menampakkan batang hidungnya.


" pak bapak makan dulu ya, dari tadi siang bapak belum makan atau bapak mau kita makan diluar semenjak pulang kita bapak belum keluar, sekalian ajak Rey melihat suasana malam di daerah sini" kata Susi membujuk ayahnya yang tampak sangat tidak tertekan

__ADS_1


" tidak usah kalian saja yang pergi, bapak dirumah saja, nanti bapak makan" katanya tidak bersemangat


" iya pak kita makan di warung sate depan yuk pak kayaknya enak tuh makan bareng" ajak Ridwan, pak Agus hanya menggeleng lemah


" bapak mau dirumah saja" pak Agus keukeuh pada pendiriannya


" ya sudah gini saja aku sama Rey kedepan deh nanti kita makan dirumah saja, biar kita makan bareng" kata Ridwan dan memeberi isyarat pada Susi supaya bicara dari hati kehati dengan pak Agus, Ridwan memang ingin sekalian mengecek situasi, soalnya kata orang suruhannya ada beberapa orang asing yang mencurigakan.


Ridwan dan Rayhan berjalan kedepan gang dan dia melihat orang suruhannya sedang berjaga dan memberi isyarat dan Ridwan mengerti itu dia mengangguk pelan dan dia berjalan menuju warung sate yang di maksud.


" eh ada den Ridwan, jajan den " kata pak RT yang sedang jajan juga di warung kopi yang bersebelahan dengan warung sate.


" iya nih pa RT anak sama istri saya mau makan sate katanya, lagi ngopi pak" kata Ridwan mendekat dan duduk di samping pak RT sambil memangku Rayhan.


" papa aku mau itu," tunjuk Rayhan pada jajanan yang da di warung itu


" ya sudah sebentar papa ambilin" kata Ridwan sambil mengambil makanan yang diinginkan Rayhan, dan setelah mendapatkan apa yang dia inginkan Rayhan makan dengan tenang


"Aden mah perhatian sekali sama anaknya" kata pak RT lagi


" yang kita tidak nyangka mah Arif sama Mira bisa bisanya Samapi berpisah, padahalan mah Mira teh anaknya sangat baik dan ramah tapi mereka malah pisah, dan pacarnya Arif itu ya Allah dandanannya meni jiga teu make baju pisan eta budak teh padahal mah geulis di nyanyaah Kitu (dananan pacar Arif sampai seperti nggak pake baju, padahal orang nya cantik sangat disayangkan)" kata pak RT menjeda ucapannya " padahalan mah Arif teh waktu sama neng Mira mah meni Alim tapi sekarang mah kayaknya jadi gaul Jeung NU Kitu tadi juga kemana waktu tahlilan indehoy we kayaknya mah sama eta perempuan seksi" Ridwan menghela nafasnya berat mendengar ucapan pak RT, rupanya warga sudah mengetahui semua tentang Arif


" eh Astaghfirullah puten den, bapak bicara seperti itu, bapak teh jadi " kata pak RT sambil mengusap wajahnya kasar dia kaget dengan ucapannya sendiri


" tidak apa apa pak saya ngerti kok?" kata Ridwan sambil mengulas senyum getir untung mertuanya tidak mendengar hal itu.


" Ari neng Mira sekarang dimana atuh bapak teh kemaren lihat Mira teh waktu hari ibu di kebumikan sajah dan sayah lihat meni makin cantik neng Mira teh," tanya pak RT


" Mira di Jakarta bersama dengan keluarganya" Jawab Ridwan seadanya


" euleuh euleuh atuh neng Mira teh jadi orang Jakarta terus kan keluarganya bukannya orang sinih juga" kata pa RT makin kepo aja ni RT satu


" ibu memang asli dari sini cuma alamrhum ayah orang Jakarta jadi semua anak anaknya juga lahir di Jakarta" jelas Ridwan

__ADS_1


"oh kitu" kata pak RT sepertinya baru mengerti


" bagaimana disini situasi aman" tanya Ridwan mengalihkan pembicaraan


" iya nih sekarang teh jadi banyak orang baru yang bukan orang sinih" kata pak RT


" ya iya atuh pak namanya orang baru ya pasti bukan orang sini" kata Ridwan sambil terkekeh


" eh iya ya" jawab pak RT sambil tertawa


" emang mete ada perlu apa pak" kata Ridwan mencoba menggali informasi


" ada yang ngontrak dan ada juga yang ikut usaha cenah tapi bapak tidak tau usaha naon" jawab pa RT " tapi badan na teh meni balalesar pikasieuneun ( badannya gede gede bikin takut) " tambah pak RT sambil berbisik Ridwan yang mendengar itu menahan tawa lucu dengan pak RT


" pegulat kali pak" kata Ridwan sambil terkekeh


" ini pak sekalian saja mungkin besok akan banyak orang yang datang dari Jakarta sahabat sahabat saya juga Mira akan datang besok" kata Ridwan sekalian minta izin " tapi sepertinya mereka akan menginap dirumah keluarga Mira sih paling disini siangnya sampai menjelang tahlilan" tambah Ridwan


" eh kenapa sahabat Aden jadi nginep di rumah keluarga neng Mira?" tanya pa RT Ridwan tersenyum dengan kebawelan pa RT


" sahabat sahabatnya saya adalah sebagian dua orang nya adalah kakaknya Mira dan lainnya sahabat kami" jelas Ridwan


" oh kitu pantesan atuh Aden teh meni akrab pisan sama neng Mira teh" pak RT tampak berfikir " Ari keluarga neng Mira teh kelihatannya meni kaya pisan kerjanya teh naon atuh da mobilnya teh meni bararagus


" Ayahnya Mira itu seorang pengusaha setelah ayah meninggal usahanya di lanjutkan oleh Farhan dan Budi kakak kakaknya Mira sedang Mira sekarang dia jadi pengacara" Ridwan menjelaskan panjang lebar


" Astaghfirullah neng Mira teh anak orang kaya, tapi dulu hidupnya sederhana pisan dan tidak mewah mewah dia teh ramah w sama warga kampung teh dan tidak sombong dan tidak terlihat seperti orang kaya " kata pa RT


" itulah keluarganya juga sama walaupun mereka hidup bergelimang harta tapi mereka tidak sombong selama orang itu tidak menyakiti mereka tapi kali mereka menyakiti salah satu dari mereka terutama Mira kakak kakaknya akan bertindak " kata Ridwan


Tapi mereka tidak marah nya sama Arif kan Arif menyakiti neng Mira" Mereka masih menghargai saya sama bapak karena bapak sangat menyayangi Mira dan saya adalah sahabat mereka jadi mereka berfikir ulang sehingga Mira hanya minta pisah saja" di tengah obrolan mereka sate pesanan Ridwan sudah jadi


" den ini satenya sudah jadi" kata penjual sate itu ramah

__ADS_1


" oh iya pak " Ridwan menerimanya dan setelah membayar semuanya termasuk makanan dan kopi pak RT , Ridwan pamit kepada semuanya dan mereka pun kembali jalan pulang sambil melihat sekitar.


__ADS_2