Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 107


__ADS_3

Arif membuka pintu dengan wajah dan baju acak acakan, dan ekspresi tak bersemangat


" ya ampun sayang kamu kenapa jadi begini sebenarnya sakit apa?" tanya Mona dengan muka panik dan memeluk Arif yang tak membalas pelukannya tapi tak juga menolak, dalam hati Arif memohon pada Allah agar sandiwaranya tak diketahui Mona, entah kenapa rasa cinta yang Selama ini begitu besar sekarang menguap entah kemana, Arif mengingat rekaman di mana Mona mengancam Sifa dan Rayhan dengan pisau tak terasa air matanya mengalir dan hal itu disadari oleh Mona


" sayang kenapa? apa yang terjadi" dan hal itu menjadi keuntungan tersendiri buat Arif ternyata Allah mendukung sandiwaranya, Arif segera menghapus air matanya dan duduk di sofa dengan lesu


" sayang aku mohon jangan begini, cerita sama aku" kata Mona sambil mengelus rahang Arif, Arif tak menjawab dia hanya menyerahkan Amplop dengan logo rumah sakit dengan nada lemah


" maksudnya apa ini?" tanya Mona tak mengerti


" aku mau tanya sama kamu" kata Arif menjeda ucapannya sambil menatap lekat pada mata Mona " apa kamu mencintai aku?" tanya nya lagi


" kamu ini kenapa sih di tanya apa jawabnya malah apa" kata Mona kesal


" Jawab saja" kata Arif


" ya aku memang mencintai kamu " kata Mona mantap


" kamu tak akan ninggalin walau apapun terjadi sama aku?" tanya Arif sambil menatap lekat pada Mona, jujur Arif mencintai Mona tapi mengingat semua yang sudah Mona lakukan pada keluarganya hatinya begitu sakit


" I iya aku tak akan ninggalin kamu, kamu ini kenapa sih," katanya gugup, Arif tersenyum miris


" ok aku pegang omongan kamu, aku harap setelah kamu baca itu kamu tetap tak akan berubah" kata Arif sambil kembali menyerahkan amplop itu dengan wajah yang di buat mengkhawatirkan, akhirnya Mona meraih amplop itu perlahan dengan tangan gemetar membuka amplop itu dan membaca isinya Arif menunduk lalu menatap Mona lekat, mulutnya terbuka dengan mata melotot tangannya menutup mulutnya yang terbuka lalu mengalihkan pandangan nya kearah wajah Arif yang tampan, Arif sepertinya sedang berusaha menggaruk j****rnya dan wajah memerah seperti menhan sesuatu dan Mona menatap Arif dengan tatapan yang tak bisa diartikan


" se sejak kapan kamu merasakan gejala ini," kata Mona lemah


"sebenarnya udah dari kampung pun aku sudah merasakan itu tapi masih bisa aku tahan" kata Arif menjeda ucapannya " puncaknya kemarin dan tadi pulang kerja aku memberanikan diri untuk periksa dan ternyata hasilnya.." kata kata Arif tak di lanjutkan dia menatap lekat wajah Mona yang datar


" kenapa kamu tidak pernah. ngomong sama aku" tanya Mona dengan

__ADS_1


" aku takut kamu ninggalin aku" kata Arif lemah


" bagaimana kalau aku tertular juga" kata Mona Pias


" maaf " hanya itu yang keluar dari mulut Arif


" bagai mana ini" kata Mona panik


" sebaiknya kamu periksa dulu " saran Arif, sambil menghela nafas berat " kamu nggak bakalan ninggalin aku kan"tanya Arif


Mona tidak menjawab pertanyaan Arif, wajah Mona tampak pias dan mengeluarkan keringat


" sayang, aku mohon jawab aku" kata Arif sambil mengguncangkan bahu Mona, sedang Mona hanya diam " kalau kamu memang mau ninggalin kamu tega sama aku" Mona sama sekali tidak bereaksi dia hanya Diam seperti orang depresi


" aku harus pulang sudah malam " hanya itu yang dia ucapkan sambil berjalan keluar tanpa peduli dengan Arif, Arif hanya tersenyum kecut menatap kepergian Mona


" aku memang bodoh bahkan sangat bodoh telah mencintai kamu" kata Arif hatinya perih melihat wanita yang selama ini dia perjuangkan bahkan dia rela mengorbankan keluarganya tapi dia malah pergi begitu saja.


" ya Allah beri aku kekuatan, buka kalah pintu maaf mu" Arif mengusap kasar wajahnya, dia memang sangat mencintai Mona dia adalah cinta pertama Arif, Mona lah orang pertama yang memasuki kehidupan Arif setelah Mona baru hadirlah Mira, Arif melihat jam sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam dia berjalan gontai menuju kamarnya, dia melihat Syifa yang tidur dengan lelap memeluk boneka kesayangannya yang di belikan oleh Reynand


" maafkan ayah sayang karena kebodohan ayah kamu sampai harus mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang lain yang bahkan dia lebih sayang sama kamu dari pada Ayah, ayah janji akan menebus semua kebodohan ayah," kata Arif sambil mengecup lembut dahi anknya dan tak terasa sebutir air mata jatuh di kening Syifa, Hadi beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya setelahnya lalu melaksanakan sholat isya dia berdoa meminta ampunan atas semua dosa yang telah dia perbuat, nafasnya sesak karena penyesalan dan rasa sakit.


\* \* \* \* \*


Mona melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang, sesampainya di basemen apartment dia memarkirkan mobilnya asal dia menelungkup kan wajahnya di setir mobil, dia memang sangat mencintai Arif, dia lalu turun dan berjalan gontai menuju dan menaiki lift tak dipedulikannya pandangan orang-orang terhadapnya, lalu dia masuk kamar dan memasuki kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dia syok mendengar Arif mempunyai penyakit itu


" kenapa harus kamu, kenapa penyakit itu " dia menangis, jujur Arif adalah satu satunya laki laki yang selalu di cintai walau bukan hanya Arif yang lelaki yang menyentuh tubuhnya tapi cinta dan hatinya hanya sama Arif, susah payah dia mendapatkan cinta Atif, tapi kenapa harus begini


" tunggu kalau Arif mengidap penyakit itu jangan jangan ..." Mona tak melanjutkan ucapannya dia menangis dia memutuskan besok dia harus ke dokter dan semoga saja dia tak tertular.

__ADS_1


Keesokan harinya Mona sudah ada di ruang periksa


" silahkan duduk mbak " sang dokter mempersilahkan Mona " ada keluhan apa"


Mona diam dia ragu untuk mengatakan maksudnya karena menurutnya itu adalah penyakit yang memalukan.


" mbak tidak usah malu" kata dokter wanita itu sambil tersenyum ramah, di mengerti Mona pasti malu karena tidak sedikit orang yang mengalami penyakit itu dan malu menerima nya.


" I itu anu " Mona tergagap, tapi dengan cepat dia menguasai dirinya " begini dok, suami saya, ya suami saya terkena penyakit apa itu namanya saya lupa cuma itu jadi di sekitar kelaminnya mengalami gatal gatal seperti borok gitu" Mona mengatakan Arif sebagai suaminya karena tidak mungkin dia mengatakan kalau dia pacarnya secara kan penyakit itu adalah karena hubungan intim


" oh itu saya mengerti," kata dokter itu mengerti " apa mbaknya merasakan hal yang sama" Mona menggeleng


" apa sudah lama suami mbak mengalami gatal gatal itu?" tanyanya lagi


" katanya sudah sekitar dua bulan yang lalu tapi dia tidak mengatakan pada saya " kata Mona tertunduk


" kalian sering melakukan hubungan intim?" tanya dokter itu, dan Mona kembali mengangguk


" memang penyakit seperti itu sebagian besar menular tapi tidak sedikit yang selamat dan tidak tertular karena penyakit itu tergantung dari daya tahan tubuh kita sendiri, Mona mengangkat kepalanya dia menemuka sedikit harapan setelah mendengar ucapan dokter


" untuk memastikannya kita harus melakukan pemeriksaan" kata nya sambil mengarahkan Mona untuk diperiksa dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan yang sangat melelahkan karena sampai seharian penuh dia habiskan di tempat itu, Mona mendapatkan hasilnya


" Menurut hasil pemeriksaan Alhamdulillah ke***in mbaknya sehat dan tidak tertular, mungkin karena kekebalan tubuh Mbak kuat " kata dokter tersenyum


" dok boleh saya tanya? kata Mona mantap pada dokter perempuan itu" dokter itu mengangguk


" boleh" katanya


" kalau penyakit seperti itu apa bisa di sembuhkan dok" kata Mona .

__ADS_1


" bisa saja tapi kemungkinannya sangat kecil, bahkan mungkin tidak bisa di sembuhkan" kata dokter itu " dan hampir semua pasangan dari pengidap penyakit itu tertular perbandingannya seratus berbanding satu dan mbak termasuk orang yang satu itu, dan saya sarankan untuk tidak lagi melakukan hubungan intim kecuali memakai pengaman tapi itu pun kemungkinan besar akan menularkan penyakitnya dan si penderita juga akan merasakan rasa sakit dan gatal yang luar biasa setelah melakukan hubungan itu" jelas dokter itu.


" ya sudah terima kasih dok, saya permisi" dan Mona beranjak dan berjalan keluar rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk antara senang dan sedih senang nya di sehat dan sedihnya dia tidak bisa lagi melakukan hubungan intim lagi dengan Arif sedangkan dia tak bisa biak tak melakukan itu.


__ADS_2