
Di taman belakang Susi, Mira yang masih dengan memakai kebaya pengantin yang masih melekat ditubuhnya, Vita Mereka sedang menghibur Ana yang sejak tadi menangis tak henti
" nangis lah Na, kita ngerti perasaan lu tapi setelah ini lu jangan lagi menangisi ba****an itu lagi dia nggak pantes lu tangisin Na" kata Vita
" lu tahu kan Na gue sama bang Arif kami baik baik saja sebelum datang Mona, tapi setelah kedatangan Mona gue baru faham kalau bang Arif bukan buat gue, gue nggak bisa nyalahin bang Arif juga Mona walaupun semua orang juga tahu kalau mereka berselingkuh saat bang Arif masih berstatus suami gue, gue tahu rasanya di selingkuhi sama orang yang kita sayang tapi kita nggak bisa maksain perasaan dia untuk selalu ke kita, ingat na laki laki buaya sebaik apapun kita menjaganya tetap saja dia akan berusaha mencari celah untuk selingkuh di belakang kita" kata Mira
" dan lu tahu Na kenapa gue sangat tidak menginginkan bang Arif bersama Mona karena gue tahu siapa Mona, dan satu yang harus lu pertimbangkan kalau lu mau kembali bersama Ivan, dia selalu melakukan hubungan intim dengan Mona kapanpun Ivan menginginkannya
gue nggak mau kejadian bang Arif berlaku sama lu, maaf bukannya gue ngomporin lu tapi gue nggak mau lu terjerumus" kata Susi pelan
" tapi yang gue tahu dia sangat mencintai seseorang di masa lalunya dan mereka berpisah karena dia sedang melakukan itu dengan Mon... Astaghfirullah" Susi tidak melanjutkan ucapannya matanya melotot dan mulutnya yang terbuka di tutup oleh kedua tangannya, dia sepertinya menyadari sesuatu
" jangan bilang kalau perempuan itu adalah..."lagi lagi Susi tak melanjutkan ucapannya, setelah melihat anggukan dari Mira dan Vita
" ya dia adalah Ana, mereka putus karena Ana mergokin mereka sedang melakukan itu di apartemen Ivan" kata Mira
" kalau di cinta banget sama gue kenapa dia mengkhianati gue?" kata Ana sambil sesenggukan dan mata sembab, mereka menghela nafas berat sambil mengendikan bahunya
" itulah yang kita nggak ngerti" kata Vita
" entah alasan apa dia nyelingkuhin lu dan itu juga Pr buat kita yang harus kita cari tahu, sepertinya ini ada hubungannya juga sama dendamnya dengan bang Ridwan"kata Mira yang nampak berfikir keras
" kita nggak bakalan bisa mecahin masalah ini sendiri kita harus rundingin ini sama mereka semua, karena yang gue tahu Ivan sayang banget sama gue, terlepas dari dendamnya pada bang Ridwan" Kata Ana yang terlihat sudah lebih baik.
Setelah shalat isya mereka kembali berkumpul di taman belakang sekarang dengan Formasi lengkap dengan para pria. mereka tampak serius hanya satu orang yang wajahnya tampak masam dan sudah tak enak dilihat, Mira yang tahu dengan suasana hati suaminya, sekuat tenaga menahan tawanya,
" cepetan ah lu mau pada ngomongin apa sih" kata Reynand ketus, Mereka yang sedang serius sontak menatap tajam pada Reynand
" lu kenapa sih dari tadi muka lu nggak enak dilihat banget?" Tanya Andi dengan wajah polos
sedangkan Farhan, Budi dan Ridwan saling tatap dan akhirnya mereka tertawa terbahak-bahak dan mereka saling memberi kode dan mereka bertiga mengangguk, entah rencana apa yang ada di otak mereka, yang pasti hal yang sangat merugikan Reynand.
dan hal itu membuat ekspresi Reynand tambah masam. Mira yang merasa kasihan pada suaminya akhirnya mencoba membuka pembicaraan
" kalian sadar nggak kalau Ivan itu masih sangat cinta sama Ana dan satu yang tadi kita curigai kalau Ivan tak benar benar ingin balas dendam dengan bang Ridwan dan ingin mengambil alih semua asetnya" kata Mira, mereka semua tampak berfikir dan saling pandang.
" kalian berfikir kalau Ivan bukanlah dalang yang sebenarnya dibalik semua ini?" tanya Andi
dan para wanita itu mengangguk
__ADS_1
" kalau bukan Ivan lalu siapa? lu punya nama lain wan ?" tanya Reynand yang sudah melupakan kekesalannya dan ikut larut dalam obrolan mereka
" Si selama lu bersama mereka lu pernah lihat atau dengar mereka menyebut nama seseorang nggak?" tanya Reynand lagi
Susi tampak berfikir dan akhirnya hanya gelengan kepala yang jadi jawaban Susi.
mereka menarik nafas berat
" ini sepertinya ceritanya akan tambah panjang, benangnya semakin kusut ini" kata Budi
" emang kalian bisa mengambil kesimpulan kalau bukan Ivan dalang dibalik ini semua dari mana" tanya Ridwan
" kita bisa lihat dari cara Bidara dan tatapan Ivan sama Ana yang seperti ingin menjelaskan sesuatu tapi dia tertekan karena aku merasakan ada diposisi itu" kata Susi
" kira kira siapa ya, tapi emang kuncinya ada di Ivan " kata Reynand
"apa ngga sebaiknya kita serahkan secara resmi ke polisi saja Wan, dan dengan cara itu gue bisa berunding sama tim gue, dan kalian ada dalam perlindungan hukum" saran Reynand
" iya juga sih, soalnya kita juga selama ini terancam juga kita hanya mengandalkan pengawal pengawal kita saja dan kita juga harus mengurus pekerjaan kita," sambung Vita
" dan hal yang paling gue yakin musuh kita bukan hanya mereka pasti mereka bekerja dalam tim, dan mereka sepertinya juga menyusup ke perusahaan kalian dan gue juga bisa lebih leluasa menangani kasus lu, dan lu semua fokus di lingkungan rumah dan kantor masing masing dan kita fokus sama kasus lu" Insting polisi Reynand memang tajam
" gue sih ok ok aja tapi gue takut mereka mengancam sama keluarga gue apalagi sekarang mami dan papi ada di sini" kata Ridwan " yang gue khawatirkan Mereka tahu gue lapor polisi Mereka akan membabi buta menyerang siapa saja yang nggak berdosa" kata Ridwan sambil menyugar rambutnya kebelakang, Susi yang melihat kegundahan suaminya mengelus punggung suaminya, dia iba melihat suaminya yang selama ini dibayangi kekhawatiran dan menggenggam tangan suaminya lembut memberikan ketenangan pada suaminya, Ridwan membalas genggaman itu sambil tersenyum pada Susi seolah mengatakan kalau di baik baik saja walaupun Ridwan tak yakin Susi akan percaya itu. mereka tampak berfikir mencari solusi untuk masalah Ridwan.
" Nand bisa nggak kalau bikin laporan gue nggak usah datang ke kantor polisi?"
" bisa aja sih cuma akan mendapat kesulitan proses " jelas Reynand " tapi ntar gue konsultasi ke komandan gue bisa nggak, tapi sementara itu lu coba tanya sama papi atau mami mungkin dulu mereka punya musuh yang pernah mereka sakiti" kata Reynand " karena kalau bukan lu,mungkin papi atau mami dan mereka mengincar lu karena lu adalah anak mereka yang memegang kendali semua aset papi dan mami" petunjuk Reynand
" iya dan sepertinya kita sekarang tidak bisa lagi pura pura tak tahu kalau kita sedang dalam incaran mereka, " kata Farhan
" Na gue bisa ngasih masukan nggak kalau Ivan datang nemuin lu, gimana kalau lu jangan menghindar malah lu bisa korek sedikit informasi dari dia, " kata Reynand
" Eh ****** lu mau jadiin adek gue umpan?" kata Andi yang nggak setuju dengan ucapan Reynand
" gue rasa ada baiknya juga usulan Rey, karena kunci yang memegang siapa dalang di balik ini semua adalah Ivan" kata Budi
" tapi mas Ana dalam bahaya, aku nggak mau Ana celaka" kata Mira pada suaminya
" Rey lu bisa bikin lancar laporan gue ke polisi nggak, lagian komandannya juga om lu sendiri , bisa dong" kata Ridwan sambil menaik turunkan alisnya
__ADS_1
" iya untuk gambaran om lu kan tadi hadir dan menyaksikan waktu Ivan bikin kerusuhan" kata Andi
" eh ku pada denger ya om itu orangnya konsisten kalau menyangkut pekerjaan di itu orangnya tegas dan disiplin tau nggak lu" kata Reynand" tapi gue coba deh, tapi kamu harus bantu aku ya sayang soalnya sepertinya dia klop sama kamu, tapi inget kamu jangan jatuh cinta sama tuh duda" kata Reynand memperingatkan Mira
" ih kamu ini masa aku jatuh cinta sama om suamiku sendiri" kata Mira sambil mencubit perut Reynand, dan Reynand hanya terkekeh
sambil mengelus pipi Mira.
" Bang Rey umur omnya Abang kayaknya nggak beda jauh sama Abang " tanya Vita, penasaran secara kan om nya Reynand itu masih gagah dan terlihat muda, apalagi kalau pake seragam pasti akan terlihat sebelas dua belas sama Reyanand
" beda lima tahun, secara kan papi sulung dan om Indra kan bungsu mana Oma mengandung om Indra pas umur Almarhumah Oma empat puluh tahunan lebih lah " jelas Reynand
" comblangin gue ya bang" rengek Vita
" eh gak ada gak ada, kamu tau nggak polisi itu kebanyakan playboy" kata Andi menolak dengan keras
" apa lu bilang, secara tidak langsung lu bilang gue juga playboy " kata Reynand sambil menendang kaki kursi yang di duduki Andi yang membuat Andi terjungkal,
" lagian apa coba hubungannya sama kakak, aku kan mau nikah juga, kali aja om Indra mau" kata Vita dengan wajah tanpa dosa. Andi yang baru bangkit dari jatuhnya langsung melotot
" iya juga sih kayaknya dia cocok buat lu Ya" kata Ana lagi memanas manasi Andi dan ucapa n ana di tangkap dengan baik oleh mereka kecuali Andi yang mulai kebakaran
" iya sih ta gue kasian sama om Indra sudah tiga tahun jadi duda sejak Tante Ina meninggal karena melahirkan anaknya, dia membesarkan anaknya sendiri" tambah Reynand lagi
" iya kan lu suka banget tuh sama anak kecil" kata Mira
" iya sih kalau gue mah nggak masalah duda makin menggoda" jelas Vita santai, dia tak menyadari orang yang disebelahnya sudah membara oleh api, yang lain sekuat tenaga menahan tawa,
" Vita..." bentak Andi dengan mata penuh dengan aura kemarahan
" apa sih kak" jawab Vita santai,
Farhan menghitung
" satu...dua ...ti.."
Udah dulu ah author nya capek mau sholat dulu
bersambung ke Bab selanjutnya ya😘😘😘😘
__ADS_1