
Ridwan dan Arif sudah duduk di bangku taman rumah sakit tempat tadi Arif duduk
" Rif kita ngomong sebagai saudara ipar gue adik ipar lu, dan lu kakak ipar gue lepaskan beban gue sebagai sahabat dari Farhan dan Budi saat ini dan kita ngobrol sebagai laki laki, bisa?" kata Ridwan serius tapi tak meninggalkan kesan santai sebagai obrolan laki laki,
" ok " kata Arif singkat
" dan gue minta lu ngomong jujur ke gue tanpa ada yang di tutupi, bisa"
__ADS_1
"ok asal Lo jangan bicara yang berat sebelah dan menurut fakta," kata Arif lagi
" ok Lo bisa pegang omongan gue, tapi kali nanti ada kata kata gue yang seakan berat ke Mira itu semua mata karena itu fakta dan kalau ada kata kata gue yang mungkin agak menyudutkan lu sama Mona gue minta maaf tapi itu semata karena gue nggak mau lu terjerumus ok" kata Ridwan menjelaskan
" ok gue pegang omongan lu" kata Arif menyepakatinya
" gue putus sama dia saat itu gue sama bapa melihat dengan mata kepala kita sendiri Mona sedang berhubungan badan dan lu tau laki laki itu adalah atasan gue " kata Arif dengan mata berkaca-kaca
__ADS_1
" ok jadi itu sebabnya bapak sama mama sangat tidak suka dengan Mona?" tanya Ridwan lagi dan diangguki Arif " dan itu juga yang membuat lu memutuskan menerima perjodohan lu sama Mira" dan tanpa kita Arif kembali mengangguk " ok selama lima tahun lu hidup bareng berumah tangga apa lu ada nggak rasa buat Mira" Arif menghela nafas sebelum menjawab Arif berfikir memang sekarang dia harus jujur pada Ridwan
" selama lima tahun ini hey hidup suka duka kita lalui gue nggak munafik gue di hati kecil gue sudah ada rasa sama Mira, dan gue pernah bertekad dalam hati kalau akan menerima dia sebagai istri gue sampai akhir, apalagi dengan melihat ketulusan Mira ngurusin mama dan bahkan rela banting tulang buat bantu cari uang buat biaya pengobatan mama hati gue makin yakin kalau gue akan memantapkan hati gue buat dia, tapi entah kenapa ketika waktu itu gue ketemu lagi untuk pertama kalinya dengan Mona hati dan pikiran gue serasa goyah, gue nggak bisa berkata apa-apa antara rasa cinta yang dulu, mengingat pengkhianatan Mona sama gue, antara benci yang dalam dan rasa yang masih ada seakan gue lupa dengan kehadiran Mira, yang selama ini berjuang buat keluarga gue dan rasa itu yang membuat gue nggak bisa berbuat apa-apa saat Mona merendahkan Mira, dan ternyata itu adalah awal dari kehancuran dari rumah tangga gue sama Mira, Mira nggak terima dengan sikap gue yang sama sekali tidak membelanya di berpikir kalau dia nggak ada artinya buat dia, dan saat dia pergi ninggalin gue di taman itu adalah puncaknya ketika di tanya kalau gue masih cinta nggak sama Mona dan gue nggak bisa jawab itu karena gue juga bingung dengan apa yang gue rasa dan disana memang masih ada Mona," Arif menjeda ucapannya " dan dia menyimpulkan kalau memang gue masih mencintai dia dan gue masih belum sadar kalau dia pergi ketika gue sadar Mira Sudak naik taksi dan pergi meninggalkan gue, dan gue nggak bisa mengejar dia" kata Arif sambil tertunduk dengan nafas yang seakan berat.
" dan di saat gue putus asa untuk mengejar Mira gue duduk di bangku taman dan tak disangka Mona datang entah dari mana, dan dia menjelaskan kalau waktu itu dia selingkuh karena dia butuh uang buat pengobatan ibunya,
dan atasan gue mu membiayai pengobatan ibunya Bahkan lebih dan juga memberikan uang buat biaya Mona menyelesaikan kuliahnya asal Mona mau melakukan itu dan akhirnya Mona mau menerimanya, karena dia nggak mungkin minta bantuan gue karena gue masih karyawan baru dan belum dapat uang sebesar itu dan dia nggak mungkin tega ngeliat gue kepikiran." kata Arif sambil menghela nafas.
__ADS_1