
Arif sudah duduk di ruangan Andi mereka duduk berhadapan, Andi berdehem sebelum memulai pembicaraan
" hmm Rif, kita ngobrol sebagai teman aja bisa?" kata Andi hati hati dia ingin melihat ekspresi Arif sebelum melanjutkan ucapannya
__ADS_1
" gue nggak bakalan nanya secara detail penyebab kenapa ibu ku jadi ngedrop, soalnya itu mungkin masalah pribadi keluarga kalian cuma gue heran kenapa tadi siang ibu Diah tuh baik sudah ada kemajuan sangat baik malah sampai gue bisa memutuskan kalau jadwal kontrol nya pun yang awalnya seminggu sekali mulai kontrol berikutnya sudah dua Minggu sekali, tapi walaupun begitu bukan berarti sudah sembuh total soalnya penyakitnya juga berhubungan dengan kondisi sikis dan psikis nya, makanya dari awal gue minta jangan terlalu banyak bergerak takutnya mempengaruhi kondisi jaitannya, dan Alhamdulillah kondisi jaitannya sudah kering cuma tolong bebankan dia bebagai masalah, yang gue rasa sampai tadi siang kondisinya baik, dan mungkin dia sudah bisa menerima perpisahan lu sama Mira walaupun bagi dia sangat tak berharap kalian pisah dan ibu lu bisa Nerima itu," Andi menjeda ucapannya untuk mengambil nafas,Arif tak menjawab dia masih mencerna penjelasan, dan kemana arah pembicaraan Andi, meski Arif sudah dapat menduga kemana arah pembicaraan Andi, tapi Arif ingin mendengar dulu, dan ingin memastikan apakah kecurigaan Mona benar atau salah, dan sejauh ini dia belum mendapatkan bukti tentang kebenaran apa yang menjadi kecurigaan Mona, Andi menarik nafas dan melanjutkan kalimatnya setelah melihat Arif tidak bereaksi " dan gue nggak bakalan ikut campur juga urusan pribadi kalian itu hak privasi kalian cuma gue minta sebagai seorang dokter tolong jangan dibebankan dulu banyak masalah kalau bisa kalau masalah fatal mending jangan di beri tahu dulu dan ikuti saja dulu demi kesehatan nya dan kondisinya sampai drop seper sekarang, dan lu sebagai anaknya nggak mau kan terjadi yang tidak kita harapkan walaupun takdir Allah lebih menentukan tapi kalau kita sudah berikhtiar kita hanya bisa bertawakal, mungkin lu bertanya kenapa gue cuma ngomong ini sama lu? karena lu anak laki2 satu satunya dan satu rumah, gue juga nanti bakalan ngobrol sama bapa cuma bakalan pelan pelan karena gue lihat juga bapak sepertinya kurang begitu sehat , jadi tanggung jawab lu untuk nyari solusinya seperti apa dan bagaimana" kata Andi panjang lebar.
Arif menatap lekat Andi, dan dia melihat ketulusan dari setiap ucapan andi, Arif ak mendapat satu katapun yang menyinggung tentang ketidak sukaan Andi padanya semuanya normal seperti kata kata dokter pada keluarga pasien, lalu untuk apa dan mengapa Mona bisa menyimpulkan kalau Andi itu berniat tidak baik pada ibunya semua itu sangat membingungkan bagi Arif.
__ADS_1
" bagaimana Rif bisa kan?" Arif yang sedang melamun kaget mendengar pertanyaan Andi, Arif tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya.
Setelah pembicaraan mereka akhirnya Arif memutuskan untuk kembali keruang rawat Bu Diah dan disana hanya tinggal pak Agus yang lainnya sudah tidak ada dan kata pak Agus mereka sudah pulang saat Arif diruangan Andi tadi.
__ADS_1
" pak, Arif minta maaf gara gara Arif mama sampai kembali seperti ini, mulai sekarang Arif akan berusaha untuk tidak egois lagi." kata Arif dengan sungguh-sungguh
" iya bapak mohon kamu bisa kendalikan dirimu bapak sebenarnya sangat kecewa sama kamu bagaimana tidak kecewa ibumu yang tadi siang baik baik saja setelah kejadian tadi malah jadi seperti ini" kata pak Agus yang menggenggam erat tangan istrinya yang masih terbaring lemah dengan berbagai alat terpasang di tubuh yang sudah keriput, dan sama sekali tak bergeming dan terlihat sangat damai tanpa beban di hatinya.
__ADS_1