Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 76


__ADS_3

Susi baru saja sampai kadalam rumah pak Agus dan melihat Dewi sedang menghidangkan makanan dan cemilan untuk pak Agus.


"Assalamualaikum..." salam Susi


" waalaikumsallam ..." jawab Dewi dan pak Agus


" dari mana kamu nak" kata pak Agus lembut


" habis ngasih makan duda" katanya santai sambil tersenyum, pak Agus yang mendengar itu hanya diam hanya tersenyum getir, Susi dan Dewi yang menyadari ucapannya akan menyinggung pak Agus langsung pias Susi langsung menghampiri pak Agus lalu memeluknya


" maaf..." kata Susi


" tak apa, kamu benar sekarang di keluarga kita ada dua duda" katanya sambil tersenyum dan mengelus puncak kepala putrinya " jangan merasa bersalah bapak tidak apa-apa, " katanya dan di angguki oleh Susi.


" Rayhan mana?" katanya pada Dewi


" sudah tidur nya"


" oh ya sudah kamu juga tidur sudah malam"


" kalau begitu saya permisi" katanya sambil mengangguk kecil kearah mereka


" bapak juga tidur ya sudah malam ya" kata Susi pada pak Agus," dan pak Agus tersenyum sambil mengangguk dan berdiri.


" pak..." kata Sus


" ya, kenapa" kata pak Agus sambil mengernyitkan dahinya


" hmmm Susi boleh pinjam ponsel bapak?" kata Susi ragu


" boleh emang punya kamu kenapa?" katanya


" punya Susi mati tadi mas Ridwan nelepon tapi keburu mati, takutnya ada yang penting" katanya berbohong


" ya sudah, ini" kata ok Agus sambil menyodorkan ponselnya, dan Susi langsung mengambilnya sambil tersenyum. " besok saja kamu kasih bapak ya" kata ok Agus dan diangguki oleh Susi.


Susi sudah memantapkan hati untuk memeberi tahu Ridwan, dan masuk kamar.


Susi mulai menghubungi Ridwan dan langsung di angkat


" assalamualaikum..." salam Susi


" lho kok kamu, bapak kebapa? bapak baik baik saja kan?"


" Alhamdulillah sudah lebih baik dari pada tadi dan kemarin,"


" terus kok kamu pake ponsel bapak emang punya kmu kemana?" tanya Ridwan bingung

__ADS_1


" mas..." kata Susi ragu


" ya, kenapa ada masalah? mau pulang? mau aku jemput?" Ridwan memberondong Susi dengan pertanyaan karena baginya Susi bersikap aneh


" enggak, bukan itu, tapi..."


" ada apa, ok aku siap dengerin kamu cerita" kata Ridwan memang Ridwan akhir akhir ini selalu bersikap baik Sam Susi


" mas, kamu lagi dirumah kan?" katanya


" iya aku lagi di kamar, kamu kenapa sih sepertinya penting banget?"


" mas aku mau menceritakan sebuah rahasia besar tapi aku mohon kamu dengerin aku jangan dulu menyela nanti kalau cerita aku sudah selesai baru kamu boleh menyela atau mau bunuh aku juga aku siap asal aku titip Rayhan saja" katanya sudah mulai sendu


" iya aku dengar tapi nggak usah ada cerita bunuh bubuhan segala, kamu ini kalau ngomong suka ngasal" kata Ridwan


" aku mulai ya mas" akhirnya Susi menceritakan semuanya dari awal dia bertemu Riky sampai selesai tak ada satu kejadian pun yang terlewat, Ridwan yang mendengar semuanya merasa bersalah karena telah susdzon terhadap Susi


" mas itu makanya aku oke ponsel bapak karena punya aku disadap oleh mereka, dan aku tidak tahu aku harus bagai mana aku nggak mau kalian jadi korban seperti mama dan bang Arif aku takut mereka mencelakai semuanya" katanya sambil menangis


" kamu tidak bohong kan seperti Mona yang membohongi Arif,?"


" mas kamu memang pantas mencurigai aku Bahakan bunuh aku pun kamu pantas melakukannya mengingat dosaku yang sudah terlalu menumpuk" katanya lemah" kepergian mama membuka mataku, aku takut kalau semua kejahatan mereka tak terungkap, dan berks kamu ada di kamar aku untung belum sempat aku serahkan keburu ada kabar mama di rumah sakit." Susi menjeda ucapannya, aku ngga tahu kenapa Ivan begitu membenci kalian yang aku tahu dia sangat benci dengan kalian terima kmu mas" katanya pelan


" aku akan ceritakan setey nanti kita ketemu"


" mas gimana ini Ivan nelepon"


" kamu angkat saja kalau dia nanyain apa apa kamu bilang minta waktu sampai selesai tujuh hari peringatan mama meninggal, kamu load dan aku akan rekam dari sini" kata Ridwan


" ya sudah tapi yakin nggak bakalan ketahuan kan?" tanyanya ragu


" insyaallah aman, kita coba ok kamu tenang jangan gugup nanti dia curiga, ok baca bismillah dulu.


" halo, ..." katanya Susi


" kamu ini bagai mana,kamu janji mau ngasih berkas aset si Ridwan si***n itu hah, kamu mau coba coba kabur hah, kakak lu sudah ada digenggaman gue atau lu mau si Ridwan si***n itu tahu kalau anakku bukan anaknya atau lu mau gue bunuh tuh suami tercinta si***n lu yang lu bela mati Matian itu hah" kata Ivan di sebrang sana


" tapi kalau lu nyerahin semua berkas kepemilikan semua aset dia gue bakalan lepasin kalian semua ya walaupun harus hidup melarat tapi tak masalah yang penting kalian hidup kan" kata Ivan sambil tertawa keras, Ridwan yang mendengar mengepalkan tangannya sampai buku buku jarinya memutih.


" jadi mana berkasnya" katanya dingin


" anu itu tuan, saya minta maaf saya sedang di kampung ibu saya meninggal kemarin malam jadi saya aharus berada disini sampai nanti selesai acara tujuh hatinya ibu saya tuan," Susi menjelaskan.


" kelamaan b**o gue sudah nggak sabar melihat si Ridwan s****n itu mengemis di jalanan pake baju compang camping dan hidup dikolong jembatan ih itu sungguh menyenangkan" katanya sambil tertawa


" tapi tuan saya mohon kalau saya pulang sekarang nanti mas Ridwan akan curiga dan semua rencana tuan berantakan semua" kata Susi mencoba untuk bernegosiasi

__ADS_1


" ah s****n lu awas lu kali lu berkhianat dari gue, mampus lu, " katanya


" sssa sa saya tidak be berani tuan " kata Susi gugup


" ya sudah kapan lu pulang hah?" katanya membentak


" seminggu lagi tuan" kata Susi pelan


" ok, ah ini gara gara ibu lu yang s****n itu pake mati di waktu yang tidak tepat lagi " katanya sambil mematikan sambungannya, Susi menghembuskan nafas lega.


" si kmu tidak apa-apa " kata Ridwan yang masih tersambung, Susi sampai terjengkit kaget di mengira sambungan dengan Ivan yang masih tersambung.


" mas ih kamu ini hampir saj aku mati jantungan ngagetin aja aku kira Ivan masih belum matiin teleponnya" kata Susi ngomel ngomel, Ridwan Samapi kaget Susi tak pernah bersikap seperti itu.


" mas kamu masih disana?"


" i i ya aku disini," kata Ridwan


" kamu ini " Ridwan hanya terkekeh mendengar keanehan dari Susi yang suka ngomel


" gini aja kalau kamu mu hubungin aku buat ngebahas masalah ini kamu pake ponsel bapak saja, kamu tenang saja ada orang ku yang akan mengawasi kalian, dan si Ivan atau si Riky itu nggak bakalan bisa mendekat kesana, sekarang aku minta si Riky dan si Ivan itu"


kata Arif menenangkan


" caranya gimana mas kan ponsel aku di bajak"


" denger ya Susi sayang, kamu foto dari ponsel bapak jangan di kirim ke aku atau ke siapapun tapi foto saja" tanpa sadar Ridwan mengatakan kata itu yang membuat Susi menegang


" bagaimana sudah belum?"


" ooh iya sebentar mas" kata Susi salah tingkah, untuk Ridwan tak tahu kalau mukanya sudah seperti kepiting rebus, bisa malu setengah mati kalau ketahuan, akhirnya Susi melakukan apa yang dikatakan Ridwan .


" ok sudah, aku akan kesana lima hari lagi"


" iya mas kamu hati hati"


" iya..."


" mas..." Ridwan mengurungkan niatnya untuk memutus sambungan nya mendengar panggilan Susi


" kamu nggak benci aku sama Rayhan kan" tanya nya takut


" insyaallah aku akan maafin kamu asal kamu benar-benar tulus" kata Ridwan jujur


" bener mas" kata Susi sambil tersenyum lebar dengan mata berbinar.


" iya.." kata Ridwan " ya sudah kamu tidur mimpiin aku ya" katanya jail, Susi yang mendengar ucapan Ridwan tersipu.dan akhirnya Ridwan memutus panggilan nya, Ridwan tersenyum setelah menutup panggilannya, Ridwan tercenung memikirkan keanehan sikapnya pada Susi.

__ADS_1


__ADS_2