
setelah Farhan dan Budi pergi tak lama Bu Asih pun pamit
" Bu sepertinya kami pun harus pamit, takut kemalaman soalnya bawa anak anak dan nggak ada yang laki laki" kata Bu Asih
" iya mah, aku juga pamit kalau ada apa apa hubungi aku ya" Mira menyalami Bu Diah
"Nak, kamu mau pergi juga? gimana sama ibu kalau kamu juga pergi" kata Bu Diah dengan air mata yang sudah berembun
" ma, walaupun mungkin kita tinggal bersama, aku akan selalu ada kalau ibu butuh" kata Mira meyakinkan " lagian kalau mama sama bapak di rumah bang Ridwan itu lebih mudah" sambung Mira lagi
" Abang? sejak kapan kamu panggil dia Abang" tanya Arif dengan nada tidak suka,Mira tak menanggapi setelah menyalami pak Agus mereka pun pergi,
Arif mendengus melihat Mira yang mengacuhkan pertanyaan nya, hatinya panas mendengar keakraban Ridwan dan Mira
" kemarin dokter Andi sekarang si Ridwan mau jadi pelakor dia" katanya dalam hati, sambil menatap tajam pada Ridwan, Ridwan yang ditatap tak acuh sambil menggigit bibirnya sekuat tenaga Ridwan menahan tawa melihat Arif dengan muka sudah tidak enak dilihat.
__ADS_1
" ma, pak karena Arif sama bapak sudah ada aku juga pamit besok aku jemput" kata Ridwan sambil menyalami kedua mertuanya.
" wan, aku mau bicara" kata Arif pada ridwan dengan wajah datar, entah kenapa dia kesal sama Ridwan setelah mendengar Mira memanggilnya abang.
tring tring ponsel Ridwan berbunyi tanda ada pesan masuk ternyata dari Farhan
" wan Lo nggak usah nyusul biar kita yang urus, soalnya kalau Lo nyusul ntar si Arif curiga, pokonya semuanya Lo serahin sama kita" isi pesan Farhan
" ok..." Jawab Ridwan singkat. lalu memasukan ponselnya kedalam saku lalu menatap Arif
" ada apa?" tanya Ridwan pada Arif.
" ma, pak setelah aku bicara sama Arif aku langsung pulang dan besok biar aku jemput, dan soal Arif terserah dia mau ikut atau tidak, dan satu hal yang harus bapak dan mama tahu mungkin Arif berniat mengajak kalian tinggal di tempat perempuan itu"
" iya nak, bapak memang sudah curiga dan bapak tak akan pernah mau," kata pa Agus dan diangguki oleh Bu Diah dengan mata berkaca-kaca Bu Diah heran kenapa kedua menantunya begitu mempunyai hati yang mulia berbanding terbalik dengan anak-anaknya.
__ADS_1
" iya nak kamu tenang saja kami lebih baik tinggal dikolong jembatan ketimbang harus menumpang hidup sama perempuan ular itu" kata Bu Diah pada Ridwan
" ibu dan bapak jangan banyak pikiran dengan biaya pengobatan dan yang lainnya, bapak pegang kartu ini untuk kebutuhan hidup dan pengobatan mama" kata Ridwan sambil menyerahkan sebuah kartu ATM dan menuliskan PINnya supaya pa Agus tidak lupa
" usahakan Arif tidak tahu tentang kartu itu takutnya dia akan tersinggung, dan satu lagi jangan sungkan anggap aku anak bapak sama mama" kata Ridwan
" nak, ibu malu sama kamu dan Mira kalian sangat baik, sangat peduli dengan kami, mama janji apapun yang terjadi kamu dan Mira adalah anak anak kami" kata Bu Diah dengan air mata yang sudah mengalir
" ibu jangan banyak pikiran ibu harus sehat dan satu lagi rumah yang akan kalian tempati sudah atas nama bapak sama mama" kata Ridwan sambil mengelus punggung tangan yang sudah keriput itu dan Bu asih pin menangis haru dengan yang di lakukan Ridwan
Bu Diah memeluk Ridwan,
" mama sayang sama kamu dan Mira walaupun kalian tidak lahir dari rahim mama, walaupun status kalian cuma menantu tapi di hati kami kalian adalah anak anak kami" Kat Bu Diah
" terimakasih ma, pak dan aku mohon apapun yang nanti terjadi kedepannya jangan sungkan menggunakan kartu itu dan kalau ada apa-apa aku akan siap bantu jangan pernah merasa tidak enak ya" kata Ridwan
__ADS_1
" iya nak bagi kami walaupun memang Arif dan Susi memang anak kandung kamikalau mereka berbuat di luar batas kami tidak akan pernah mendukungnya" kata pak Agus sambil menepuk punggung Ridwan.
" ya sudah ma, pak aku pergi dulu kasihan Arif nunggu lama" kata Ridwan lalu berjalan keluar ruangan setelah menyalimi tangan kedua orangtuanya.