Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 72


__ADS_3

Arif melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kampung halamannya dengan perasaan yang tak menentu,


Ya tadi setelah kegiatannya dengan Mona Arif langsung membersihkan diri dan dan langsung meraih ponselnya


" aku duluan sayang aku harus kerumah sakit" katanya sambil mengecup bibir Mona sekilas Mona yang masih lemas terbaring di sofa ruangan kerja mereka, sambil berjalan keluar ruangan dan Arif memeriksa ponselnya yang di penuhi panggilan susu dan Ridwan perasaannya sudah tidak enak ketika membaca pesan dari ridwan kalau tidak perlu kerumah sakit langsung ke kampung saja.


Dan disinilah Arif dijalanan yang padat dan macet dia panik apa yang terjadi dia beberapa kali mencoba menelpon balik Ridwan dan Susi tidak diangkat.


Sekitar jam sepuluh malam Arif mulai sampai di persimpangan masuk gang ya sudah banyak terparkir mobil mobil mewah, dan berderet tapi yang menjadi perhatian Arif adalah bendera warna kuning di depan gang nya langsung saja perasaannya tidak enak dari tadi dia sudah panik dan sekarang melihat bendera itu,


Arif langsung memarkirkan mobilnya sembarangan dia langsung berlari menuju arah rumahnya yang sudah di padati banyak orang, dengan tidak sabar dia langsung menepikan orang orang yang menghalangi jalannya dan begitu sampai di pintu Arif langsung mematung melihat ada sebuah jasad yang sudah terbungkus kain kafan, sontak semua perhatian tertuju padanya terutama dari orang orang yang datang dari ibu kota mereka menatapnya tajam sepertinya mereka sudah menduga apa yang sejak tadi Arif lakukan sehingga tak sempat menerima panggilan dan jangan lupakan tanda tanda di sekitar leher yang bertebaran dimana.


Arif tak peduli dengan tatapan mereka dia merangsek mendekati tubuh yang sudah terbungkus kain kafan itu dengan mata yang sudah banjir, ketika sebentar lagi mendekat tiba tiba saja

__ADS_1


" berhenti di situ!" suara itu langsung mengalihkan semua perhatian dari arah suara dan itu adalah dari pak Agus


" kamu ikut saya" katanya sambil berjalan menuju kamar


ketika sudah di kamar pak Agus langsung menarik kerah baju Arif kedalam dan


plak...plak


bugh bugh


sambil terengah


" kamu sudah mandi besar" Arif yang di tanya itu langsung mukanya merah kaya kepiting rebus dia mengangguk

__ADS_1


" ganti baju kamu" katanya sambil meninggalkan Arif yang termenung menyadari kesalahannya yang sangat fatal tak lama dia tersadar dan bergegas mengganti bajunya.


Arif keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan mereka yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hatinya bergetar sudah lama sekali dia tidak membuka Al-Qur'an tepatnya semenjak bertemu dia dekat dengan Mona, air matanya meluncur dia tak kuasa langsung memeluk jasad itu sambil teru menangis meraung memilukan siapapun yang mendengar nya. Farhan yang duduk tepat disampng Arif menepuk pundaknya pelan untuk menenangkan.


" nggak apa-apa lu nangis sekarang walaupun sebenarnya sia sia aja sih sekarang lebih baik lu ngaji" kata farhan, semarah matanya farha sama Arif tapi di saat seperti ini sisi kemanusiaan Farhan muncul begitu saja.


karena pemakaman akan di laksanakan besoknya keluarga mira, reynand, Andi, Ana dan Vita memutuskan untuk pulang kerumah keluarga Mira yang memang hanya kampung sebelah.


" lu mau kemana " tanya Reynand pada Ridwan dengan kening yang berkerut, menatap tak mengerti kearah Ridwan yang juga bersiap untuk perg.


" eh kampret lu anggota keluarga ngapain lu ikut ikutan mau pergi" kata Andi


" kali lu semua pergi gue kagak da temen bego" jawab Arif

__ADS_1


" iya ih Abang terima aja sih jadi mantu" kata reynand dan mereka semua menggigit bibir masing masing untuk menahan tawa melihat ekspresi Ridwan yang kayak bocah.


dengan perdebatan yang alot akhirnya Ridwan tidak ikut karena terpaksa harus tingga.


__ADS_2