
jam pulang kerja pun tiba dengan semangat 45 Arif buru buru menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan setelah selesai. teman temannya yang melihat itu heran tadi pagi lemes banget sekarang semangat banget.
" semangat banget bang pulang, biasanya belakangan?" tanya Mirna
" Iya nih kayak nya mau ketemu sang kekasih tuh" timpal Rissa sambil mencebikan bibirnya dan yang lain ikut tertawa mendengarnya
" iya nih gue seneng banget kekasih impian gue udah nunggu gue seneng banget mumpung dia mau gue ajak nginep" kata Arif ambigu
" hah nggak salah lu bang" tanya Mirna dan yang lainnya ikutan melongo mendengar ucapan Arif hanya Wira yang tersenyum mendengar ucapan Arif
" nggak lah kemaren kemaren kan nggak mau terus, jadi mumpung dia mau gue nggak bakalan sia siain kesempatan" kata Arif sambil terkekeh melihat kebingungan teman temannya
" eh bang gue ingetin ya Jangan terlalu sering berduaan entar suka ada yang ketiga ikutan nimbrung apa ini nginep bahaya tuh" kata Adam
" justru gue sengaja biar tambah Deket " kata Arif lagi yang menambah kecurigaan teman temannya " dah ah, gue duluan ya kasian kelamaan nunggu, takutnya ngambek ntar jadi berabe hilang deh kesempatan gue" sambungnya sambil berjalan keluar, sedang yang lain tambah melongo dengan tingkah Arif yang menurut mereka menjijikkan, Wira yang melihat itu tidak membiarkan mereka semua suudzon yang sudah akan menjurus fitnah itu
" otak kalian jangan pada kotor ya, bang Arif itu mau ngajak nginep putrinya yang sekarang lagi nunggu" kata Wira menjelaskan
" Hah Alhamdulillah " kata Adam sambil mengusap dada
" Astaghfirullah gue hampir saja suudzon" kata Mirna
" iya ih, lagian bang Arif ngomongnya gitu banget kita kan jadi mikir yang lain" sambung Rissa
" makanya tanya yang bener, pastikan dulu, untung ada gue yang tau" kata Wira lagi
" lagian lu dari tadi mingkem aja " kata Riyan
" gue pengen ngetes aja kalian tuh pinte apa kagak" kata Wira sbil tergelak tiba tiba kepalanya di geplak gulungan kertas oleh Adam, dan yang lain ikut nimbrung
" lu bocah mau ngetes kita? coba aja kalau lu gue jadiin peyek kacang " kata Riyan memang Wira adalah orang yang paling muda diantara semuanya.
Arif melajukan motornya, setelah sebelumnya sholat ashar dulu takut terlewat dan dia ingin langsung ngajak jalan Syifa dulu, hatinya sekarang lebih tenang setelah mendengar pencerahan dari Wira dan melaksanakan shalat, dalam hati dia terus berdoa agar selalu di jauhkan dari godaan yang akan kembali menuntunnya kembali kejalan sesat, dia ingin insyaf walaupun nantinya dia akan berpisah dengan Mona, dia sudah mantap meyakinkan hati untuk kembali kejalan yang pernah ia tinggalkan.
Arif menjalankan motornya dengan senyum tak pernah lepas dari bibirnya, saat ini tak ada lagi yang lebih membuatnya bahagia adalah bisa bersama dengan Syifa, tak terasa Arif sudah sampai di depan gerbang rumah keluarga Mira, Arif terkesima karena baru tahu kalau keluarga Mira sekaya ini, pantas saja Farhan pernah mengatakan kalau Mira selalu diperlakukan seperti tuan putri dikeluarganya ternyata di memang tuan putri seorang sultan, dia merasa sangat kecil di mata mereka, selama ini dia hanya mendengar kalau keluarga Mira adalah keluarga kaya raya tapi tidak menyangka sampai seperti ini, tiba tiba Arif terlonjak mendengar suara kelakson mobil dari arah belakangnya, sebuah mobil sport mewah keluaran terbaru berada dibelakangnya, tak lama seseorang membuka kaca mobil dari arah kemudi seseorang mengeluarkan kepalanya, ternyata Reynand,
__ADS_1
" Rif, kenapa nggak masuk, kok malah berdiri disana " tanya Reynand, Arif mengusap tengkuknya sambil nyengir dan tanpa Arif sadari pintu gerbang itu sudah terbuka secara otomatis dan menampakan dua orang keamanan berdiri menyambut kedatangan mereka dan membungkuk sedikit ketika mobil Reynand masuk dan begitu juga dengan Arif Arif merasa tidak enak hati karena baru pertama kali diperlakukan seperti itu.
" ayo Rif masuk "kata Reynand sambil mengajak Arif masuk
" Assalamualaikum ..." salam Reynand dan Arif tergagap mendengar seorang Reynand mengucapkan salam tak sungkan wali di rumah sebesar ini, tiba tiba terdengar suara ribut ribut
" papa,..."
" ooom..." dan ternyata mereka adalah Syifa dan seorang anak laki laki seumuran Syifa yang Arif tahu anak itu adalah Fadli anaknya Budi mereka langsung berebut Reynand, dan tanpa aba aba reynand mengangkat tubuh kedua anak itu bersamaan di kiri dan kanan tangannya setelah sebelumnya menyerahkan kantong bawaannya kepada seorang wanita paruh baya yang di ketahui sebagai asisten rumah tangga, Arif serasa makin merasa berdosa pada Mira yang sudah diperlakukan dengan tidak baik oleh ya waktu masih berstatus sebagai istrinya.
Syifa dan Fadli berebut menciumi pipi Reynand
" papa mana pesanannya kita?" tanya Syifa sambil menadahkan tangan nya pada Reynand yang masih belum menyadari ada ayahnya
" iya ooom" Fadli ikut menimpali
" tuh digondol bi Inah " kata Reynand sambil tertawa, dan mereka berdua pun meminta digunakan Reynand dan langsung berlari
" Syifa sayang..." panggilan Reynand tak di gubris oleh kedua anak itu
" itulah mereka ..." kata Reynand sambil geleng-geleng kepala , Arif hanya tersenyum
" nggak apa-apa santai saja namanya juga anak anak" kata Arif sambil tersenyum
" sayang sudah pulang?" tiba tiba Mira muncul dan sambil mencium tangan Reynand dan di balas kecupan di kening Mira
" Eh bang, sudah datang?" tanya Mira
" iya tadi bareng aku dari depan " jawab Reynand, tiba tiba kembali terdengar suara ribut ribut dari raja dalam dan mereka hanya terkekeh mendengar suara ribut ribut
" Assalamualaikum .." terdengar suara salam.dari arah luar ternyata Desi yang baru saja datang membawa belanjaan
" waalaikumsallam " jawab mereka semua
" eh ada tamu, rasanya pernah lihat di mana ya?" kata Desi sambil menautkan keningnya
__ADS_1
" ini..." ucapan Reynand terpotong oleh suara cempreng khas Sunda siapa lagi kalau buka Yuni
" Teh Desi ini..." kata Yuni menghentikan ucapannya setelah melihat Arif " Bang atif? kok disini?" tanya Yuni Arif menoleh kearah suara dan dia terpana melihat siapa yang datang dia Yuni sepupunya gadis Desa yang dulu penampilannya sangat culun sekarang berubah dengan penampilan yang modis dan tambah cantik Tak terlihat seperti gadis desa
" Yuni ini kamu " tanya Arif sambil memutar tubuh Yuni
" Abang ih kan aku teh jadi lieur" tapi lihat Sunda ciri khas Yuni meyakinkan Arif kalau itu saudara sepupunya
" ini kenapa pada ngumpul disini " tiba tiba suara Salma dari dalam dan di susul olah Bu Asih yang keluar dari dalam mendengar suar ribut-ribut dari arah ruang tamu
" Eh Rif sudah sampai ?" tanya Bu Asih
" Assalamualaikum Bu, iya baru saja" kata Arif sambil mencium punggung tangan mantan mertua nya itu lalu menghampiri Salma dan melakukan hal yang sama pada Salma, kalau sama Salma Ari tahu walaupun tidak akrab karena dulu kan Budi juga tinggal di kampung kalau sama Desi Arif tidak kenal karena memang Farhan tidak tinggal di desa dan Arif hanya bertemu dua kali pas lebaran sekilas bertemu Farhan dan kalau Desi memang baru bertemu
" ya sudah masuk di dalam yuk kita ngumpul di ruang tengah aja yuk" ajak salma
" Dek mbak beli sesuatu buat kita " kata Desi sambil mengamit tangan Mira dan Salma dan juga Yuni dan mereka cekikikan berempat
" mbak jangan makan yang aneh aneh lagi aduh itu kasian anak ku " teriak Reynand, karena memang Mira dan Desi sekarang sedang sama sama hamil muda
" Halah laki mah diem diem Bae" kata Desi cuek
" iya lu mah over banget" timpal Salma pada Reynand sedang Mira hanya menjulurkan lidahnya pada Suaminya
" hih nih para emak emak" kata Reynand kesal
" apa kamu bilang " tiba tiba ketiga perempuan itu balik lagi sambil ber kacak pinggang menatap tajam pada Reynand
" Bu..." kata Reynand sbil berlindung di belakang bu Asih
" Halah lu laki badan aja Segede gaban bisanya berlindung di ketek ibu" ledek Salma
" sudah sudah ayo masuk " kata Bu asih menengahi
" eh tapi si Rey lagi nggak ada gank nya tuh ciut dia" kata Desi sambil mencebik
__ADS_1
" iya lagian ibu ih malah jadi belain dia sih " kata Mira sebal, sekarang giliran Reynand yang menjulurkan lidahnya
" maka berlindung lah pada nyai Ratu maka semua akan aman terkendali" kata Reynand sambil tertawa dan para wanita itu mencebik sambil berjalan meninggalkan mereka Arif terkekeh melihat interaksi mereka yang tanpa canggung.