
keesokan paginya mereka semua sudah bersiap untuk pergi ke pemakaman, yang perempuan akan tinggal dirumah budiah sedang yang laki laki pergi ke pemakaman, setelah rombongan pria pergi ke pemakaman,
Mira, Vita dan Ana duduk di teras depan
" mir itu rumah yang lu tempati selama ini" kata Vita, dan di baLas anggukan, Mira menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara
"iya, dirumah itulah gue merasa bahagia, dihargai dan merasa disayangi" Mira menjeda ucapannya sbil tersenyum kecut " yaah walaupun gue harus banting tulang, subuh gue sama bang Arif kepasar, pulang dari pasar gue langsung beresin dagangan, habis ashar gue keliling buat ngreditin barang, kadang gue sampai lupa makan saking sibuknya gue" kata Mira dengan mata menerawang mengingat kenangan suka dan dukanya dirumah mungil yang sudah hampir tiga bulan itu " gue ngga nyangka kepergian kita untuk berobat merubah segalanya, kita pas pertama nikah dari tidak punya apa apa sama sekali hanya rumah ini tempat kita bernaung, dan bang Arif yang tidak punya pekerjaan tetap yang membuat gue harus turu tangan dan gue mengambil tabungan gue buat mulai buka usaha warung sama kredit keliling" kata Mira dengan mata yang berkaca-kaca, " Syifa yang kadang merengek minta di belikan mainan mahal menjadi warna rumah tangga kami," kata Mira lagi sambil menghapus air matanya.
" saat itu lu ngerasa nggak kalau Arif tuh dingin gitu sama lu" kata Ana, Ana tersenyum sambil menggelengkan kepalanya
" selama yang aku lihat dan aku kenal bang Arif tuh orang yang hangat walau ter golong orang yang banyak diam ketimbang bicara, " kata Mira
" entahlah mungkin diamnya itu menyimpan sesuatu yang yang tak terduga" kata Mira sambil tersenyum kecut
__ADS_1
" lu sudah ngerasa lu jatuh cinta sama dia" kata Vita
" gue nggak tahu, tapi yang gue tahu ada rasa kehilangan aja tapi pas ketika gue resmi cerai ada rasa lega, tapi serasa ada yang hilang" kata Mira, bahkan ketika gue lihat Banga Arif sama Mona pun biasa aja paling aneh aja Arif yang gue kenal bukan Arif yang sekarang dia berubah seratus delapan puluh derajat dari yang gue kenal" sambung Mira lagi.
" kalau sama bang rey, gimana?"mendengar nama itu disebut Mira langsung tersipu pipinya merona malu.
" kamu ini alasan sih" kata Mira sambil tersenyum mengingat perlakuan reynand yang kadang jail, bikin kesel tapi bikin kangen.
" cie senyum senyum " kata Vita
Di tengah obrolan mereka tiba tiba saja
" Teh Mira...." mereka langsung mengalihkan perhatian pada asal sumber suara
__ADS_1
" Yuni..." kata Mira dan mereka pun berpelukan
" Teh Mira teteh teh pulang dari Jakarta jadi berubah jadi cantik begini, baju teteh juga bagus di jamin kang Arif teh tambah cinta atuh sama teteh, beuh.." kata Yuni dengan logat Sunda sambil melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berdecak melihat penampilan Mira yang cantik, dan pakaian modis beda waktu Mira di kampung cuma pake daster aja
" ah kamu mah bisa aja" kata yuni
" iiih teteh aku teh serius kalau gitu aku mau ikut ke kota boleh tidak aku mau kerja apa saja dari pada disini aku teh teu cantik cantik da ka sawah melulu " katanya sambil memanyunkan mulutnya lucu, Vita dan Ana pun tertawa melihat kelakuan lucu Yuni,
" oh ya Yun kenalin ini sahabat sahabat teteh yang ini namanya Ana dan yang ini namanya Vita" kata Mira mengenalkan kedua sahabatnya
" Aiiiih atuh pantes si teh Mira teh cantik Pisan atuh da sahabatnya juga meni cantik cantik" katanya sambil menatap takjub kearah mereka bertiga, dan yang ditatap hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Yuni yang lucu
" emang kamu mu kerja apa" tanya Vita
__ADS_1
" aku mah apa aja bisa, masak, nyuci ngasuh anak, juga bisa" katanya dengan gaya PD nya yang membuat mereka tambah tergelak.