Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 101


__ADS_3

Arif dan Reynand masih duduk di bangku yang sama mereka tak lagi mengatakan apapun mereka bungkam dengan pemikiran masing masing, tiba tiba ponsel Reynand bergetar tanda ada panggilan masuk dan ternyata itu dari Mira


" Assalamualaikum sayang" kata Reyanand, Arif yang mendengar itu tersenyum kecut hatinya tercubit mendengar kata kata itu yang mana dulu ketika dia masih berstatus sebagai suami Mira tak pernah sekalipun dia memanggil Mira dengan panggilan itu, Arif berdiri dan mencoba menghindar dengan menghampiri Syifa yang sedang bermain dan membiarkan Reynand berbicara ditelepon.


Tak lama ada sebuah mobil berhenti di parkiran Taman dan seseorang turun dari bagian pintu penumpang dia adalah Mira dan terlihat dia berbicara dengan orang yang ada di mobil dan tak lama Reynand menghampiri mereka dan mereka pun terlibat obrolan yang sepertinya mereka senang dan mobil pun kembali meninggalkan tempat itu, Mira dan Reynand pun menghampiri mereka dengan Reynand yang merengkuh pinggang Mira posesif, mereka berdua menghampiri Arif dan Syifa yang sedang asyik bermain


" Assalamualaikum anak bunda" salam Mira


" assalamualaikum bang apa kabar " tanya Mira sambil menolehkan pandangannya pada Arif sambil menganggukkan kepalanya ramah


" Alhamdulillah aku baik " kata Arif sambil menunduk ada rasa yang mengganjal di hatinya melihat kemesraan mereka


" Bunda bunda tahu nggak sekarang kan ayah sudah mau main sama Syifa berarti ayah uangnya sudah banyak" kata Syifa dengan antusias


" oh ya? Alhamdulillah dong " kata Mira sambil tersenyum lembut dan mengelus kepala anaknya dengan sayang


" kita makan dulu yuk di sekitar sini ada tempat makan yang enak, Syifa udah lapar juga kan?" anak Reynand


" iya pa Syifa mu makan sate " kata Syifa sambil bersorak gembira " ayah ayo makan " ajaknya pada Arif


" ayah lain kali saja ya" katanya merasa tidak enak kehadirannya sebagai orang lain

__ADS_1


" sudah jangan sungkan lu lihat syifa senang banget kalau kita mau makan bareng mas lu tega bikin dia kecewa lagi" kata Reynand pada Arif, dan akhirnya Arif pun menyetujui untuk ikut makan bersama.


Mereka berjalan beriringan menuju tempat makan yang da di dekat taman dan mereka pun makan dengan tenang selesai makan Syifa sudah tertidur nemplok di pangkuan Reyhan


" Rey, Mir aku mau minta izin lusa kan weekend aku libur kerja aku mau minta izin kalian bawa Syifa jalan jalan, boleh nggak" kata Arif hati hati


" bang, dari awal aku sudah bilang aku tidak akan menutup akses kamu nyata ketemu sama Syifa, kamu boleh ngajak Syifa jalan tapi satu yang aku dan semuanya wanti wanti sama kamu jangan pernah ajak Syifa ketemu Mona, kalau kamu sampai membiarkan mereka bertemu maka itu adalah hari terakhir kamu bisa leluasa jalan bareng Syifa, dan itu pun kalau kamu benar-benar sayang sama Syifa " jelas Mira mengultimatum Arif supaya jangan pernah mempertemukan Mona ada apa sebenarnya sampai Mira memberikan peringatan dan ancaman seperti itu, Karena sedikit banyak Arif tahu sifat Mira, dia tidak akan memberikan peringatan yang begitu keras kalau hal itu tidak membahayakan, yang jadi pertanyaan hal apa yang sudah Mona lakukan sehingga Mira dan Reynand begitu keras kalau menyangkut Syifa dan Mona.


" aku mengerti aku akan berusaha untuk menghindari pertemuan mereka " kata Arif walaupun dia sangat penasaran apa sebenarnya yang terjadi tapi biarlah di akan mencari tahu sendiri apa sebenarya yang sudah terjadi,


" lu masih kerja di kafe bareng Mona Rif" kata Reynand mencairkan suasana yang sudah ada aura aura tegang, Arif menghela nafasnya di sepertinya akan mengatakan jujur pada mere ka di mana dia sekarang bekerja


" nggak, aku sekarang kerja di hotel XXX di bagian administrasi memang cuma jadi karyawan biasa sih, tapi aku lebih tenang karena aku bisa mandiri tak harus berlindung di bawah lindungan seorang perempuan" jelasnya


" oh hotel XXX yang dijalan XXX kan ? " tanya Reynand dan Arif mengangguk mantap, Reynand dan Mira saling pandang lalu mereka tersenyum penuh arti.


" ya sudah kita sepertinya harus pulang sayang kasihan Syifa tidurnya tidak tidak nyaman ntar badannya sakit sakit " Kata Reynand


" Ya sudah ntar gue hubungin lu kali gue mau jemput syifa" kata Arif pada Reynand


" ok siiiiiip" jawab Reynand mengacungkan jempolnya tanda setuju, dan Reynand yang menggendong Sifa duduk di kursi penumpang dan Mira yang mengemudi, Arif tersenyum kecut mengasari kalau Mira adalah orang yang tak bisa dianggap remeh dalam segi apapun.

__ADS_1


Arif menjalankan motornya sesampainya di rumah Arif langsung bersih bersih wajahnya menunjukkan Aura kebahagiaan yang tak bisa di jabarkan, kerinduan kepada anaknya terobati sudah, Arif merebahkan tubuhnya, kepalanya bertumpu pada kedua telapak tangannya yang di taut kan, pikiran nya melayang memikirkan kenapa Mira dan Reynand begitu tak menginginkan kalau Syifa bertemu dengan Mona, apa yang sudah terjadi yang tidak dia ketahui sehingga Mira memberikan peringatan sekeras itu, karena yang dia tahu Mira akan bertindak keras kalau sudah menyangkut keselamatan orang yang di sayangi nya,


" aku harus mencari tahu, apa yang terjadi dan apa tadi yang Reynand katakan Syifa dan Rayhan berarti bukan hanya Syifa " monolognya


" kalau benar Mona melakukan hal yang membahayakan pada Syifa dan Rayhan aku tak akan memaafkan nya, dan mulai sekarang aku harus mencari tahu siap Mona sebenarya kenapa semua orang menganggap Mona sebagai orang yang sangat membahayakan, sebenarya apa yang tidak aku ketahui " katanya lagi " bahkan Susi pun yang notabenenya adalah sahabat Mona menyuruh aku untuk menjauhinya " Arif terus saja menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi "kenapa aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang orang yang aku cinta, dan aku harus mencoba untuk tegas, tapi bagaimana caranya sedang aku selalu saja lemah bila sudah berhadapan dengan Mona" Arif masih saja memikirkan kenapa dan apa yang terjadi.


" haruskah aku menemui Susi atau Ridwan untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi pada Syifa dan Rayhan dan apa yang sudah di lakukan oleh Mona sama dua bocah itu tapi kan Susi dan Ridwan sudah sangat marah padaku, tapi tunggu kalau aku pikir pantas Ridwan, Susi dan bapak marah padaku karena apa yang sudah aku lakukan dengan Mona sudah melewati batas, oh Ya Allah betapa Nistanya hamba akan kah Kau memaafkan semua dosa dosaku" tak terasa Arif meneteskan air matanya dan tanpa sadar Arif sampai tertidur dengan posisi seperti itu.


" Rif, tolong mama bantu mama melepaskan tali yang menjerat tangan dan kaki mama hingga mama tak bisa sampai di rumah mama" kata Bu Diah dengan muka yang sendu, Arif melihat ibunya yang sangat memprihatinkan


" Mah kenapa mamah seperti ini apa penyakit mamah sampai menyiksa mama dan membuat keadaan mama seperti ini?" tanya Arif sambil menangisi kondisi ibunya yang tak bisa dia gapai karena ada jurang yang membatasi mereka


" tolong Mama Rif, hanya kamu yang bisa nolong mama melepaskan semua ini karena bapak dan Susi sudah membantu mama tinggal kamu yang harus menolong mama, tolong lah mama nak tolong lepaskan semua jerat ini mama ingin pulang kerumah dengan tenang tanpa jerat ini " kata Bu Diah dengan air mata dan seakan menjauh dan perlahan menghilang dari pandangan Arif.


" Mama aku mohon mah bagaimana caranya Aku bantu Mama, Ma aku mohon aku janji akan melepaskan mama " kata Arif sambil bersimpuh dan menangis.


Perlahan mata Arif terbuka dengan wajah yang sudah sembab da hari sudah menunjukkan jam setengah enam pagi, Arif mengumpulkan nyawanya


" astaghfirullah, Alhamdulillah ternyata itu hanya mimpi, " katanya sambil mengusap wajahnya dan Arif kaget ternyata dia menangis karena wajahnya basah, Arif dengan cepat melihat wajahnya di cermin dan ternyata benar wajahnya sembab " Ya Allah apa yang sudah terjadi sama mama?" Arif mengusap wajahnya Kasar lalu dia dengan segera beranjak ke kamar mandi dan mandi dengan segera karena takut kesiangan masuk kerja.


Author sedih, pembacanya pada belum ngasih dukungan like dan komen dong, biar aku nya semangat.

__ADS_1


ayo bantu author dengan meninggalkan jejak like dan komennya Ya.


salam cinta dari author 😘😘😘😘😘


__ADS_2