
Ridwan sampai di kampung sekitar jam sembilan malam, tampak lampu ruang tengah masih menyala tandanya masih belum pada tidur, rasanya Ridwan sudah tidak sabar bertemu dengan anak dan istrinya, he he sejak kapan Ridwan memberikan Lebel istri pada Susi, entah kapan Hadi pun tak ingat yang pasti malu ingat nama itu suka bikin tersenyum.
" Assalamualaikum..." salam Ridwan
" waalaikumsallam ..." terdengar suara yang menjawab salam
" deg " jantung Hadi serasa berhenti berdetak mendengar suara itu yang di yakini Ridwan itu suara Susi, Tah berapa lama pintu terbuka dan menampakkan wajah Susi yang polos
" lho mas sudah kesini kan bilangnya nanti kenapa sekarang sudah ada disini?" tanya Susi heran, Ridwan ekspresi nya menjadi datar dia kecewa dengan jawaban Susi yang seolah tidak berharap dia ada disini
" iya aku kangen sama Rayhan" katanya
" ouh cuma kangen Rayhan," kata Susi menunduk wajahnya " eh mas, adu gimana ya itu anu..." kata Susi gugup
" iya. anu apa?" jawab Ridwan sambil mengernyitkan dahinya
" it itu mas, disini kan kamarnya cuma tiga yang satu punya bapa, aku terus yang terakhir di isi dewi sama Rayhan" kata Susi menunduk
" ya sudah aku sama kamu saja" kata Ridwan santai
" hah .. kita tidur satu kamar memang tidak apa-apa?" tanya Susi heran, yang Susi tahu Ridwan itu paling anti harus tidur dengannya, tapi apa katanya barusan mau tidur satu kamar
" iya kita kan suami istri lagian kalau kita tidur
pisah apa kata bapak" jelas Ridwan
" oh iya ya..." kata Susi dengan muka sudah bersemu merah malu
__ADS_1
" kenapa ?" tanya Ridwan sambil menundukkan kepalanya karena tinggi mereka yang cukup jauh dan jangan lupakan wajah mereka yang begitu dekat mata mereka bertemu, tanpa sada wajah mereka sudah makin dekat dan...
" papa...." mereka langsung menjauh kan wajah mereka dan langsung mengalihkan pandangan kearah sumber suara yang tak Li adalah suara Rayhan, mereka saling lirik dan salah tingkah
" papa Ray kangen" Rayhan menghambur keperluan ayahnya yang sudah menyambutnya dengan tangan yang dibentangkan
" ih papa juga kangen banget, tau nggak di rumah sepi nggak ada kamu" kata Ridwan sambil menciumi wajah Rayhan
" ih papa geli, tapi ada sakitnya sedikit" kata Rayhan sambil tertawa karena Ridwan menciuminya dan mengusel usel dagunya ke pipi gembul Rayhan, Ridwan tertawa dan Susi pun ikut tersenyum haru, tak terasa air matanya menetes melihat kedekatan Ridwan dan rayhan,
dia kagum sama Ridwan yang masih mau menyayangi Rayhan walaupun dia tahu kalau Rayhan bukanlah darah dagingnya ketakutan yang sejak dulu menghantui nya kalau kalau Ridwan akan membenci Rayhan setelah melihat apa yang terjadi dihadapannya menguap begitu saja
" papa tau nggak sekarang aku mau bobo sama kakek boleh ya kasihan tidurnya sendirian jadi aku temenin kan kali aku nanti pulang kakek sendiri,boleh ya ?" kata Rayhan yang minta izin tidur sama pak agus
" oh bagus dong tapi jangan ngompol ya" kata Ridwan
" ih papa aku tuh tidak pernah ngompol ya, aku kan suka pipis dulu sebelum bobo" kata rayha sambil memajukan bibirnya lucu
" ayok masuk, apa mau jadi penjaga pintu" bisik Ridwan dan Susi pun tersadar dan langsung mengikuti Ridwan yang menggandengnya menuju ruang tengah
" Assalamualaikum, pak " kata Hadi setelah sampai di ruang tengah sambil menurunkan Rayhan dari gendongannya, lalu menyalami mertuanya dengan sopan
" eh bapak kira mau nanti saja sebelum hari nya ternyata sudah datang sekarang padahal baru kemarin " kata pak Agus
" iya pak kangen sama mereka" katanya santai Susi seakan melayang mendengar kalau Ridwan merindukannya juga walaupun Susi tidak tahu kata itu benar adanya atau hanya karangan Ridwan di hadapan ayahnya saja.
ada desir aneh di hatinya mendengar ucapan Ridwan tak bisa dipungkiri saat ini Susi bahagia mendapat perlakuan seperti itu dari laki laki, karena pada saat dulu sama Riky pun tidak pernah sedikitpun diperlakukan baik, Riky itu kasar tak pernah sedikitpun Riky bersikap lembut tapi entah mengapa dia selalu menginginkan Riky menjadi kekasihnya dan itu merupakan sebuah kebanggaan bisa menjadi kekasihnya, Susi tidak tahu perasaan nya pada Riky entah murni cinta atau hanya obsesi.
__ADS_1
" kamu sudah makan "
" belum pak " jawab Ridwan
" ya sudah kamu makan dulu aja" kata ok Agus
" iya pak tapi saya mau mandi dulu gerah habis perjalanan jauh, badan rasanya lengket banget"
jawab Ridwan
" ya sudah kamu bersih bersih dulu biar seger, Si kamu siapin makan buat suami mu, dan cucu kakek sini sama kakek kita bobo " kata pak Agus mengarahkan anak, menantu dan juga cucunya.
" ok kakek tapi bacain dongeng ya" kata Rayhan semangat sambil berlari kepangkuan kakeknya
" Rey jangan minta di gendong kakek jalan saja kamu sudah besar mana gendut lagi" kata Ridwan sambil memeperingatkan anaknya dan juga menggoda Rayhan, karena Rayhan paling tidak suka kalau di bilang gendut
" papa ih aku nggak gendut aku tuh berisi kata mama juga" katanya sambil cemberut dan menghentak hentakan kakinya, semua yang ada disana tertawa lucu
" iya ya, mungkin papa kamu nggak tahu kalau kamu cuma berisi ya" kata pak Agus sambil menahan tawa
" iya ih yu ah kek kita tinggalin papa" kata Rayhan sambil menarik tangan kakeknya menuju kamar pak Agus, Ridwan masih terkekeh melihat kelucuan anaknya yang cemberut menggoda anaknya memiliki kesenangan tersendiri buat Ridwan
" kamu itu suka banget menggoda dia, " kata Susi sambil menggelengkan kepalanya heran
" iya sekarang aku juga punya sesuatu lagi yang aku suka" katanya sambil tersenyum penuh arti kearah Susi
" apa itu?" tanya Susi sambil mengernyitkan keningnya
__ADS_1
" ada deh.." kata Ridwan sambil berjalan menuju kamar Susi
" ih kok sekarang dia jadi ngeselin ya pantes Rey suka ngambek orangnya kayak gitu, tapi lebih baik sih dari pada jutek kayak dulu" monolog Susi sambil berjalan kearah ruang makan untuk menyiapkan makanan untuk Ridwan, Susi mulai sekarang dia akan mencoba untuk melakukan tugasnya menjadi seorang istri walaupun dia tak tahu akan diterima atau tidak yang penting di sudah berusaha lagian dia tahu kalau Ridwan tak pernah mencintainya sejak awal, karena mereka menikah atas dasar Ridwan berniat bertanggung jawab atas kehamilan Susi yang ternyata bukanlah Ridwan yang melakukannya, tapi sekarang setelah Susi melihat kalau Ridwan sama sekali tidak membenci Rayhan dan malah tidak berubah sama sekali dalam menyayangi Rayhan, dan Susi pun bertekad untuk melayani Ridwan semampunya walaupun Ridwan tak mengharapkannya sebagi seorang istri bagi Susi tak masalah hidup sebagai asisten rumah tangganya pun Susi mau asalkan mereka hidup satu atap agar Rayhan tidak kehilangan kasih sayang.