Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 69


__ADS_3

di depan ruang pemeriksaan, mereka menunggu dengan harap harap cemas takut hal yang tidak diinginkan terjadi, Mira yang tau pak Agus sangat cemas mendekati mertua rasa ayah kandung itu.


" bapak tenang ya, kita berdoa semoga mama baik baik aja, karena sekarang yang mama butuhka adalah dukungan doa dari kita," kata Mira sambil mengelus punggung rikuh pria paruh baya itu dengan llembut, Mira tau pak Agus saat ini sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya, pak Agus menoleh dengan senyum yang dipaksakan kearah Mira, dengan mata berkaca kaca pak Agus mengelus lembut punggung tangan menantu yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung sendiri lalu mengangguk


" iya, kamu anak yang baik nak" katanya sambil mengelus puncak kepala berbalut hijab itu.


pak Agus tahu Mira sama khawatirnya sama seperti dirinya.

__ADS_1


tak berselang lama terlihat diujung lorong itu seorang wanita berjalan dengan tergesa dan menghampiri mereka, setelah sampai dan langsung bertanya tidak sabar


" bagaimana mama?" katanya sambil menstabilkan nafasnya, Karena berjalan ter


gesa


" sus, kamu sudah sampai" kata Mira semua mata tertuju pada susi, Susi mengangguk dengan wajah datar pada Mira,Mira yang peka terhadap raut muka Susi hanya menghela nafas panjang, Mira berusaha untuk bersabar, Mira melirik pada sahabat sahabatnya yang sudah mulai akan memunculkan tanduk di kepala mereka, antara ingin tertawa dan takut mereka ngamuk pada Susi diwaktu dan tempat yang tidak tepat, Mira memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya tanda jangan marah, vita dan Ana memutar bola matanya kesal pada Mira yang terlalu sabar menurut mereka, pak Agus yang merasa udara di sekitar sudah mulai memanas mencoba untuk mencairkan suasana yang sudah tegang karena sikap Susi.

__ADS_1


Tak lama pintu ruang periksa terbuka dan tampaklah Andi yang baru saja membuka ruangan itu, dan mereka langsung menghambur menghampiri Andi


" bagaimana keadaan mama?" kata pak Agus tidak sabar.


" mama harus dirawat kondisinya tidak baik, dan belum siuman" kata Andi sambil menatap pak Agus iba pada pria itu, tak lama blankar yang membawa bu Diah sudah keluar didorong oleh para perawat dan mereka mengikuti dari belakang menuju ruang perawatan, keyika mere sampai di belokan lorong meter bertemu dengan Ridwan dan Arif yang baru datang.


" mama bagaimana Ndi?" tanya Ridwan

__ADS_1


" terpaksa harus dirawat lagi, kondisinya tidak baik dan belum siuman" kata Andi, pak Agus yang mendengar itu mendelik kesal pada Arif yang hanya bisa menghela nafas berat karena merasa bersalah karena dialah ibunya sampai ngedrop lagi seperti ini, sesampainya mereka di ruang perawatan.


" gue minta ntar yang nunggu gantian ya, sementara jangan terlalu banyak kasian pasiennya, tapi kalau pasien sudah siuman dan kondisinya sudah stabil baru kalian barengan pun ok" pesan Andi." Rif bisa ngobrol bentar dituangkan gue ya" kata Andi pada arif, Arif hanya mengangguk sambil melirik kearah Ridwan memeberi isyarat supaya mengikuti Andi sebelum berjalan Arif menghela nafas berat, ketika dia berbalik berpapasan dengan Mira yang baru masuk dan sesaat Arif menatap Mira lekat Mira hanya tersenyum tipis sambi berlalu melewati Arif, ada rasa kecewa saat Mira hanya tersenyum tipis dan tak menyapanya, Arif berjalan meninggalkan ruang rawat menuju ruang Andi, entah apa yang akan dibicarakan Andi, tapi mulai sekarang dia akan mencoba berdamai dengan keadaan dia akan berusaha menekan ego, dan mencari bukti dulu sebelum bicara dan bertindak, obrolannya tadi dengan Ridwan sedikit membuka hatinya, tapi Arif juga tidak bisa berjanji akan bisa seterusnya atau tidak karena baginya sangat membingungkan mana yang benar Mira atau Mona.


__ADS_2