
Arif dan Wira shalat berjamaah dengan Wira yang menjadi imamnya, setelah selesai shalat Arif berdoa dan meminta ampunan kepada Allah
" Ya Allah aku mohon ampunilah segala dosa dosaku, hamba sadar diri betapa kotornya diri dan hati hamba, dan aku mohon Istiqomah kan aku berada di jalanmu lancarkan semua usahaku untuk bertaubat, jauhkanlah diri hamba dari hal hal yang dapat menuntun hamba kejalan sesat, tuntun dan bimbinglah hamba selalu untuk selalu berjalan sesuai ajaran nabi Muhammad Saw, dan aku mohon pada Mu ampunkan lah dosa kedua orang tua hamba dan selamatkan lah ibu hamba dari jerat siksa kubur" dalam hati Arif memohon ampun dengan air mata membasahi pipinya " dan aku mohon teguhkan lah hati dan perbuatan hamba untuk selalu beriman padamu" Arif mengusap wajahnya mengaminkan semua doa doanya. dalam hati Arif sadar semua yang dikatakan bapaknya benar dia berubah semenjak bertemu Mona, dan mulai sejak itu pula dia tak pernah lagi menyentuh air wudhu dan melaksanan shalat, dan sikapnya juga berubah menjadi kasar dan temperamental, Wira yang melihat Arif termenung setelah berdoa. Wira membiarkan Hadi merenungi semua kesalahan dan apa yang sudah terjadi di hidupnya.
Tiba tiba ponsel Arif bergetar tanda ada panggilan masuk membuyarkan lamunannya, Arif Arif tersentak kaget, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan ternyata itu adalah video call dari no ibunya Mira, Arif mengerutkan keningnya ada apa ibunya Mira menghubunginya video call pula, tapi tak ayal Arif menggeser tombol hijau dan ternyata wajah Syifa memenuhi seluruh layar ponselnya menampakkan wajah nya yang mirip sekali dengan Mira
deg jantung Arif serasa berhenti berdetak melihat wajah itu
" Astaghfirullah" Arif mengusap kasar wajahnya tak pantas dia mengingat lagi Mira yang notabenenya sudah menjadi istri orang lain
"Assalamualaikum ayah " suara cempreng Syifa menyadarkan Arif dari lamunan
" waalaikumsallam sayang" jawab Arif sambil tersenyum teduh pada anaknya
" ayah tahu nggak Syifa habis sholat sama Nini, tahu nggak aku juga habis baca iqro" katanya bangga
"wah hebatnya anak ayah, doain ayah nggak" tanyanya, Syifa mengangguk dengan mantap
" iya dong aku doain Bunda, Papa, ayah, Nenek, kakek Rayhan pokonya semua aku doain " katanya antusias sampai semua orang dia absen, Arif tersenyum miris namanya di sebut setelah Reynand yang notabenenya adalah ayah sambung tapi Arif sadar kasih sayang Reynand sudah lebih dari ayah kandung, Arif tersenyum dan mencoba berlapang dada
" Ayah sudah sholat belum?" deg jantung arif, hatinya serasa di hantam batu besar mendengar pertanyaan anaknya yang belum genap berumur lima tahun bagaimana kalau dia saat ini belum shalat apa yang akan dia katakan
" sudah dong ini ayah baru selesai shalat," katanya kikuk
" wah ayah juga hebat kata Nini kita tidak boleh meninggalkan shalat nanti kalau kita sudah meninggal pasti di bakar sama api neraka, hiiih serem, Syifa nggak mau kalau ayah masuk neraka" katanya tak terasa Arif meneteskan air mata mendengar penuturan anaknya, dia begitu sayang padanya walaupun Arif sudah mengabaikan nya, Arif bersyukur Mereka semua tidak pernah menanamkan rasa benci pada Syifa untuknya, mereka malah mengajarkan Syifa untuk selalu mendoakan dan tidak pernah dendam padanya
" Ayah Syifa kangen main lagi sama ayah," katanya sambil menatap wajah ayahnya penuh harap, Arif yang mendengar itu langsung tersenyum iya besok ayah jemput ya kita min berdua sepuasnya" kata Hadi mantap
" tapi Syifa juga mau bobo sama ayah" Hadi tampak berfikir
__ADS_1
" iya nanti ayah minta izin bunda sama papa dulu ya, kamu juga minta izin mereka ya" kata Arif sambil tersenyum
" horeee, papa sama bunda juga ada ayah" kata Syifa sambil mengalihkan layar pada Mira dan Reynand yang sedang duduk menemani Syifa
" pa, Bun boleh ya Syifa bobo sama ayah" izinnya pada Reynand dan Mira
" boleh, tapi sini papa bicara dulu sama ayah" kata Reynand
" Hai Rif, lu mau ajak Syifa nginep?" tanya Reynand yang menampilkan wajah Reynand dan Mira
" iya kalau kalian izinkan" kata Arif lemah sambil tersenyum
" ya sudah ntar sore lu jemput kesini" kata Reynand, Arif tersenyum bahagia mendengar itu.
" horeeeee makasih papa, Syifa sayaaang banget sama papa" katanya sambil memeluk Reynand dan menciumi wajah Reynand dan mereka pun tertawa
" oh pasti dong Syifa sayang Papa, bunda juga Ayah dan juga Dede bayi" kata Syifa sambil memeluk Mira dan menciumi perut Mira, Arif yang mendengar itu tertegun " apa Dede bayi apa mungkin Mira sedang hamil" Dalam hati Arif bergumam dan tersenyum miris, dia bingung entah dia harus senang atau sedih mendengar itu
" ayah nanti jemput nya jam berapa ?" pertanyaan Syifa membuyarkan lamunannya
" iya nanti ayah jemput setelah ayah pulang kerja ayah langsung jemput kamu" kata Arif sambil tersenyum
" ya sudah sekarang ayah harus kerja dulu nanti ayah jemput ok" kata Arif
" ok Assalamualaikum ayah" katanya sambil melambaikan tangannya
" waalaikumsallam sayang" kata Arif sambil menutup panggilan, sambil tersenyum senang, lalu menoleh pada Wira
" ayo Wir kita masuk kantor kita harus kerja lagi dan maaf waktu makan siang habis buat aku pake konsultasi" kata Arif merasa tidak enak karena Wira sampai tidak sempat makan siang karena habis untuk ngobrol.
__ADS_1
" nggak apa-apa bang santai saja" kata Wira sambil bangkit dan berjalan keluar, sbil berjalan
"itu anak lu bang" tanya Wira pada Arif sambil berjalan
" iya dia anak gue " jawab Arif sambil tersenyum membayangkan wajah cantik anaknya
" dan yang tadi itu mantan istri lu dan suaminya?" tanya Wira lagi sebab tadi dia sempat mengintip layar ponsel Arif yang duduk disebelahnya
" iya Mereka Mira dan Reynand" jawab Arif lagi sambil mengangguk
" itu suaminya mantan isteri lu kayak pernah lihat tapi dimana gue lupa" kata Wira tampak berfikir
" oh ya dia seorang perwira polisi, mungkin lu pernah lihat di di tv soalnya banyak kasus kasus besar yang sudah dia tangani dan sukses semua" kata Arif menjelaskan
" nggak tahu juga, mungkin juga sih, tapi yang gue dapat menilai mereka orang yang sangat bijak " kata Wira
" iya bahkan gue jadi malu sendiri atas sikap gue uang telah lalu kalau ketemu mereka " kata Arif sambil tersenyum kecut mengingat semua sikapnya pada Mira dan Reynand.
" Wir, menurut lu bagaimana ya cara menghindari Mona kalau dia mengajaaaak...." Arif mengusap tengkuknya canggung
" lu bilang aja kedia kalau anu lu gatal gatal gitu dan belum sempat diperiksa ke dokter" Saran Wira terkesan menyumpahi, Arif mendelik kesal pada Wira
" enak saja lu nyumpahin junior gue budug gitu" katanya menatap Wira tajam, Wira terkekeh
" kata Abang tadi cara menghindari perbuatan itu terjadi kan kalau lu bilang begitu otomatis di jijik tuh dan nggak bakalan mau tuh berhubungan dan sekaligus lu bisa ngetes dia dengan itu dia tetap mau bertahan sama lu walaupun junior lu penyakitan atau malah menjauh dari lu, berbohong buat kebaikan itu dihalalkan lho bang" jelas Wira, Arif tampak berfikir ada benarnya juga apa yang Wira katakan dan dia mengangguk mengerti
" ok gue coba, walaupun terdengar konyol tapi moga aja bisa jadi solusi" kata Arif
" Aamiin " jawab Wira mengamini ucapan Arif dan mereka pun tertawa sambil berjalan Arif sudah lebih tenang, wajah Arif tak lagi lecek wajahnya terlihat segar.
__ADS_1