
setelah sholat magrib berjamaah lalu mereka makan malam bersama, setelah makan malam bersama sambil menunggu Syifa yang lagi siap siap Arif, Farhan, Reynand dan Budi duduk di ruang tamu
" Rif gue saranin walaupun kita minta lu buat bersikap biasa sama Mona usahain lu batasi diri jangan sampai lu ngelakuin yang *** *** ya" kata Farhan sambil terkekeh
" sebenarnya sebelum gue kesini sahabat gue di kantor nyaranin itu juga malah kalian tahu nggak saran dia buat mencegah Mona nggak minta itu sama gue" kata Arif sambil senyum senyum inget saran konyol Wira
" apa?..." kata mereka kompak
" gue harus pura pura terkena penyakit kulit bagian itu kayak budug gitu kalau kata orang kampung mah" kata Arif sambil menahan malu
" buahaha ha" mereka semua tertawa terbahak bahak bahkan Reynand sampai mengeluarkan air mata, Budi memegang perutnya dan Farhan tak jauh beda dari mereka, sedang Arif mendengus melihat mereka menertawakan ide konyol itu
" Eh tapi gue rasa emang itu cara efektif buat menghindar Secara kantin cewek nafsunya gede" kata Farhan, sontak mereka menghentikan tawanya dan menatap tajam pada Farhan
" dari mana lu tahu kalau nafsunya dia gede" tanya Reynand " lu pernah sama dia ya" tunjuk Reynand
" sembarangan gue mah suci" kaya Farhan
" suci suci dalam debu lu" kata Reynand sambil melempar bantal sofa pada Farhan sambil mencebik
" Iya tapi gimana ntar kalau Mona ngajak gue periksa, kan jadi ketahuan gue bohong " kata Arif Lemah
" gini aja ntar gue suruh Andi bikinin surat pernyataan lu sakit itu, tapi amit amit ya" kata Budi sambil bergidik ngeri
" amit amit amit " kata Arif sambil mengetuk ngetuk dahinya
" Eh kalau bisa jangan dari rumah sakit si Andi, ntar ketahuan, ntar gue bikinin sama temen gue" kata Reynand sambil mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang
" siang "
"...."
" iya nih biasa minta surat pernyataan buat bahan penyelidikan, "
" ..."
" sakit apa tuh namanya yang penyakit gatel gatel di kelamin" jelas Reynand
__ADS_1
" pria"
" ..."
" sebentar dikirim"
"..."
" sekarang ya di tunggu di rumah 15 menit ya"
" ..."
" ok"
kata Reynand sambil memutus panggilan " pinjem KTP lu" kata nya sbil menandakan tangan pada Arif dan Arif memberikan nya lalu Reynand mengambil fotonya dan mengirimkan
" tunggu bentar lagi di anter kesini" sambung Reynand lagi, tiba tiba ponsel Arif berdering tanda ada panggilan masuk, Arif tak langsung mengangkat nya malah menatap pada mereka
" siapa?" tanya Budi, Arif memperlihatkan layar ponselnya
" lu angkat lu bilang lu lagi di rumah sakit, lagi periksa itu" kata Reynand mengarahkan dan Arif menganguk, lalu menggeser tombol hijau
"..."
"iya nanti aku jelasin, aku tutup dulu ya" katanya sambil memutus panggilan
" ok siiiiiip" kata mereka bertiga sambil mengacungkan jari jempolnya.
setengah jam kemudian terdengar ada yang datang dan ternyata itu adalah orang yang mengantar surat diagnosa Arif yang dikirim dokter, Arif melotot melihat hasil diagnosa nya yang ceritanya penyakitnya sangat memalukan
" kenapa?" tanya Budi, Arif menyerahkan lembaran itu sambil menatap tajam pada Reynand, sedang yang di tatap santai saja menyeruput kopinya
" hiiih" kata Budi bergidik ngeri melihat itu surat itu
" kenapa" tanya Farhan dan melihat itu di terkekeh " sabar Rif ini kan cuma sandiwara moga aja kagak kejadian, hiiih" kata Farhan awalnya menenangkan ujung ujungnya sama saja
" Rey lu kagak kira kira bikin gua. semenjijikan gini " kata Arif tak terima
__ADS_1
" ya kan harus total Rif" kata Reynand santai
" ayah ayo katanya mau berangkat" tiba tiba suara cempreng Syifa mengalihkan semua fokus pada Syifa
" ayo sayang, udah siap?" tanya Arif sambil mengulurkan tangannya dan menggandeng tangan Syifa lalu berpamitan pada semuanya
Arif menjalankan motornya
" sayang sekarang sudah malam kita pulang kerumah ayah dulu ya besok baru kita jalan jalan, ok" kata Arif pada Syifa
" ok siiiiiip " kata Syifa sambil mengacungkan jempolnya dan Arif pun menjalankan motornya menuju ke rumah kontrakannya.
sesampainya mereka di rumah Arif mengajak Syifa langsung tidur karena malam sudah menunjukkan jam sembilan malam cukup malam untuk jam tidur untuk anak anak
" sayang tidur dulu ya besok kita jalan jalan berdua" kata Arif
" tapi aku nggak bisa tidur kalau nggak di bacain dongeng" kata Syifa
" hah dongeng apa kamu maunya" tanya Arif sambil merebahkan tubuhnya disamping syifa, sebenarya dia bingung gimana caranya membacakan dongeng
":e mang biasanya bunda suka dongeng apa?" nya lagi
" bukan bunda yang suka bacain dongeng ayah, tapi Papa " Arif terkejut mendengar penuturan anaknya, di merasa tertampar mendengar itu, betapa besar Reynand menyayangi anaknya yang dia abaikan, sungguh dia adalah ayah yang sangat dzolim,
" ayah ayo cepetan " rengek Syifa
" oooh i iya sebentar " akhirnya Arif membaca dongeng walaupun entah dongeng apa awalnya si kancil tapi ujung ujungnya ada gajah yang ikutan nimbrung tapi Syifa diam dan perlahan Syifa tertidur Arif menghentikan dongengnya
" hufh besok besok sepertinya aku harus beli buku dongeng " katanya bergumam, Arif memandang wajah polos anaknya yang begitu cantik persis seperti Mira
" maafkan ayah sayang, ayah sudah di buktikan oleh cinta yang laknat ini sampai sampai kami jadi korban, ayah berjanji mulai sekarang ayah akan jagain kamu walaupun harus nyawa yang jadi taruhannya kamu menderita karena ulah ayah tapi sekarang kamu sangat bahagia walau bukan ayah yang memberikan perhatian dan kasih sayang, Sungguh tulus kasih sayang Reynand pada mu nak, sekarang ayah tahu kenapa semua orang membenci Mona " Arif mengusap wajahnya dia merutuki kebodohannya yang sudah terperdaya oleh cinta, tiba tiba ponsel Arif bergetar ternyata Mona yang menelpon Arif ragu mengangkat telepon dari Mona tapi mengingat rencananya dia menarik nafas dalam-dalam lalu menggeser tombol hijau pada ponselnya
" ya sayang " kata Arif singkat ingin rasanya di muntah mendengar ucapan nya sendiri
" aku di depan " katanya Arif terkejut dia panik apa yang harus dia katakan dan harus bersikap seperti apa
" bismillah gue bisa gue harus bisa semi keluarga ku, Ya Allah bantu aku untuk mengungkap semua kejahatan Mona dan aku mohon jangan biarkan aku kembali kejalan yang berlubang dosa Ya Allah aku mohon " ARif terus saja berdoa dalam hati semoga semuanya berjalan sesuai Rencana
__ADS_1
" bang kamu kok malah diam sih " kata Mona terdengar kesal
"sebentar sayang aku ke depan sebentar ya " katanya lalu Arif memasang mukanya dan penampilannya sekuat mungkin untuk melancarkan aksinya agar terlihat sedang terpuruk dengan penyakitnya, lalu berjalan keluar kamar setelah memastikan Syifa tertidur nyenyak dan mengunci pintu kamar dan berjalan ke depan dengan memantapkan hati nya dia akan berusaha senatural mungkin.