Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Nana-Nana Lain


__ADS_3

Setelah menunaikan sholat dhuhur, Nana meminta waktu pada Zen untuk istirahat sebentar di serambi masjid, yang berada di area Kantor Kementrian agama (KEMENAG) kabupaten Demak, untuk melepaskan lelah. Karna setelah ini, mereka masih harus melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Semarang.


" Mau nikah aja, ngurusnya repot banget ya Mam! " Nana menyandarkan punggungnya pada tembok. " Kirain cuma perlu ke KUA. Tapi ternyata, harus ke puskesmas buat priksa kesehatan. Harus ke bank buat bayar administrasi. Masih harus foto di kantor KEMENAG juga! " Sambat Nana.


Zen membuang muka. Ia tidak ingin senyum liciknya itu diketahui oleh Nana. Untuk tujuan mereka yang di bank dan di kantor kementrian agama, masih Zen ingin menyembunyikan kebenarannya dari Nana.


Walau saat keluar dari bank, Nana sempat menanyakan, mengapa past foto mereka yang Zen serahkan pada pegawai bank, menggunakan background putih. Tidak seperti past foto yang ia serahkan pada petugas KUA. Karna pada saat itu, Nana yang diajak Zen ke studio foto, untuk memenuhi persyaratan pendaftaran nikah, tidak begitu memperhatikan berapa ukuran dan jumlah foto yang dicetak oleh Zen. Apalagi sampai mengetahui jika Zen mencetak fotonya menggunakan background putih. Yang dirasa tidak wajar olehnya itu.


Sabar ya, Mun! Bentar lagi, Mumum juga bakal tau, kenapa kita bisa sampai serepot ini.


" Kalau tau gini, Mumum nggak pingin nikah lagi, Mam! "


" Heh? " Sadar apa yang diucapkan Nana barusan. " Maksud Mumum, kalau ngurusnya gampang, Mumum mau nikah lagi? Sama siapa, hah? Nikah sama Mamam aja belum kelakon, ini udah berani-beraninya ngerencanain buat nikah lagi! Emangnya Mamam nggak bisa muasin Mumum apa?! " Zen mengomel.

__ADS_1


" Sabar.... " Nana mengelus dada Zen. " Mau ngulang nikah berapa kalipun. Yang bakal Mumum ajak nikah, ya tetep Mamam-ku seorang. " Alasan yang dibubuhi dengan banyak kedipan mata itu, tidak mungkin jika tidak bisa meluluhkan hati Zen. " Kan biar nanti, kita bisa jadi pengantin baru terus, Mam. " Imbuh Nana, yang langsung membuat lesung dipipi Zen terlihat semakin dalam.


Untung Mamam-ku gampang dirayu!


" Kalau itu sih kita nggak perlu nikah lagi, Sayang! " Ucap Zen sambil membetot hidung Nana.


Cuma perlu sering kawin aja! Biarlah hanya Tuhan saja, yang mendengar jeritan hati Zen ini.


" Aaaaaww. Awas! Nanti Mumum do'ain biar anak Mamam ketularan pesek, kayak Mumum lho. " Nana mengelus hidungnya yang terasa nyeri.


" Anaknya Mamam ya berarti anaknya Mumum juga! "


" Aww! Mamam! " Baru juga dilepaskan, Zen sudah mencubit lagi hidung Nana yang masih memerah.

__ADS_1


Oh iya ya... Nana baru sadar, jika baru saja ia menyumpahi calon anaknya sendiri. Amit-amit jabang bayi. Mengelus perutnya yang keroncongan karna melewatkan jam makan siang.


" Tapi nggak apa-apa sih. Mamam malah seneng, kalau anak-anak kita nanti bisa mirip sama Mumum semua. "


Kenapa tidak. Nana memiliki fisik sempurna tanpa cacat. Dan parasnya yang cantik itu juga bisa menjadi nilai plus, untuk diturunkan pada anak-anaknya nanti.


" Nggak! Nggak ada yang boleh mirip sama Mumum, pokoknya! " Ucap Nana tidak suka.


" Hah? Lha emangnya kenapa sayang? Mereka kan anak kita. Kalau nggak boleh mirip sama Mumum, terus mereka mau disuruh mirip siapa? Tetangga? " Zen merasa gemas dengan kelakuhan Nana.


" Ya nggak gitu juga. " Nana mengalah. " Tapi kan Mumum takut! "


" Takut kenapa, Mum? " Zen keheranan.

__ADS_1


" Ya takut aja, kalau anak kita mirip sama Mumum, nanti bisa-bisa Mamam-nya berpaling dari Mumum. " Mata Nana sudah berkaca-kaca, membayangkan kemungkinan itu. " Kan nggak enak juga Mam. Kalau Mumum harus bersaing sama anak sendiri, demi dapetin perhatiannya Mamam. "


Zen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Disatu sisi ia merasa gemas, tapi disisi lain ia merasa jika perkataan Nana ada benarnya juga. Kalau cuma kemiripan fisik sih, tidak jadi masalah. Tapi bagaimana, jika anak-anaknya nanti juga memiliki kemiripan sifat seperti Nana. Karna untuk menghadapi satu Nana saja, ia sering merasa kualahan. Lalu apa jadinya, kalau akan muncul Nana-Nana lain di dalam rumahnya kelak.


__ADS_2