
Belum juga Zen sempat membagikan kabar bahagia, mengenai tanggal pernikahan yang sudah ditetapkan oleh ayah, tiba-tiba Nana malah memutus pembicaraan yang sedang berlangsung.
Zen tersenyum, ada kepuasan dalam hatinya. Ia yakin, ia tidak akan pernah merasa bosan meski harus mencintai satu nama dalam hidupnya, yaitu Nana. Karna Nana selalu berhasil membuatnya jatuh cinta dengan cara yang tidak terduga seperti sekarang ini.
" Mumum gemesin banget sih, kalau lagi cemburu. " Ucap Zen sambil menekan tombol panggil di layar ponsel.
Tut... tut... tut...
Ia mencoba memanggil ulang nomor Nana. Percobaan pertama gagal, Zen tidak mendapat jawaban. Ia mengulang lagi panggilannya, masih belum ada menjawab. Dan di saat ia mengulangi panggilan untuk kesekian kali dengan hasil yang masih sama, seketika senyum di bibir Zen langsung menghilang.
Zen menyingkirkan guling dari pelukan dengan cara ditendang, seakan guling itu adalah musuh dalam selimutnya.
Suasana hatinya semakin kacau, mengapa Nana tidak mau menerima telfon darinya. Muncul sebuah kemungkinan yang cukup mengganggu dalam kepala.
Suara tarkhim (lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, menjelang adzan subuh) menggema dari corong spiker masjid yang bersumber dari kaset rekaman. Untuk mengusir kegelisahan, Zen ingin mencoba menghubungi Nana sekali lagi sebelum berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat subuh. Karna masih banyak yang ingin ia bahas bersama Nana, mengenai rencana pernikahan yang tidak dapat ditunda, mengingat waktunya yang hanya tinggal sebentar lagi.
" Ini ngambeknya beneran toh? " Mendapati nomor ponsel Nana tidak dapat dihubungi karna kemungkinan sedang di matikan.
Perasaan menyesal dan bersalah sudah terlalu mengganggu. Zen merabai kesalahan dalam dirinya. Dan mempertanyakan apakah Nana benar-benar percaya dengan candaannya.
" Hih... " Zen mengatupkan ibu jari dan telunjuknya didepan layar ponsel, seakan-akan ia akan mencubit foto Nana yang ia jadikan sebagai latar di layar ponsel, tanpa seizin sang model.
" Jangan bilang Mumum percaya, kalau yang Mamam rinduan itu bukan Mumum! Masa Mumum lupa sih, kalau hati Mamam udah Mamam pasrahkan bongkok'an (pasrahkan sepenuhnya) sama Mumum! "
Giliran foto Nana yang menjadi sasaran Zen. Meski sama-sama menjadi bahan pelampiasan, tapi nasib foto Nana lebih baik dari sang guling. Karna Zen tidak mungkin melempar ponselnya, maka pilihan yang tersisa hanya membawanya dalam dekapan hangat dadanya.
***
Setelah megakhiri pembicaraan un-faidahnya dengan Zen di pagi buta. Nana mengheningkan nada dering ponsel dan memutar lagu di daftar favoritnya, sebagai pengantar tidur yang sempat terganggu oleh Zen.
Nana terbangun. Akhirnya ia memperoleh tidur yang cukup untuk mengusir rasa letih dari dalam tubuh. Nana melihat ponselnya yang ternyata sudah kehabisan daya baterai. Ia beralih ke jam di dinding dan kemudian bergegas, karna waktu subuh hampir habis.
" Mbak, bangun! Udah siang! " Nana membangunkan teman sekamarnya yang baru.
" Aku lagi nggak sholat. " Jawab Endah tanpa melihat kearah Nana.
" Hih, pantesan nggak bangunin aku! " Ucap Nana sambil menabok p*ntat Endah.
" Aawww! Nana!!! " Teriakan Endah kalah cepat dengan langkah Nana yang sudah sampai diluar kamar.
__ADS_1
***
Setelah membuat susu coklat untuk menghantakan perutnya dipagi hari, Nana mengaktifkan ponselnya yang baterainya sudah terisi daya 70%. Ia ingin melaporkan kondisinya pada ayah dan Ibu.
Drett... Drett... Dreett... Suara getar notifikasi yang sedang berebut untuk masuk duluan, di ponsel Nana.
" Hah? Misscall dari Mamam banyak banget. " Nana memelihat lima panggilan tidak terjawab di ponselnya.
Lebih kaget lagi saat ia membuka deretan pesan chat dari Zen yang juga berisikan panggilan yang tidak terjawab.
" Ini Mamam lagi kesambet apa sih?! "
Nana mulai menggeser pelan layar ponsel untuk membaca satu persatu pesan dari Zen.
" Mumum... "
Panggilan suara tak terjawab pukul 03.10
" Mumum-ku... "
" Mumum-ku sayang... "
" Bidadari-ku... "
Panggilan suara vidio terjawab pukul 03.20
" Istriku... "
Panggilan suara tak terjawab pukul 03.30
" Beneran ngambek, tah? Nyampai nggak mau bales. Nggak mau angkat telfon Mamam? "
Panggilang vidio tak terjawab pukul 04.00
Panggilan suara tak terjawab pukul 04.02
" Sayang-ku. "
" Cinta-ku. "
__ADS_1
" Demi Allah! Tadi Mamam cuma bercanda, Mum. "
Panggilan suara tak terjawab pukul 04.30
" Mumum... Mamam kangen banget ini lho sama Mumum. Angkat dong telfonnya, Sayang. "
Panggilan vidio tak terjawab pukul 05.00
" Mumum. Udahan dong mutungnya! Jangan siksa Mamam lagi. Mamam udah nggak sanggup diginiin sama Mumum. "
Deretan emoticon menangis memenuhi pesan ini.
" Mamam nyerah! "
" Mamam kapok! "
" Mamam janji nggak bakal gituin Mumum lagi! Tapi Mumum harus ma'afin Mamam sekarang juga! "
Nana cekikikan, membaca pesan berantai dari Zen yang ternyata kelimpungan mencarinya. Sedangkan yang dicarinya malah enak-enakan melanjutkan tidur.
" Hahaha kasihan juga Mamam-ku! "
Dreettt... Dreeett.. Dreeeeetttttt
Panggilan masuk dari Zen.
" Loh, masih berlanjut toh ternyata! "
Mungkin, karna Zen melihat jika pesan chatnya sudah dibaca, ia langsung menghubungi Nana lagi. Tapi teganya Nana, ia malah menolak panggilan itu dan mengetikan sebuah pesan.
" Berisik!!! " Nana mengirimkan pesan itu pada Zen.
" Astagfirullah hal adzim. Mumum tega banget sih sama Mamam! " Pesan balasan dari Zen yang banjir dengan air mata.
Nana malah tertawa sampai terpingkal-pingkal membaca pesan balasan dari Zen, yang klimatnya tidak mengandung humor sama sekali.
" Emang enak! Mumum kerjain. "
Nana tidak membalas lagi. Ia memilih menghubungi orang tuanya terlebih dulu, sebelum nantinya ia menghubungi Zen untuk mengerjainnya lagi.
__ADS_1