
Jam di dinding menunjukan pukul 10:32, ketika Zen memasuki kediamannya. Setelah mengunci pintu utama rumah, Ia bergegas ingin mengambil ponselnya didalam kamar, agar bisa segera menghubungi Nana untuk membagikan kebahagiaan yang tengah ia rasakan saat ini.
TVnya masih menyala.
Langkah Zen terhenti saat memasuki ruang tengah, dilihatnya ayah masih terjaga di depan TV yang menyala meski hari sudah malam.
" Udah pulang, Nang? " Ayah menyapa.
Selepas menunaikan sholat magrib berjamaah di masjid, Zen pamit untuk bersilaturahmi ke rumah orang tua Nana, karna ada titipan yang perlu ia sampaikan. Tapi Zen tidak mengatakan jika titipan itu berupa ucapan, agar orang tua Nana mau mengizinkannya untuk segera menikah dengan Zen.
Kalau tidak dicoba, mana tau hasilnya, begitu cara Zen tadi mengumpulkan keberanian untuk menghadap ke calon mertuanya. Dan sekarang ia sudah mendapatkan hasil yang tidak menghianati usahanya.
" Sampun, Pak. Bapak kok belum tidur? "
Zen masih berdiri. Ia belum memutuskan mau masuk ke kamar atau duduk menemani ayahnya.
" Belum. Gimana kabar Pakde Bude-mu, Nang. Sehat semua toh? "
" Nggih, Pak. Alhamdulillah sehat semua. "
Zen sudah memutuskan untuk masuk ke dalam kamar setelah memberikan jawaban pada ayahnya. Ia meletakkan pecih yang tadi ia kenakan di atas meja rias, tepat disamping ponsel Nana yang sudah ia ganti temperglassnya.
" Tungguin Mamam bentar ya, Mum. " Zen mengusap ponsel itu sebelum keluar kamar menemui ayahnya.
Keinginan untuk menghubungi Nana ia kesampingkan sebentar, karna sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk ia menyampaikan hal penting pada ayah.
" Ibu udah tidur, Pak? "
__ADS_1
" Habis sholat isya', ibumu langsung tidur. Capek katanya. "
Ia mulai menyentuh kaki ayah dan memijatnya seperti biasa, saat ayah sulit untuk tidur malam.
" Pak, Pakde Munir udah ngasih tanggal. Lha Bapak gimana, apa sudah siap mantu? " Malu-malu, Zen memulai pembicaraanya.
Zen memang tidak terbiasa membicarakan hal-hal pribadi seperti ini pada keluarganya. Tapi ini adalah pengecualiaan, mumpung Rif'an yang tadi siang pergi belum pulang dan ibu juga sedang tidur di dalam kamar.
" Alhamdulillah ya Allah! " Ayah menyerukan rasa syukurnya dengan keras.
Bapak... Rasa malu didiri Zen semakin bertambah karna melihat respon ayahnya.
" Pak, ada apa? " Ibu sempoyongan keluar dari kamar. Nampaknya suara syukur ayah sudah mengagetkan ibu.
Zen kaget melihat kemunculan ibu yang tiba-tiba. Apalagi dengan sifat ibu yang bertolakbelakang dengan sifat ayah yang tenang, kemunculan ibu hanya akan membuat kehebohan yang sebenarnya ingin dihindari oleh Zen.
" Mantu? " Dengan selimut yang masih ditangan, ibu mencerna ucapan ayah.
" Kang Munir udah ngasih tanggal pernikahannha kenang Zen sama Genduk Nana, Bu. "
" Ya Allah, Pak! Alhamdulillah... Kapan, Pak? Ibu udah nggak sabar bikin hajatannya. Nanti yang meriah lho ya, Pak. Kita kan udah lama nggak nikahin anak. " Ternuata girangnya ibu sudah melebihi ekspektasi Zen.
" Kapan, Nang? " Ayah bertanya pada Zen. Karna ayah juga belum sempat menanyakan hal itu.
Belum juga Zen menjawab, terdengar ketukan di pintu.
" Assalamu'alaikum. "
__ADS_1
Ibu bergegas membukakan pintu. Karna ia tau siapa yang mengucapkan salam di depan pintu.
" Rif, Mas-mu bentar lagi mau nikah lho. "
Sudah tidak sabar menunggu, ibu memberitahu Rif'an bahkan sebelum Rif'an memasuki rumah.
" Lha kok bisa, Bu? " Rif'an agak tidak percaya, karna baru tadi siang Zen pulang dari Semarang, bagaimana bisa sekarang ada berita seperti ini.
" Ibu yo nggak tau. Tapi tadi Mas-mu emang habis dari rumahnya Pakde Munir. "
" Berarti ini beneran ini, Bu! Bukan kabar hoaks. " Tiba-tiba tubuh Rif'an yang lelah itu kembali bersemangat.
" Apa toh, kok howak-howak kamu itu? "
" Hoaks itu kabar apus-apus, Bu. Nanti bikin seragam keluarga ya, Bu. Aku punya kenalan, dia punya toko kain. Nanti sekalian bisa jahit disana. "
" Oh iyo! Bener iku, harus bikin seragam keluarga. Ibu setuju banget. Masalah seragam tugas kamu yang ngurusin lho ya. "
" Beres, Bu! " Kalau Mas Zen udah nikah kan tunggal giliranku. Lanjut Rif'an dalam hati.
" Mbak-mu dikabari, biar bisa bantu ibu nyatetin belanja. "
" Besok, Bu. Ini udah malam. "
Rif'an dan Ibu asik mendiskusikan rencana pernikahan Zen di ruang depan penuh semangat. Sedangkan Zen hanya senyum-senyum sendiri mendengarkannya dari ruang tengah bersama ayah. Ia tidak menyangka jika pembicaraan seriusnya dengan ayah harus berakhir menjadi kehebohan seperti ini.
" Nang, rumah yang buat hadiah Genduk Nana sudah siap? "
__ADS_1
Ayah sedikit hawatir. Tanggal pernikahan sudah didepan mata, tapi rumah yang setahun lalu ia minta untuk diberikan pada Nana sebagai hadiah pernikahan kelak, masih juga belum ada kabar dari Zen.