
Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Suara takbir menggema dimana-mana. Tanda suka cita para kaum muslim dalam menyambut hari raya idul fitri.
" Bu, Adek kerumah Pakde. Sekalian nganterin Zakat." Pamit Nana setelah menunaikan sholat isya'.
Nana berjalan menuju rumah Pakde yang letaknya hanya berada di samping rumahnya sendiri. Sekerumunan cowok yang berada diteras rumah itu, menatap kearah Nana. Dan saling berbisik untuk menyambut kedatangannya.
" Cewek..." Begitu mereka memanggil Nana bersaut-sautan.
" Apa ?" Nana ketus.
" Cepetan kesini." Salah satu dari mereka menepuk lantai, mempersilahkan Nana untuk duduk.
" Emoh ! Weeek." Nana langsung masuk kerumah Pakdenya selaku imam masjid dan guru ngaji, untuk menyerahkan zakat sekalian sungkeman.
__ADS_1
Itulah alasan mengapa Sholeh mengusulkan tradisi yang saat ini dijalankan didalam keluarganya. Sholeh menginginkan dia juga adik-adiknya melakukan sungkem pertama mereka hanya pada Ayah dan Ibu, sebelum mereka sungkem atau halal bi halal dengan orang lain.
Di hari terakhir bulan puasa, Nana sekeluarga menjalankan tradisi yang sudah berlangsung beberapa tahun ini. Yaitu berbuka bersama dirumah Ayah Ibu, dilanjutkan dengan sholat magrib berjama'ah kemudian diakhiri dengan ritual sungkeman. Yang kali ini dipimpin oleh Firman akibat ketidak hadiran Rahmat dan Sholeh saat ritual berlangsung.
Setelah menyelesaikan ritual, Firman yang datang hanya dengan Raka karna kondisi Yuni yang baru saja melahirkan anak keduanya beberapa hari yang lalu, pulang untuk menunaikan zakat. Begitu pula Hafid dan keluarga kecilnya. Meninggalkan Nana juga orang tuannya yang lelah menyiapkan menu makan besar mereka. Karna Dinda dan Hafid memilih tugas bersih-bersih rumah Ayah Ibu.
***
Setelah grup cewek-cewek Nana berkumpul, mereka bergabung dengan sekumpulan cowok yang menggodanya tadi. Ya, sebagian besar cowok yang menggoda Nana tadi merupakan saudara sepupunya sendiri, yang memang biasa berkumpul diteras rumah Pakde pada saat malam takbiran. Selain untuk menonton parade takbir mursal yang diadakan di desa, mereka juga mempergunakan momen ini untuk saling berbagi cerita untuk ditertawakan bersama. Karna dihari-hari biasa mereka tidak mungkin dapat melakukannya dengan kesibukan masing-masing.
" Ya ingatlah!" Ucapnya pada pemuda yang merupakan teman sekelasnya saat masih di sekolah dasar.
" Dia bilang suka sama kamu, Yank!" Bisik kakak sepupu Nana ditelinganya. Yang memang suka memanggilnya dengan sebutan itu.
" Hah!" Memang dari dulu Nana tidak pernah memiliki minat untuk memiliki hubungan dengan pemuda di desanya. Kalau mengenai Zen, beda lagi ceritanya.
__ADS_1
Sudah menjadi rahasia umum di desa Nana. Karna orang-orang selalu membicarakan mengenai orang-orang yang datang mengajukan lamaran untuk Nana, meski tidak pernah tau seperti apa dirinya yang sekarang, semua itu tidaklah lepas dari status sosial keluarga dan juga rumah pribadi milik Nana yang sengaja dibangun oleh orang tuanya untuk memenuhi impian masa kecilnya Nana.
Suara takbir bersaut-sautan diiringi tabuhan dramband sudah terdengar semakin jelas. Pertanda parade takbir mursal yang diadakan desa akan segera lewati sekumpulan pemuda dan pemudi itu.
Nana menutup mulutnya, saat melihat siapa yang berjalan paling depan arak-arakan sambil membawa bendera merah putih yang berkibar ditangannya. Dia melambaikan tangan secara sembunyi-sembunyi saat menyadari keberadaan Nana. Melihat lambaian tangan yang malu-malu itu menimbulkan Ide iseng dalam benak Nana.
" Emuah... emmuah... emuahhh..." Nana menempelkan tangan kanannya pada bibir lalu menjauhkannya secara berulang.
Pemuda pembawa bendera itu mematung ditempat, seperti keracunan ciumanan jarak jauh yang dilancarkan oleh Nana. Membuat barisan pembawa sepanduk tepat dibelakang menabraknya, yang kemudian diikuti tabrakan lain dibelakangnya lagi. Seketika rombongan parade itu terhenti, menjadi sedikit kacau berkatnya.
Menyadari penyebab kekacauan, serentak iringan dibelakang pemuda pembawa bendera yang tidak lain adalah Zen, menyorakinya beramai-ramai. Sedangkan Nana yang tidak mau dimintai pertanggung jawaban atas kekacauan yang terjadi, berlari masuk kerumah Pakdenya meninggalkan sekumpulan orang dengan tanda tanya besar dalam kepala mereka, diteras rumah Pakde.
Karna yang mereka ketahui, Nana telah menolak lamaran dari Zen.
" Awas kamu, Mum!" Untung saja remangnya lampu jalan dapat menyamarkan rasa malu diwajah Zen.
__ADS_1