
Masih dalam suasana memperingati hari kemerdekaan negara Indonesia, Nana bersama teman satu kelasnya mengadakan acara makan-makan di rumah Naila, yang memang sudah di rencanakan jauh-jauh hari sebelum liburan semester ini.
Selain karna masih berada di kawasan kota Semarang yang mudah untuk di akses, rumah Naila di pilih atas usulannya sendiri. Bahkan ia menolak diadakannya iuran kelas, yang di fungsikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sekitar empat puluhan orang. Ini harga mahal yang harus dibayar Naila untuk bisa mengusir kesepiannya sebagai anak tunggal dengan orang tua yang memiliki kesibukan masing-masing.
Mendengar bunyi klakson di depan rumah, Mak Siti, salah satu rewang yang bekerja di rumah Naila bergegas memeriksanya.
" Bu, mau numpang tanya, apa bener ini rumahnya Mbak Naila? "
" Iya bener, Mas. " Mak Siti membukakan gerbang untuk tamunya Naila.
" Loh, Mas Zen. Kok cepet banget nyampe sininya. " Ucap Naila yang mengikuti Mak Siti keluar, karna ia memiliki firasat bahwa Zen lah yang datang.
" Iya, pas telfon tadi emang udah perjalanan ke Semarang, Mbak. "
Nana yang sejak tadi pagi sudah repot menggantikan Naila dalam menyambut kedatangan teman-temannya, sampai tidak sempat memperhatikan ponselnya yang ia tinggal di kamar Naila. Dan saat Zen menghubungi, kebetulan Naila sedang mengambil sesuatu di kamarnya.
" Ayo masuk, Mas. " Naila mengajak Zen memasuki rumahnya.
" Mu..m.. " Zen tidak melanjutkan ucapannya. " Dek Nananya dimana, Mbak?" Lidah Zen terasa kaku, ini pertama kalinya ia memanggil Nana dengan sebutan 'dek', karna sudah tidak mungkin juga ia kembali memanggil Nana dengan sebutan 'mbak'.
Hahaha, Mas Zen tadi mau ngomong Mumum kan? Bucin... bucin... Bikin iri aja!
" Baru juga datang, udah nanyain Mumumnya aja! Dia di dapur sama teman-taman cewek lainnya, bantuin Mak Jah sama Mak Siti nyiapin makanan. Sambil nungguin Nana, Mas Zen gabung aja sama anak-anak cowok. Soalnya aku juga belum kasih tau dia, kalau Mas Zen nyusul kesini. " Penjelasan panjang dari Naila.
" Nanti malah jadi ganggu acara kalian, Mbak. Aku tunggu diluar aja nggak apa-apa. " Zen merasa tidak enak. Karna tujuannya kesini hanya untuk menemui Nana.
" Nggak usah sungkan, Mas. Sekalian biar tau seperti apa teman-temannya Nana. Hehehe. "
Diruang keluarga...
Sekumpulan anak laki-laki dengan berbagai gaya meramaikan ruangan yang cukup luas itu. Ada yang tiduran dilantai beralas permadani, ada yang duduk santai di sofa sambil menikmati acara gosip di Tv, ada yang asik memainkan game di ponsel, ada pula yang sedang dikejar anak-anak perempuan yang sedang memegang centong, sapu dan lainnya di tangan. Karna anak laki-laki itu kedapatan mencuri makanan yang tengah di siapkan.
Mereka benar-benar menikmati masa transisi mereka, sebelum beranjak menjadi pribadi dewasa dengan tanggung jawab yang lebih berat.
__ADS_1
" Eh, siapa itu? " Abi, sang ketua kelas melihat kedatangan Zen bersama Naila. " Pacar kamu, Nay? " Pertanyaan Abi membuat pandangan semua orang di ruangan itu beralih pada sesosok asing di sebelah Naila.
" Hust, ngawur! Ini tuh calon suaminya Nana. "
" Apa??? "
" Beneran? "
" Sumpah lo? "
Suasana menjadi semakin heboh karna ucapan Naila yang bagai kabar kabur untuk mereka percayai. Satu persatu mereka menyalami dan mempersilahkan Zen duduk di sofa, sedangkan yang lainnya duduk di lantai untuk mendengarkan wejangan cara untuk mendapatkan hati seirang gadis seperti Nana, salah satu primadona di kelas mereka.
Semua menyukai pribadi Zen yang berwibawa namun tetap supel. Hanya saja, Azam yang masih belum bisa melupakan perasaannya pada Nana memilih untuk menghindari Zen.
" Abi...! "
" Iya, Umi! " Jawaban reflek dari Abi, saat di panggil oleh Nana.
Zen menengok ke arah suara yang sangat ia kenali itu. Dilihatnya memang Nanalah yang berdiri disana, dengan celemek yang masih melekat di tubuh.
" Hajar aja, Mas! Abi itu emang sering godain Mbak Nana kalau di kelas. " Celetuk salah satu dari mereka, yang langsung mendapatkan dukungan dari yang lainnya. Kapan lagi bisa ngerjain ketua kelas, begitu pemikiran kompak mereka.
Abi mengatupkan kedua tangannya,
" Ampun Mas! Janji, habis ini aku bakal putusin Umi! Eh, Mbak Nana maksudnya. Hahaa. " Ucap Abi yang sengaja menjerumuskan dirinya, agar suasananya menjadi semakin ramai.
Zen menahan senyum dan berlagak serius.
" Beneran ya, aku tunggu surat pernyataan putusnya! Jangan lupa di kasih tanda tangan diatas materai enam ribu. "
Untuk memastikan bahwa yang ia lihat itu Zen atau bukan, Nana mendekatinya. Kalau itu beneran Zen, bagaimana dia bisa sampai disini. Padahal semalam saat di telfon, Nana hanya bercerita jika ia sedang menginap di rumah Naila karna besok pagi akan ada acara kumpul-kumpul disini. Ia pun tidak merasa memberikan alamat lengkap rumah Naila. Tapi jika bukan Zen, lalu siapa lagi lelaki disekitarnya yang memiliki senyum semanis itu.
" Sayang... " Zen menyapa duluan. Dan membuktikan bahwa ia adalah Zen, Mamam-nya Nana.
__ADS_1
" Mamam kok bisa sampai sini? Nggak ngabarin Mumum lagi! " Ucap Nana manja. Tidak lupa ia mengecup punggung tangan Zen saat berjabat tangan.
" Mamam... "
" Mumum... "
Teman laki-laki Nana ikut memparodikan apa yang baru saja dilakukan Nana pada tangan Zen. Sedangkan Abi yang duduk disamping Zen, menyodorkan tangannya pada Nana untuk mendapatkan perlakuan yang sama seperti Zen.
Kletak. Abi mengaduh. Tangannya baru saja mendapatkan kecupan keras dari centong sayur yang dipegang Naila.
" Ditungguin dari tadi, nggak muncul-muncul. "
" Emang disuruh ngapain sih? " Abi mengelus-elus tangan yang menjadi korban keganasan kecupan centong sayur.
" Itu bantu benerin tabung gasnya. Udah diganti sama yang baru, tapi tetep nggak bisa nyala kompornya. "
Melihat Abi menjadi sasaran omelan Naila, Nana malah tertawa. Karna ini juga adalah kesalahnya, yang lupa dengan tujuan awalnya mencari Abi tadi.
" Ini namanya kualat. Karna Mumum udah memasak untuk laki-laki lain tanpa izin dari Mamam. " Bisik Zen pada Nana, setelah menyelesaikan masalah tabung gas di dapur.
Emangnya Mamam kucing? Pake ngualat-ngualatin Mumum segala! Bisik Nana dalam hatinya sendiri.
***
Setelah menikmati makan siang bersama teman-teman Nana, Zen meminta izin untuk membawa Nana pergi bersamanya.
" Loh? Emang kita mau kemana, Sayang?" Bisik Nana. Ia juga tidak tau Zen mau membawanya kemana.
" Ke pelaminan. " Jawab asal Zen, yang berujung cubitan di lengan kanannya.
" Hehehe. Nanti Mumum juga tau sendiri." Masih merahasiakan tujuannya pada Nana.
Tanpa bertanya lagi, Nana segera menyiapkan diri dan barang-barang bawaannya yang berada di kamar Naila.
__ADS_1
" Sebenarnya Mamam mau ngajakin kemana sih? Pake rahasia-rahasiaan segala. " Nana ngedumel karna penasaran.