Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Membuka Kado


__ADS_3

Karna sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Ayah, ibu, anak dan mantunya berkumpul di ruang TV. Perbincangan terasa seru, saat mereka membahas kehebohan yang diciptakan oleh Nana tadi siang. Suasana menegangkan itu begitu membekas dalam ingatan mereka.


" Mamam!!! Jangan!!! " Jeritan Nana dari dalam kamar membuat mereka saling melempar pandangan.


" Aaaaahhhh, Sayang.... " Jeritan kedua, mulai membuat mereka resah.


Alfa dan Raka yang sudah seperti anak kembar tiba-tiba muncul di ruangan itu. Dengan penuh antusias Alfa bercerita pada ibunya, tentang pengalaman barunya.


Setelah grup nasidariahan tadi siang, keluarga Nana juga nanggap grup dangdutan sebagai hiburan di malam hari.


" Mi, masa biduannya tak sawer lima ribuan pada mau toh. Terus pas aku ikut joget, malah di sawer sama Paklek Hafid lima puluh ribu. "


" Lha Dek Raka dapat saweran berapa? " Tanya Sholeh.


" Apa paklek, Dek Raka itu cuma lihatin aku tok. Dia nggak mau ikut joget. Padahal enak, dapat duit. "


Alfa menghentikan ceritanya saat mendengar jeritan dari dalam kamar, yang membuat telinga para orang dewasa menjadi panas.


" Sayang... Sakitt!!! "


Mereka lagi ngapain sih?!


Meski sudah memperkirakan apa yang sedang terjadi di dalam kamar, tapi mereka masih ingin mempertanyakannya kembali. Kenapa sampai bisa seheboh itu. Apalagi ini adalah pengalaman pertama untuk mereka.


" Itu Bulek Nana kenapa sih, Paklek? "


Karna bingung bagaimana ia harus menjawab rasa penasaran Alfa, akhirnya Sholeh mengalihkan perhatian Alfa dengan mengajaknya keluar rumah untuk menonton dangdutan lagi.


" Kak, aku ikut. " Sukma memilih pergi bersama Sholeh.


Sedangkan Yuni pamit untuk menidurkan Rahma di dalam kamar. Disusul Rahmad dan istrinya pamit untuk beristirahat.

__ADS_1


" Ayo Mbah, istirahat di kamar aja, biar nggak keganggu sama suara salon (soundsystem). " Ajak ibu pada Mbah Uti.


***


Di dalam kamar, Zen tertawa sampai terpingkal-pingkal melihat ekspresi cemberut Nana yang sedang mengelus-ngelus kepalanya.


" Sakit tau, Mam. "


Nana merasakan nyeri di kulit kepalanya. karna tanpa di sengaja, Zen sudah menarik rambutnya saat sedang memaksa untuk menurunkan sajadah yang di gunakan Nana untuk menutupi kepalanya.


" Hahaha. Ma'af ya, Mum... Sakit banget ya? " Zen mengambil alih mengusap-usap kepala Nana. " Ya habis, Mumum-nya susah banget sih dibilangin. Di suruh lepas, malah ngeyel. "


Meski sudah di yakinkan berulang kali oleh Zen, jika ia berhak melihat rambutnya. Namun, Nana masih saja terus menutupinya dengan sajadah. Hingga membuat Zen merasa gemas dan menuntut haknya dengan cara paksa.


" Suami macam apa coba, baru malam pertama udah bikin KDRT ke Mumum. " Guman Nana.


Deg... Deg... Deg...


Degup jantung Nana semakin keras dan cepat. Ia baru sadari, jika malam ini merupakan malam pertama untuk mereka. Malam, yang kata orang merupakan malam keramat bagi pasangan pengantin baru.


Sibuk dengan pikirannya, Nana jadi terlihat salah tingkah di hadapan Zen. Sedikit demi sedikit ia menggeser tempat duduknya, hingga mentok ke sandaran ranjang.


" Mumum kenapa? "


" Nggak apa-apa, Mamam-ku. " Nana terlalu malu untuk menatap wajah Zen.


Zen menarik salah satu bantal yang ada di sana. Menjadikannya sebagai tempat menyandarkan kepala di atas kasur


" Hah... " Desahnya nyaman Zen, saat tubuh lelahnya mencicipi empuknya tempat tidur Nana. " Sini sayang. " Begitu Zen mengundang Nana, untuk ikut rebahan diri di sampingnya.


" Emmm. Mumum belum ngantuk. " Memberikan alasan agar dapat menghindar.

__ADS_1


" Mamam juga belum pingin tidur. Cuma ingin melepas kangen dulu sama Mumum. "


Selain sudah lama tidak bertemu, Nana juga sempat memblokir komunikasinya selama tiga hari tanpa alasan. Itu benar-benar membuat Zen merindukan sosok Nana dalam kesehariannya.


" Kan sekarang sudah ketemu. Emang mau ngelepas kangen yang kayak gimana lagi? "


" Ya terserah Mamam lah! Kan sekarang, Mamam udah bebas mau ngapain aja sama Mumum. "


Waduh! Ucapan Zen sudah seperti alarm bahaya untuk Nana. Kenapa juga aku menanyakan hal itu! O'on banget sih kamu, Na!


Tiba-tiba, pandangan Nana tertuju pada empat buah bingkisan dengan ukuran yang sama besar diantara kado-kado yang ia terima dari teman dan saudara. Tapi ia sama sekali tidak mengingat dari mana asal bingkisan itu, mungkin saja dari Zen.


Aha! Muncul ide di kepala Nana.


" Mamam belum ngantuk kan? Bukain kado dulu yuk. "


" Besok aj... " Belum sempat Zen menyelesaikan kalimatnya, Nana sudah kembali ke ranjang, sambil membawa bingkisan besar di tangannya.


Nih anak kenapa sih? Nggak ngerti banget, kalau aku lagi pingin ngobrol.


" Mamam! Ini apaan? " Teriak Nana sambil mengangkat tubuh manekin yang mengenakan satu set baju tidur super seksi dari dalam kardus.


" Hah? Itu apaan Mum? " Zen ikut kaget dengan apa yang berada di tangan Nana.


" Loh, bukan dari Mamam toh? " Terus dari siapa?


Saat Nana sibuk mencari petunjuk, siapa sebenarnya yang berada dibalik kado saru itu, tiba-tiba Zen menayakan sesuatu yang membingungkan untuk Nana.


" Oh, yang dimaksud Mumum si merah dulu itu, yang kayak gini toh? "


" Si merah? " Fikiran Nana berkelana jauh, hingga akhirnya sampai pada kejadian saat dimana ia sedang memilih kado untuk ulang tahun Zen dulu. " Bukan Sayang... yang waktu itu malah lebih seksi lagi. Ada belahannya di bagian sini, " Nana menunjuk pada bagian yang dimaksud. " sama sin... "

__ADS_1


Eh !


Entah bagaimana awalnya, yang pasti tubuh Nana tiba-tiba sudah berada di bawah tubuh kuat Zen.


__ADS_2