
Baru sekali Zen bertemu dan melihat wajah Nana itupun hanya sekilas. Saat itu Firman yang sedang membonceng Nana menggunakan sepeda motor untuk mengikuti ujian seleksi Universitas Negeri XX, menghampirinya. Zen yang sedang menaiki motir trilnya berhenti dipinggir jalan karna mau berpindah ketambaknya yang lain.
" Mbak..." Sapa Zen saat itu pada Nana.
Tanpa matanya memandang Zen, Nana tersenyum untuk membalas sapaan Zen. Senyum yang sekuat tenaga coba Nana perlihatkan ditengah rasa takutnya bertemu dengan sang calon suami. Senyuman yang sudah cukup untuk mempesonakan pandangan Zen.
Entah itu menjadi firasat atau hanya kehawatiran Zen semata. Namun melihat betapa cantiknya sang calon istri, membuat Zen takut jika akan ada banyak laki-laki yang nantinya akan menggoyahkan perasaan Nana untuk tetap setia dengan keputusannya.
Hingga saat ini Zen belum sekalipun menghubungi Nana, meski dia sudah mendapat nomor ponselnya dari Firman. Firman yang tadinya menentang perjodohan ini sekarang berbalik arah dengan mendukung Zen untuk mendekati adik perempuannya itu. Ya, perjaka tua itu terlalu lugu dalam masalah beginian.
Yang ada dalam pikiran Zen. jika Ia nekat menghubungi Nana, hanya akan membuat Nana merasa tidak nyaman. Bahkan merasa tertekan, yang akhirnya akan mengganggu fokusnya untuk belajar. Dan Zen tidak mau jikalau itu terjadi, Nana justru akan membencinya.
Tapi entah kenapa sekarang ini Ia merasa gelisah. Hingga membuatnya malas untuk bekerja.
***
Setelah menyelesaikan kuliah hari ini, Nana bersama Azam mendatangi perkumpulan kelompok belajarnya. Sesampainya mereka di halaman perpustakaan pusat tempat mereka janjian dengan yang lainnya, ternyata disana sudah ada Naila juga Habibi yang sudah menunggu.
" Ehhmm... ehhmm... " Habibi.
" Ehem... ehhhhemmm... " Naila.
Meski tidak ada aba-aba dari satu sama lain, namun nyatanya Naila dan Habibi kompak mengeluarkan suara batuk yang memang dibuat-buat untuk menggoda Nana dan Azam yang berjalan bersama menuju mereka. Naila dan Habibi saling berpandangan, lalu mentertawakan kekonyolan masing-masing secara bersamaan.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum. Ma'af aku telat ya?" Nana menyapa teman-teman barunya yang Ia yakini orang muslim semua.
Dasar ! Pantesan aja tadi diajakin bareng nggak mau. Ternyata milih boncengin cewek cantik. Melirik Azam yang sedang sumringah.
"Apa !? " Azam menggunakan bahasa mata, menjawab lirikan Habibi, yang merupakan komting dikelas mereka.
" Wa'alaikum salam..." Habibi dan Naila.
" Nggak kok, kami juga baru sampai. Sini duduk samping aku." Naila meminta Nana duduk di sampingnya yang posisinya mengadap ke Habibi dan Azam dengan meja kayu yang lebar sebagai penengahnya.
" Jadi, pasangan terpopuler di OSPEK, hubungannya berlanjut nie?" Menyenggol Naila yang sudah duduk di sampingnya.
" Enggak !" Dengan tegas Nana membantah.
" Jangan diingaten lagi sama hal memalukan itu." Nana menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Mereka bertigapun tertawa, melihat Nana yang malu-malu mengenang betapa percaya dirinya waktu itu bernyayi bersama Azam. Dan sama-sama gilanya antara Azam dan Nana waktu itu, saling melempar pandangan serta gerakan karna menghayati setiap bait lirik lagu yang mereka lantunkan. Namun dengan mengingat kejadian itu, mereka malah justru terlihat akrab dan nyaman dengan satu sama lain.
" Oke, udah puas kan tertawanya? Sekarang kita mulai diskusinya. Pertama-tama kita perkenalan dulu aja ya? Perkenalkan namaku Muhammad Habibi." Habibi dengan jiwa kepemimpinannya.
" Namaku Ainun." Lanjut Azam memperkenalkan diri. Yang memancing tawa mereka lagi.
" Kalau kamu yang jadi Ainun nya aku ikhlas ganti nama, Zam." Menambah panjang suara tawa mereka.
__ADS_1
Habibi memang nggak seganteng Azam, kulitnya tak seputih Azam, tingginya juga tak setinggi Azam tapi Habibi memiliki kepribadian yang lebih menyenangkan daripada Azam yang terkesan cool itu.
" Oke kita lanjut, tak usah hiraukan Ainun lagi."
Habibi mengakhiri drama Habibi & Ainun.
Tapi sang Ainun KW, masih curi-curi kesempatan memandangi Nana yang masih tersenyum.
" Namaku Naila Ramadhani."
" Namaku Nalal Muna. Tapi biasa dipanggil Nana."
" Mmm... Diantara kalian ada yang punya labtop?"
" Aku punya !" Naila.
" Nah, masalah labtop udah beres ya ? Sekarang kita cari bahan di perpustakaan sebanyak-banyaknya, mumpung kuliah kita hari ini udah selesai. Naila siap ngetik makalahnya kan?" Habibi bertanya lagi.
" Kamu aja yang ngetik gimana, Bang?" Naila balik bertanya.
" Aku nggak ada labtop, Nay."
" Nanti labtopku kamu bawa dulu gak papa."
__ADS_1
" Udah biar aku aja yang ngetik makalahnya, tapi pinjam labtop kamu ya, Nay ?" Azam menyodorkan diri sebagai tumbal, mungkin agar terlihat keren didepan Nana.