Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Rumah Sakit


__ADS_3

Nana membuka matanya, melihat sekeliling. Ini dimana, adalah pertanyaan pertama yang muncul dibenaknya.


Ah, kakiku ! Nana mengintip kaki yang sudah membuatnya kelelahan menangis.


" Udah bangun, Dek?" Seorang perawat jaga mendekatinya.


" Iya. Ini di rumah sakit ya, Mbak? Trus itu kakiku kenapa kok dibedong kayak gitu." Nana memastikan.


Hehehe. Dibedong katanya, emang bayi? Perawat merasa lucu sendiri dengan kata-kata Nana.


" Iya, Dek. Masih kerasa sakit kakinya?"


" Cuma cenut-cenut sama berat. Emangnya kakiku kenapa, Mbak?"


" Tenang aja, nggak apa-apa. Kata dokter ada keretakan dikit pada tulangnya."


Retak ??? Hal menyeramkan langsung memenuhi pikiran gadis muda itu.


Nana nggak tau harus berbuat apa sekarang. Berada di rumah sakit sendirian, dengan keadaan kaki yang dibedong dan susah digerakan saja sudah membuatnya cemas.


Kalau tabunganku nggak cukup buat bayar rumah sakit gimana?

__ADS_1


" Mbak perawat sini sebentar deh." Nana memanggil lirih perawat yang sudah beralih kepasien lain diruangan itu.


" Iya. Ada yang bisa saya bantu?"


" Mau tanya. Mbaknya lihat ranselku nggak ya?"


" Ma'af saya nggak lihat. Tadi pas Adek dipindahkan keruangan ini, saya nggak lihat adanya ransel."


" Gitu ya? Makasih ya Mbak." Nana menjadi lemas mendengar penjelasan dari perawat.


Motorku ???!!!! Dimana??? Aduh... !!! Setelah sekian lama baru mengingat nasib motornya.


Trus sekarang gimana? Nggak ada Tas, nggak ada dompet, nggak ada ponsel buat ngabarin Bapak. Hilang kemana sih ranselku? Kehilangan semua harta benda yang Ia miliki dan berakhir dirumah sakit sendirian. Nana berasa sudah seperti menjadi korban begal saja.


" Mbak..." Dua laki-laki asing menghampiri ranjang Nana. Nana tersenyum berusaha duduk untuk menyambut tamunya.


" Tadi aku cari di UGD, ternyata sampean udah dipindah keruang perawatan. Hehehe." Lanjut Rif'an. Yang baru saja keluar rumah sakit untuk ikut mengamankan sepeda motor Nana.


Ah ! Itu ranselku. Ye ye aku selamat. Nana bersorak dalam hati melihat ransel yang ditenteng orang asing yang disadari Nana juga ikut menolongnya saat kecelakaan.


" Eh iya. Ini tas kamu. Ma'af ya tadi kita buka dompetnya soalnya kita butuh identitas kamu buat registrasi di rumah sakit. Trus kita nemu Kartu BPJS kamu juga didalamnya." Ilman reflek menyerahkan ransel milik Nana serta memberikan penjelasan saat melihat pandangan yang menusuk dari pemilih ransel tersebut.

__ADS_1


Emang kartu BPJS bisa buat berobat dirumah sakit juga ya? Gratis donk! Rasa syukur teramat banyak dirasakan Nana.


" Hehehe. Iya nggak apa-apa. Makasih ya Mas udah nolongin aku."


" Mbak, aku udah ngabarin mas Zen. Katanya udah perjalanan kesini sama mas Hafid." Melihat Nana yang sibuk dengan ponsel yang baru saja Ia keluarkannya dari ransel.


" Eh. Iya?" Nana menatap Rif'an dan mencoba mentranslit setiap kata yang baru diucapkan laki-laki itu.


Seketika Nana menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Wajah pucatnya terlihat memerah menyaingi warna bibirnya. Nana malu. Bingung harus bagaimana Ia bersikap.


Jadi beneran ini dek Rif'an adiknya dek Zen !


" Hehehe. Tau aja Dek, kalau aku mau ngabarin orang rumah." Nana cengar cengir.


" Sampean gak pulang, Dek?" Lanjut Nana.


" Ehmm. Gitu ya...! Tau mas Zen mau kesini, lansung aja kita di usir."


" Aaaa... Apasih! Ya gak gitu." Nana menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Pipi yang tadinya kembali pucat sekarang merona lagi. " Ya kan aku nggak enak. Udah ngerepotin sampean sama Mas nya itu. Masa iya masih minta ditungguin. Heheehe." Alasan paling masuk akal berhasil terucap oleh Nana yang juga sedang mencoba menenangkan jantung yang detaknya tidak setabil, seakan dapat melompat keluar dari wadahnya.


Nana memang malu tapi dia juga merasa bahagia mendengar Zen akan datang untuk mendekapnya, Eh salah, menjenguk maksudnya. Hehe.

__ADS_1


Emang apa hubungannya sama mas Zen? Bukannya Nana ini anak pak de mereka? Ilman merasa bingung dengan obrolan antara Rif'an dan Nana.


Ilman memang mengenal Zen karna dia sering menginap ke rumah Rif'an saat masa liburan pesantren. Tapi dia tidak mengetahui jika gadis yang sedang Ia incar itu merupakan calon istri dari Zen.


__ADS_2