Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Pengganggu


__ADS_3

Di sore hari, kabut terlihat mulai berdatangan, memberikan pemandangan yang tidak kalah menakjubkan dari pemandangan yang Nana lihat pada siang hari. Udara pegunungan semakin ngelunjak hawa dinginnya, apalagi setelah Nana dan Zen bersentuhan dengan air saat sedang bersuci sebelum menunaikan sholat asyar di Mushola yang melengkapi fasilitas di area wisata ini.


Untuk menghangatkan badan, Nana mengajak Zen ke salah satu kedai disana. Segelas susu hangat terus terniang-niang membayang di dalam kepalanya. Sampai Nana harus menelan ludah, karna pesanannya tidak kunjung tiba di meja tempatnya menunggu bersama Zen.


" Mam, shushu-ku... " Nana merengek sambil menarik-narik lengan jaket Zen. Perut kosongnya juga mulai meronta-ronta.


Zen mengusap wajahnya dengan telapak tangan, agar tetap sadar dan tidak merjebak dengan kalimat Nana yang mengandung banyak mana.


Untung aku masih waras, Mum! Jadi nggak berfikir kemana-mana.


" Ini susunya Mumum. " Zen mendekatkan gelas susu yang diantarkan penjual ke mejanya, pada Nana.


" Shushu-ku... " Nana menyambut gembira, susu hangatnya.


Haduh! Zen hanya bisa mengurut keningnya menyaksikan tingkah Nana yang begitu menggemaskan.


" Mum, masih panas! "

__ADS_1


Peringatan Zen tidak dihiraukan oleh Nana. Susu itu sudah di minumnya sampai setengah gelas.


" Hmmm. " Desah Nana saat menjilat busa susu yang melekat dibibir merahnya.


" Mumum suka banget ya sama susu? "


" Lumayan sih. " Lumayannya Nana berarti ia bisa meminumnya hampir setiap hari. " Mamam kok malah pesan kopi, nggak susu jahe, yang kata Mamam ibarat aku dan kamu. Hehehe. "


" Mau gimana lagi, Mum. Kehadiran Mumum di hidup Mamam itu, udah manis segalanya. Jadi Mamam butuh kopi yang pahit ini untuk mengimbangi. "


" Mamam kok nggak tannya, kenapa Mumum suka susu? "


" Emang kenapa, Mum? " Zen terpancing rasa penasaran setelah Nana mengingatkannya tentang hal itu.


" Buat menetralisir semua gombalan Mamam yang bagaikan racun buat Mumum. Diam-diam mematikan. "


Siapa sangka, jawaban Nana diam-diam menusuk sampai ke urat malu Zen. Hingga ia tidak bisa berhenti tertawa karnanya.

__ADS_1


" Katanya, cewek suka di gombalin. Kok Mumum malah protes? "


" Suka sih, tapi ya nggak harus terus-menerus juga kali! Kalau begini, jatuhnya jadi fitnah, Mamam-ku sayang! Tau kan kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. "


Sudah cukup lama mereka mengobrol di kedai itu, tapi tidak sedikitpun Zen membahas mengenai pernikahan ataupun lamaran yang sudah diteriakan Nana diatas gardu pandng tadi. Nana merasa gergetan, karna ada satu hal yang ingin ia sampaikan mengenai hal itu.


Ayo dong, Mamam ngomong apa gitu, biar Mumum bisa bahas soal itu. Masa iya harus Mumum yang mulai bahas duluan!


Setelah menunggu beberapa waktu, kesempatan untuk membahas hal itu masih belum juga datang, sedangkan Nana sudah tidak memiliki kesabaran jika harus menunggu lebih lama lagi.


" Mam. " Nana membuang gengsinya, dan berinisiatif membahas unek-uneknya. " Masalah yang di... "


" Loh Mas Zen kok udah nyampe sini? Katanya nggak bisa datang. " Entah muncul dari mana, tiba-tiba orang ibi membacok kalimat Nana.


Bodo amat, ah! Mending nggak usah ngomong sekalian.


Nana kesal, dalam hati ia menyumpahi siapapun itu, tidak peduli dia teman ataupun saudara Zen. Yang pasti dia sudah menjadi pengganggu dengan kemunculannya yang tiba-tiba dan merusak momen penting yang sudah susah payah Nana ciptakan.

__ADS_1


__ADS_2