
Orang-orang saling berbisik, membicarakan apa yang baru saja terjadi dihadapan mereka. Bahkan, sebagian besar sudah mantap untuk saling mengungkapkan isi ramalan mereka masing-masing. Tentang lanjut atau tidaknya acara pernikahan anatara Ze dan Nana.
Dari tempat duduknya, suara bisikan yang semakin menjadi-jdi itu, sudah seperti mau membakar telinga Zen saja.
Menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkanya perlahan melalui mulut. Zen mencoba mengusir prasangka buruknya terhadap Nana.
Kita saling mencintai. Dan nggak ada yang akan berubah.
Dalam pikiran, Zen ingin menyanggah. Bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan kedatangan mantan Nana. Namun disaat yang bersamaan, ada suara yang terua mengusiknya. Suara itu berasal dari dasar hati Zen sendiri.
Jangan-jangan, Nana nggak benar-benar cinta sama kamu. Makanya, dia jadi luluh saat bertemu lagi sama mantannya.
" Astagfirullah hal adzim.... "
Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin.
Dalam hati, Zen terus membaca do'a ini. Karna kepada-Nya lah, Zen mengharapkan pertolongan.
Selang lima menit kemudian, ayah Nana nampak tergesa-gesa keluar dari dalam rumah. Raut wajahnya terlihat tegang. Seperti sedang menahan amarah yang meluap-luap.
" Pak, saya mau menikahkan sendiri anak saya. " Ucap ayah pada penghulu, sesampainya ia di panggung pelaminan.
" Ayo, Nang Zen. " Ayah meminta Zen menjabat tangannya.
Dengan penuh keraguan Zen mengulurkan tangannya. Ia masih bingung dengan situasinya saat ini. Bisa menikah dengan Nana adalah impiannya sejak lama. Namun ia juga tidak mau memaksa, jika Nana tidak menginginkannya. Bagaimana ia bisa merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga, jika yang menjalani saja tidak memiliki ke ihlasan satu sama lain.
Seperti sedang menyalurkan energi positif, ayah menggenggam erat tangan Zen.
Bismillahirrohmanirrokhim. Zen sudah memantap hatinya untuk memilih.
__ADS_1
Ma'af ya, Mum. Jika kali ini, Mamam harus egois. Ucap Zen, untuk mengurangi rasa bersalahnya pada Nana.
Khutbah nikah selesai. Ayah dengan lancar mengucapkan kalimat ijab, dan langsung di jawab oleh Zen.
" Kulo tampi nikahipun Diajeng Roro Ayu Nalal Muna binti bapak Haji Sirojul Munir kanti mas kawin ingkang kesebet, kontan. "
" Bagaimana para saksi? Sah? "
" Syaaaaaah. " Teriak teman-teman sekelas Nana, terdengar lebih nyaring dari suara tetua yang berada di atas panggung.
Mereka baru tiba di lokasi, tepat saat Pak penghulu melakukan khutbah nikah.
" Yeeeeeyyy. " Reflek, mereka bertepuk tangan serentak.
Tanpa mengetahui situasi menegangkan sebelumnya, mereka bersorak bahagia. Mengapresiasi keberhasilan Zen, dalam menjawab kalimat ijab dengan sangat lancar.
Tidak mau kalah dengan teman-teman Nana yang super heboh. Salah satu pemuda karang taruna mengeluarkan siulannya, suittt... suuiiit...
***
" Senyum terus.... " Ucap Umam untuk menyindir si biang kerok.
Tidak memperdulikan sindiran Umam, Nana terus tersenyum sambil memandang ke arah layar TV yang menyiarkan secara langsung semua kejadian di luar kamarnya.
Diajeng Roro Ayu, katanya... Nana merasa geli dengan julukan yang di sematkan Zen di depan namanya, saat akad tadi.
Dapet inspirasi dari mana coba, itu si Mamam. Untung nggak kepleset jadi Roro Mendut atau Roro Jonggrang.
" Hahaaaha. " Nana membayangkan hal lucu dalam pikirannya.
__ADS_1
" Enak banget kamu ya, tertawa diatas penderitaan orang lain. " Karna ulah Nana, sekarang Umam harus melakukan pekerjaan tambahan.
" Ketawa salah, nangis juga salah. Terus yang bener aku harus gimana??? " Protes Nana.
" Ya salah lah! Mana ada, nganten nangis kok nyampe gluntungan kayak gitu. " Sengap Umam, yang sudah selesai membenahi make up dan riasan di kepala Nana. " Hiiihh! Pingin mites rasanya. " Saking gemasnya dengan kelakuhan Nana.
" Emangnya aku kutu, pake di pites. " Nyali Nana jadi menciut.
Dibantu dua asistennya, Umam memakaikan lagi baju atasan berbahan brukat yang tadi di lepas Nana saat mengamuk.
" Kamu kok nggak nangis lagi, Na? " Ledek Firman saat memasuki kamar, untuk menjemput Nana.
" Jangan! " Jerit Umam. " Kalau nyampe dia nangis lagi, mending aku tak bunuh diri aja lah. "
Melihat reaksi yang terlalu berlebihan dari Umam, Firman malah tertawa terbahak-bahak. Memang sih, kelakuhan Nana kali ini terhitung keterlaluan. Karna imbasnya sampai kemana-mana. Contohnya saja Umam, selain psikologinya yang terguncang, ia masih harus bekerja ulang untuk membenahi dandanan Nana yang porak-poranda.
" Yang nangis, yang nangis. " Ledek Rahmad. Ia bersama Sholeh dan Hafid menyusul Firman, yang tidak kunjung membawa Nana keluar dari kamar.
" Lumayan... sekarang yang nangisan, udah ada yang ngurusi. " Ucap Hafid.
" Mamas! " Nana menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
" Hei! " Jerit Umam. " Jangan pada jahil ya. Tak sentil nanti. " Lanjutnya.
Sholeh mendekat pada Nana, lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang. " Mumpung nggak ada Zen. " Ucapnya sambil tersenyum
Kemudian ia mengeratkan pelukannya pada Nana. Seperti ini adalah pelukan terakhir untuk mereka. Karna adik kesayangannya itu sudah resmi menjadi istri orang. Masa-masa seperti ini mungkin sudah tidak akan ada lagi nantinya.
" Ma'afin Dedek ya Mas. Makasih, Mamas udah sayang dan perhatian banget sama Dedek. "
__ADS_1
Suasana menjadi haru saat Nana dan Sholeh sama-sama meneteskan air mata. Di susul dengan Rahmad, Firman dan Hafid yang bergantian menerima pelukan beserta ucapan ma'af dan terimakasih yang tulus dari dari adik perempuan mereka satu-satunya.
" Hemm, kalian reseh banget sih. " Umam ikutan mewek. Ia adalah anak tunggal. Dan belum pernah merasakan, hangatannya persaudaraan seperti ini.