Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Menengok Keponakan Baru


__ADS_3

Sehabis sholat tarawih Nana berbaring diruang keluarga. Menyalakan TV dengan volume yang keras, meski sedang tidak ingin menontonnya. Hanya memanfaatkan suara untuk mengusir sepi dalam rumah besar orang tuanya.


Saat ini Nana sedang menunggu kepulangan Ayah dan Ibu yang pergi sejak tadi siang. Setelah mendapatkan kabar dari Firman, jika Yuni istrinya sudah berada dirumah bidan karna akan segera melahirkan anak keduanya, Ibu yang diantarkan Ayah bergegas menuju kesana. Meninggalkannya sendirian dirumah.


Maka dari itu, setelah mandi sore Nana mengungsikan dirinya dirumah Embah Uti, yang berada tidak jauh dari rumahnya. Membawa makanan yang sempat Ia masak dan juga Ia janjikan untuknya dan Embah Uti berbuka puasa bersama.


" Tau gini, tadi ikut pulang kerumah Embah Uti aja !" Nana memilih pulang, karna mengira bahwa Ayah dan Ibunya sudah pulang.


Sebenarnya Nana masih merasa kesal, karna tidak diizinkan untuk ikut pergi bersama Ayah dan Ibu. Karna diberlakukannya larangan mengendarahi sepeda motor sendirian oleh orang tuanya pasca kecelakaan yang Ia alami. Meski kini perban dikakinya pun sudah dilepas.


" Assalamu'alaikum, Sayangku." Nana mencari pelampiasan kesepiannya. Sebenarnya lebih tepat rasa takut sih, dibanding kesepian.


Eh, langsung dibales ! Kirain masih tadarus di mushola. Nanapun membuka pesan yang baru saja masuk diponselnya.


" Wa'alaikum salam. Salah kirim lagi ya?" Zen yang masih trauma dengan kejadian kemarin memberikan tebakannya.


" Hahahaha. Dia masih dendam ternyata!" Nana tertawa mengingat keisengannya waktu itu.


Walau kenyataannya saat itu Nana juga merasa senang dengan pesan balasan dari Zen yang memanggilnya dengan kata "cintaku". Saking senangnya, Ia berguling kekanan dan kekiri, hingga membuat sprei yang melapisi kasurnya menjadi sangat lecek.


" Nggak lah. Hatiku kan nggak pernah salah untuk memilih siapa yang ingin Ia sayangi. Yaitu kamu." Nana menambahkan gambar hati juga mata yang terlihat berbinar pada pesan yang akan dikirmkan pada Zen.


" Hehehe. Beneran nih? Awas aja, kalau sampai berani menarik kembali ucapan yang barusan!" Emoticon iblis, Zen sematkan pada pesannya. Untuk membuat takut Nana.


Namun Nana malah tertawa, saat membaca pesan yang berisikan ultimatum dari orang yang masih trauma dengan keisengannya itu.


" Udah tau belum, kalau mbak Yuni udah ngelahirin?" Zen mengirim pesan lagi.


" Udah ! Tadi siang pingin ikut Bapak sama Ibu kesana, tapi nggak dibolehin naik motor sendiri. Jadinya sekarang aku sendirian deh dirumah." Emoticon menangispun berbaris rapi dalam pesan pengaduan itu.


***


Setelah terjadinya perjanjian antara Zen dan Nana semalam. Kini tibalah mereka dirumah Firman setelah adzan asyar selesai berkumandang, meski mereka berangkat dari rumah bakda dhuhur. Karna sebelum ke rumah Firman, mereka mampir terlebih dulu kedaerah perkotaan, mencari kado untuk keponakan mereka yang baru saja dilahirkan.

__ADS_1


" Adek bayi..." Panggil Nana, pada bayi yang memang belum diberikan nama itu.


Melihat bayi yang baru saja selesai dibedong setelah dimandikan, Nana tidak tahan untuk tidak menggendongnya. Apakah bayi itu akan aman dalam gendongan Nana, seorang anak bungsu yang sifat kekanakan saja masih sering muncul ? Zen pun berfikir demikian. Namun Firman dan juga Yuni malah bersikap biasa aja saat menyerahkan bayi mereka pada Nana.


Tentu saja mereka bersikap biasa, karna mereka tau Nana sangat menyukai anak kecil. Dan dia juga pernah memiliki pengalaman menarik soal mengurus bayi. Saat itu, istri Rahmat harus dilarikan ke rumah sakit setelah melahirkan anak keduanya. Dan Nana lah yang menjaga bayi juga anak pertamanya sendirian dirumah selama dua hari, sebelum Ayah dan Ibu sampai disana. Meski untuk memandikan anak kedua Rahmat yang masih bayi itu, Nana meminta bantuan pada pembantu Rahmad yang datang setiap pagi dan sore hari. Namun, kenyataan bahwa usia Nana yang saat itu masih sangat muda dan dapat mengurus dua anak kecil sendirian tanpa membuat mereka celaka. Bukankah itu merupakan prestasi tersendiri untuk Nana. Meski akhirnya tangisnya pun pecah saat melihat kedatangan Ayah, Ibu, Hafid yang saat itu belum menikah, Firman juga Yuni yang saat itu sedang hamil tua.


" Tak tinggal mandi dulu ya, Dek." Ucap Yuni setelah membereskan perlengkapan bayinya dibantu Firman.


" Hah?" Zen semakin was-was, melihat Nana menimang-nimang serta menciumi bayi dalam dekapannya tanpa rasa hawatir.


Beneran mereka percaya, kalau mbak Nana bisa menjaga bayinya? Tidak habis pikir.


Zen trus mengawasi Nana, yang sedang mengobrol santai dengan bayi berjenis kelamin perempuan itu.


" Gemesin banget sih kamu, Dek. Pingin bulek gigit rasanya!"


Justru kamu yang lebih gemesin, Sayang... Zen tersenyum dan mulai berhayal.


Seandainya... Dalam sekejap pandangan Zen berubah. Dilihatnya kini, Nana sedang menggendong bayinya. Bayi hasil buah karyanya bersama Nana.


Nanti anak kita mirip kayak gini ya? Sambil mengelus pelan pipi bayi mungil itu.


" Lucu kan?" Tanya Nana, sambil mengangkat bayinya untuk Ia lebih dekatkan pada Zen.


Zen mengangguk, mengiyakan ucapan Nana,


" Suka banget ya sama anak kecil?" Nana tersenyum dan juga mengangguk menanggapi pertanyaan dari Zen.


" Aku kan nggak punya adik. Jadi seneng kalau lihat anak kecil kayak gini."


" Tenang aja !" Zen belum meneruskan.


" Maksudnya?"

__ADS_1


" Tenang aja, nanti aku buatin yang banyak!" Mengucapkan tanpa ragu, tanpa menetap wajah Nana yang sudah dibuatnya memerah karna dapat menterjemahkan maksud ucapannya.


" Hish!" Tangan Nana tidak henti-hentinya memukul dan mencubit lengan Zen.


" Emang buatnya gampang apa? Tinggal diempleng-empleng pake tanah gitu."


" Makanya ayo cepetan kita nikah, nanti aku ajarin cara buatnya!" Bisikan Zen ditelinga Nana. Sampai membuat tubuhnya merinding. Sedangkan Zen menahan tawanya, menanti reaksi Nana selanjutnya.


" Apasih ! Jangan ngeracunin pikiran anak dibawah umur deh."


***


Setelah puas dengan keponakan barunya, Nana menyerahkan kembali pada Yuni yang sudah selesai membersihkan diri.


" Sholat asyar dulu yuk." Ajakan Zen pada Nana. Karna mereka belum menunaikannya.


" Ayuk, Mam-ku sayang."


" Mam?" Zen curiga, jangan-jangan Nana salah sebut nama.


" Ya kan kamu imamku. Eh ! Masih calon imam ding ! Hehe."


Ternyata kepanjangan dari imam. Zen tersenyum. Karna salah mengira.


" Iya. Mum-ku."


" Mum?" Giliran Nana yang bertanya.


" Kalau aku imamnya kan kamu makmumnya."


Calon Imam dan makmumnya pun tertawa bersama. Sedangkan Yuni yang menonton adegan tersebut hanya dapat menggelangkan kepala.


Amit-amit jabang bayi. Yuni mengusap-usap perutnya. Karna menyaksikan adegan tersebut, membuatnya lupa jika bayinya sudah tidak lagi berada dalam perutnya.

__ADS_1


Zen Zen. Bisa-bisanya kamu ketularan jadi kekanak-kanakkan gitu. Yuni merasa takjub dengan perubahan Zen yang belum lama ini dekat dengan Nana.


__ADS_2