
Di lantai dua rumah Nana, hanya terdapat dua pintu. Satu, pintu kayu untuk kamar Nana dan satunya lagi pintu kaca untuk menuju taman atap atau bisa kita disebut dengan rooftop garden.
Nana membuka pintu yang menuju taman. Menyalakan lampu warna-warni yang baru ditambahkan oleh Ayah tadi sore, atas permintaannya.
" Mamam duduk disini dulu ya, Mumum masuk sebentar. " Ucap Nana sebelum masuk ke dalam kamar, melewati pintu kaca yang terhubung langsung dengan taman.
Sedangkan Zen, duduk menyender dengan tatakan bantal empuk di emperan kamar, yang memiliki posisi lebih tinggi dari posisi taman. Tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani sesi kencan bersama Nana, gadis yang sangat ia rindukan di pagi, siang maupun malamnya.
Ini ruangan apa ya? Meski tidak penasaran, tetap saja Zen coba untuk mengintip dari partisi kaca yang menjadi penghalang antara dia dan Nana.
Zen tidak berhasil melihat apa yang sedang Nana lakukan di dalam sana, karna pandangannya terhalangi korden yang menutupi seluruh permukaan kaca itu.
" Mumum lagi ngapain sih? " Sambil mengedarkan pandangannya pada tanaman juga ikan hias yang seolah sedang mengawasinya dari balik kaca aquarium.
Bruaak. " Aduh! " Tangan Nana terjepit penutup ricecooker saat sedang menyendok nasi di dalamnya.
Nana sengaja menyimpan nasi kuningnya di dalam ricecooker, agar Zen dapat menikamatinya nasinya dalam keadaan hangat, ditengah hawa dingin yang sangat terasa di lantai dua.
" Mumum kenapa? "
" Jangan masuk !!! " Cegah Nana saat melihat bayangan Zen akan mau berdiri. " Mumum nggak kenapa-napa, Mamam tunggu disitu aja! "
" Kenapa sih nggak boleh masuk, Mamam kan jadi penasaran, Mum...! "
" Kita kan belum jadi muhrim, Mam. Masa iya mau berdua-duaan didalam kamar! " Alasan yang dibuat Nana justru memacing senyuman Zen.
Oh, ini kamarnya Mumum toh!
Entah apa yang sedang terbayang dalam benaknya saat ini. Mengetahui, bahwa ruangan yang baru saja dimasuki oleh Nana adalah kamar pengantinnya kelak, senyuman pengantinpun tak mau lepas dari bibir tipis Zen.
" Mum... "
Gemerlapnya lampu warna-warni didalam air aquarim dan di emperan tempatnya duduk saat ini, memang cukup memukau pandangan mata Zen. Namum akan terasa miris jika hanya menikmatinya sendirian, apalagi di malam minggu seperti ini.
" Dalem, Mam... "
" Tadi kenapa Mumum membahasakan 'Mamam' pas ngomong sama Ibu? Kan Mamam jadi malu. " Zen mengajak mengobrol, tanpa mengetahui kerepotan yang dialami Nana didalam kamar.
" Oh itu! Kenapa Mamam harus malu? Bapak sama Ibu kan emang udah tau panggilan sayang kita. "
__ADS_1
" Hah??? Kok bisa. " Teriak Zen.
" Aduh! " Mengaduh pelan. Rasa kaget, membuat lututnya membentur meja kayu yang berada di hadapannya.
Bukankan sebagai lelaki dewasa yang siap menjadi imam untuk Nana, Zen perlu menjaga harkat dan martabatnya di hadapan sang calon mertua, agar bisa mendapatkan kesan yang baik dari mereka. Tapi jika seperti ini keadaannya, wajar bila Zen merasa hawatir. Karna ada kemungkinan, calon mertuanya saat ini tengah menganggapnya kekanakan, dan dirasa tidak memiliki kemampuan untuk ngemong Nana kedepannya.
" Ya kan Mumum cerita sama Bapak sama Ibu soal itu. " Jawab Nana santai.
" Apa, Mum??? " Zen tercengang, dengan jawaban Nana.
Harga diri Zen seakan terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.
Kira-kira Mumum udah cerita apa saja ya sama Pakde dan Bude?
Zen menelisik setiap kenangannya bersama Nana. Siapa tau ada ucapan atau perbuatan darinya yang seharusnya menjadi aib yang perlu ditutupi tapi ada kemungkinan sudah Nana ceritakan pada kedua orang tuanya.
Ya Allah, Mum... jangan-jangan apa yang akan aku lakukan nanti di malam pertama, akan kamu ceritakan juga ke seluruh anggota keluarga kita. Menyadari kemungkinan besar yang bisa terjadi.
Zen menenggelamkan wajahnya pada bental kecil yang berada di pangkuan. Berharap itu cukup untuk menutupi rasa malu yang terus menggerogoti kepercayaan dirinya.
Nana memang sudah terbiasa terbuka terhadap Ayah dan Ibu. Bisa dibilang, apapun yang Nana ceritakan pada mereka, tidak melalui saringan terlebih dahulu. Hingga ampas-ampasnya pun akan Nana ceritakan pada orang tuanya. Karna baginya, itu bukanlah rahasia yang perlu ia tutupi.
Nana muncul membawa kerudung pasmina yang sudah dilipat sedemikian rupa. Kerudung itu akan ia fungsikan untuk menutup mata Zen.
" Buat apa, Mum? " Tanpa menjawab, Nana mengikatkan kerudungnya di kepala Zen, menutupi matanya.
Zen menurut. Karna apapun akan ia jalani demi dapat menyenangkan hati Nana.
Setelah beberapa saat Nana kembali dan duduk dihadapan Zen, lalu melepas ikatan kerudung dikepalanya.
" Taarrrraaaa !! " Ucap Nana penuh semangat.
" MasyaAllah, Mumum-ku... " Terbelalak melihat pemandangan diatas meja.
Nasi tumpeng mini, beserta cup-cake yang sudah dihiasi lilin angka dan stik bertuliskan 'happy birthday' tersaji di hadapan Zen.
" Selamat ulang tahun, kesayangannya Mumum. Semoga dengan bertambahnya usia Mamam, Allah juga akan menambahkan keberkahan di dalamnya. Amin...."
" Terimakasih Mumum-ku. " Emuah... emmuah... eemmmmuah... Zen menciumi bantal yang masih dalam dekapan.
__ADS_1
" Hih... Mamam ngapain sih? " Merasa diselingkuhi. " Mumum-mu tu disini ! " Menunjuk dirinya sendiri.
" Bukannya disitu. " Menujuk bantal yang membuatnya iri, karna mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan dari Zen.
" Mamam juga tau, Mum! Tapi mau gimana lagi, penghulunya aja nggak dateng-dateng. Terpaksa deh, Mamam lampiaskan sama bantal ini dulu. "
" Penghulu? "
Nana berfikir, drama apa yang harus ia perankan saat ini.
Zen memasangkan kerudung persegi panjang yang tadi digunakan untuk menutupi matanya, di kepalanya juga di kepala Nana.
" Tumpeng siap, pengantinnya juga siap. Berarti kan cuma tinggal tunggu penghulunya. "
" Mamam !!! " Tak henti-hentinya Nana tersenyum, sambil sesekali mencubit paha Zen.
Puas dengan itu, Nana meminta Zen untuk segera memakan nasi tumpeng yang sengaja ia persiapkan sendiri untuknya, selagi masih hangat karna baru keluar dari ricecooker.
Melihat Zen menyendok ujung nasi yang berbentuk krucut itu, Nana bersiap siapa tau sendokan pertama itu akan diberikan padanya. Tapi sepertinya Zen tidak mengetahui mengenai adanya ritual pemberian potongan pertama, kepada orang yang disayang dalam perayaan ulang tahun. Karna sendokan pertama nasi tumpeng itu sudah bersentuhan dengan bibirnya sendiri.
Karna ada perasaan tidak rela, Nanapun enggan menyaksikan suapan nasi itu masuk ke dalam mulut Zen sendiri.
Zen tersenyum, " Mumum, aaakkk. " Nana kaget, Zen menyodorkan sendok tepat di depan mulutnya. " Udah nggak panas kok, Mum. Tadi udah ditiupin sama Mamam. " Zen memberikan menjelaskan, karna Nana masih belum mau membuka mulutnya.
Ada butiran air yang menggenang dimata Nana, Ia merasa haru. Ternyata Zen menempelkan sendoknya pada bibir bukan untuk memakannya, melainkan untuk memeriksa suhu panasnya.
" Suapan pertama ini buat calon istri terbaik se-duniaku. Yang udah mau capek-capek memasak untuk merayakan ulang tahun laki-laki tua ini. "
Suasa romantispun berhasil terciptakan di emperan kamar itu. Saling melempar senyum, canda dan rayuan disela-sela aksi suap-menyuapi yang mereka lakukan. Perasaan bahagia didalam hati keduanya sudah cukup sebagai hidangan pelengkap di malam minggu ini.
Bliizzzz. Gluduk... gludukk... duuuuaaaaarrrrrr...
Kilatan yang di susul suara bledek, menggelegar di langit hitam. Menyentak Nana dan aliran listrik rumah sekaligus.
Tepat disaat lampu padam, Nana menubrukkan kepalanya pada Zen. Ia sangat ketakutan, terlihat dari seberapa erat ia mencengkram baju Zen di kedua tangannya.
Deg... deg... deg... Blusssss.
Gemuruh susulan yang berasal dari dada Zen, yang langsung menyambar wajah sendiri, hingga terasa panas.
__ADS_1
Kenapa jatuhnya harus disitu sih, Mum !?! Zen mematung. Tidak dapat menenangkan Nana dari rasa ketakutannya, karna ia sendiri sedang tidak sedang dalam posisi yang tenang, dengan posisi jatuhnya kepala Nana di pangkuannya. Tepat berada di area berbahaya.