Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Mahasiswa Baru


__ADS_3

Tempat tinggal baru, lingkungan baru, suasana baru, teman baru, status baru, eh... status sebagai mahasiswa baru maksudnya bukan yang lain. Hehehe.


Nana menikmati kehidupan barunya. Dan beruntungnya, tempat kost yang Ia pilih sebagian besar adalah mahasiswa baru bahkan beberapa ada yang satu jurusan. Ya akhirnya Nana memantapkan langkahnya mengambil jurusan yang sesat menurutnya.


Kegiatan OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) berakhir, banyak kejadian yang menyenangkan dan menjadi pengalaman baru dalam kehidupan Nana.


Hari ini adalah pembagian kelas belajar. Untuk jurusan Ekonomi Manajenen terbagi menjadi empat kelas, pembagian kelas berdasarkan abjad nama. Kelas C dimulai dengan nama dengan huruf depan M sampai R, dan inilah kelas belajar Nana dan dua teman kost nya May dan Rena.


" Nalal Muna, Maimunah... ye... kita sekelas! " Seru Renata yang melihat pembagian kelas secara online di ponselnya.


" Yey, sekelas sama mbak Rena juga mbak May." Nana memanggil mereka mbak karna usia mereka lebih tua.


" Yah..., kenapa cuma aku yang beda kelas. Hiks." Sahut Dian yang juga satu kost dengan Nana karna dia masuk dikelas A.


" Cup.. cup.. cup... Ayo coba nangisnya dikencengin lagi." Nana mengelus pundak Dian untuk menghibur.


" Jahat banget kamu mah, Na." Sambil memukuli tangan Nana yang justru membuat Nana tertawa.


" Ka si han.... hahaha." Rena dan May kompak menggoda Dian.


***


Masa belajar telah dimulai. Ya walaupun masih tahap pengenalan antara mahasiswa dan dosen beserta mata kuliah yang akan diajarkan karna baru satu kali pertemuan.


Pada jam mata kuliah pengantar ekonomi mikro, dosen memberikan tantangan pada mahasiswa yang minggu depan mau melakukan presentasi makalah pertama, dan nilai tambah akan diberikan sebagai imbalannya. Nana yang melihat komting kelasnya mengangkat tangan membuat Nana reflek mengakat tangannya juga dan di ikuti dua teman lainnya yang tercatat sebagai kelompok pertama yang akan mengisi perkuliahan pertemuan minggu depan.


Mati aku ! Nana memukul tangan yang menyesatkan itu.

__ADS_1


" Wih... keren kamu, Na." May yang duduk di belakang Nana.


Nana menoleh pada May dengan menyunggingkan senyum yang terkesan dipaksakan tapi tetap terlihat manis karna bibir merah alaminya.


Hiks, Aku tadi nggak sengaja tau, Mbak ! Gerutu Nana.


Nana terus merenungi kelancangan tangannya tadi, hingga dosen selesai menuliskan pembagian judul materi yang akan dipresentasikan para mahasiwa di papan whiteboard.


Tangan yang lancang itu mungkin terlatih sejak Nana SMP, sejak dimana dia mulai merasakan kenikmatan belajar yang membuatnya disenangi para guru hingga di SMA.


***


" Dek..."


" Eh, iya Kak..." Nana terkejut, saat pundaknya ditepuk seseorang disampingnya. Dan berjalan menyamakan langkah kaki dengannya.


Tentu saja, Nana ingat. Sosoknya yang begitu mirip dengan Ardi, sang mantan terindah Nana. Nana menutup mulutnya, teringat kejadian yang mengiringi pertemuannya pertama kali dengan laki-laki itu.


" Kakak kan yang waktu itu..." Nana tidak meneruskan ucapannya karna merasa malu.


" Iya. Yang dihukum bareng kamu pas OSPEK." Hukuman yang justru membuat keduanya menjadi terkenal seangkatan.


" Hops ! Nggak usah diteruskan."


Di dalam gedung serbaguna kampus yang digunakan untuk OSPEK para mahasiswa fakultas ekonomi. Azam dengan sebuah gitar mengiringi lagu romantis yang Ia senandungkan bersama Nana, didepan para senior dan teman seangkatan yang tidak mau melewatkan untuk mengabadikan momen itu dengan kamera yang dapat mereka gunakan.


Meski saat itu Nana terpesona dengan suara Azam dan kepandaiannya menggunakan gitar, ditambah perawakannya yang dirasa begitu mirip dengan sang mantan. Nana berusaha memantapkan hatinya pada Zen, juga janjinya pada Ayah.

__ADS_1


" Nanti selesai kuliah ini kita kumpul dihalaman perpustakaan pusat bentar ya?"


" Ngapain, Kak?"


" Bahas masalah presentasi kelompok kita minggu depan." Tersenyum pada Nana.


Presentasi kelompok kita? Jadi kita sekelas? Nana tidak mengetahui hal itu. Karna memang dia sedang berusaha menjaga pandangannya, agar tidak jatuh cinta dan dicintai. Dan karna rasanya kecewa itu sakit.


" Iya. Siap, kak..." Membalas senyuman.


Nana hanya menebak jika laki-laki itu merupakan teman satu kelompoknya yang akan mempresentasikan materi pada mata kuliah pengantar ekonomi mikro untuk minggu depan. Paling tidak sekarang Nana merasa lega, karna teman kelompoknya ada yang Ia kenal.


" Boleh Kakak minta nomor kamu ?" Tanya Azam saat melihat Nana mau membuka pintu ruangan untuk kelas selanjutnya.


Eh ! Nana.


" Nanti kalau ada apa-apa biar enak ngabarinya." Lanjut Azam.


" Iya Kak, boleh." Nana menyebutkan angka-angka, yang dengan cekatan diketik Azam di ponselnya sendiri.


" Kakak nggak masuk?" Nana menunjuk kelas dengan gerakan kepalanya, dengan tangan yang sudah separuh membuka pintu kaca ruangan.


" Nungguin temen Kakak bentar. Kamu duluan nggak papa."


Nana tersenyum dan berlalu, masuk ke dalam kelas meninggalkan Azam di depan pintu.


Nana... Deg... deg... deg... Azam memegangi dada, mencoba mengendalikan perasaannya yang ternyata sudah jatuh cinta pada Nana di pertemuan pertama mereka. Disaat menjalani hukuman bernyanyi bersama Nana.

__ADS_1


__ADS_2