Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Tidak dikenali


__ADS_3

Nana menutup rapat pintu gerbang kostnya. Dia tidak mengetau jika didalam kost sedang kedatangan tamu laki-laki. Karna dia juga tidak mengetahui pasti, isi pesan yang coba Dian beritahukan tadi padanya.


" Loh, ada tamu ya?" Ucap Nana melihat motor sport terparkir dihalaman kost.


Nanapun kembali membuka pintu gerbang rumah kostnya agak lebar. Karna itu merupakan peraturan, apabila penghuni kost yang notabene cewek semua sedang menerima tamu laki-laki.


Nana berjalan seperti biasa, melepas sepatu kemudian menaruhnya dirak yang tersedia diruang tamu. Nana mengedarkan penglihatannya pada halaman kost, yang tidak Ia temukan satupun sepeda motor milik penghuni kost yang terparkir disana. Nana memberi senyum basa basi pada tamu yang dilihatnya sedang duduk disofa sendirian.


Sepeda motornya Mbak-mbak pada kemana? Lha trus itu tamunya siapa, kalau dikost sedang nggak ada orang ! Nana sedikit was-was dan merasa curiga.


Buru-buru Nana mempercepat jalannya agar segera mencapai tangga menuju lantai dua. Dimana kamar seluruh penghuni kost berada. Karna sepertinya dia akan aman jika berada dalam kamar, jika tamu itu merupakan orang yang berniat jahat. Nana menjadi paranoid, mengingat dia sedang berada dikota yang besar.


" Mbak..." Suara Zen menghentikan langkah cepat Nana sebelum mencapai tangga.


" Iya. Mas nya lagi nunggu siapa ya?" Tanpa dosa Nana bertanya.


Jadi dia nggak ngenalin aku ? Zen mentertawakan pertanyaan polos Nana.


Mesti hatinya sedikit kecewa, namun sekarang Zen menyadari bahwas selama ini dia telah melakukan kesalahan. Karna dia terlalu menahan diri dan tidak memperkenalkan diri lebih awal secara layak pada Nana.


Lah kok ? Mas nya malah ketawa. Heran, namun masih ada perasaan takut.


" Mbak Nana... " Zen mengulang panggilannya dengan nada yang lebih lembut.


" Daleeem." Jawaban Nana ikut melunak.


Deeg... deg... deg... Serrrrr. Hati Nana mulai berdesiran. Mengingat kemungkinan terkecil bahwa tamu itu adalah Zen, calon imam terpilih yang sudah Ia setujui.

__ADS_1


" Mas nya sinten nggh (Masnya siapa ya)?" Nggak munkin dek Zen. Orang Masnya cakep gitu kok. " Hehehe." Hati Nana sudah memastikan.


" Ayo sini, kenalan dulu sama calon suami." Zen melambai. Meminta Nana untuk memdekat sambil tersenyum menahan debaran dihati. Karna sudah berani mengucapankan kalimat yang begitu memalukan untuk dirinya sendiri.


" Hehehe." Nana mematung. Nggak mungkin !!!


Masa iya baru aja Nana terlepas dari bayang-bayang nama "jangan diangkat". Sekarang malah menyaksikan orangnya langsung dihadapannya.


Masa beneran itu dek Zen? Masih tidak dapat mempercayai dengan apa yang dilihatannya. Karna sangat berbeda dengan sosok yang Ia bayangkan selama ini. Manis sih, tapi tetap aja aku belum siap ketemu dia ya Allah.... Hiks.


Dengan langkah berat seperti sedang diseret, Nana berjalan mendekati sofa ruang tamu, beserta orang yang sedang duduk sana. Nana pun memaksakan diri untuk duduk disebelah Zen, dengan batas aman tentunya.


Mungkin karna efek menjomblo 30 tahun, hati Zen senang tidak terkira saat melihat uluran tangan dari Nana, disusul sebuah kecupan yang diterimanya dipunggung tangan. Sedangkan bagi Nana, itu bukanlah hal yang spesial. Karna memang begitulah cara dia untuk menunjukan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.


Namun tetap saja, Zen yang biasanya terlihat kaku didepan keluarga kini perasaanya seperti sedang meleleh hanya karna satu kecupan dari Nana. Itupun hanya dipunggung tangannya. Kekecewaan yang sempat Ia alami saat diawal kedatangannya sekarang ikut luntur. Rasa kecewa karna mendapati Nana berboncengan dengan laki-laki lain sudah hilang, terhapuskan oleh kecupan.


" Barusan kok, mbak." Zen tersenyum, menutupi rasa canggung. Karna ini juga merupakan pengalaman pertama untuknya.


Mati aku ! Berarti tadi dia lihat aku sama kak Azam dong ! Tiba-tiba teringat kejadian di depan gerbang.


Nana hawatir, jika Zen akan berfikiran buruk tentangnya. Karna dia tidak boleh berbuat kesalahan yang menyebabkan putusnya hubungan dengan Zen. Selain menjaga janjinya pada Ayah, Nana juga tidak mau mendapat cap sebagai cewek nggak bener dari Zen dan keluarganya.


Tenang Nana ! Kamu nggak berbuat salah. Kamu kan nggak ada hubungan khusus sama kak Azam. Jadi kamu aman. Beneran. Ucap Nana pada hati, agar kehawatirnnya segera pergi.


" Mbak..." Panggil Zen.


" Hmm, dalem."

__ADS_1


" Mbak Nana gak seneng ya aku kesini?"


" Seneng kok." Nggak mungkin juga kan bilang kalau nggak seneng. " Cuma agak kaget aja, kok dek Zen bisa tau alamat kost ini ?" Nana memang penasaran tentang itu.


" Tadi sebelum kesini aku telfon mas Firman."


Oooooohh ! Jadi dia toh biang keroknya. Pantes aja tadi pas kuliah dia ngintrogasi aku lewat pesan. Nana mengepalkan tangan sebagai bentuk kegeramannya pada Firman. Dasar penghianat...!!!


Prolog :


" Aduh!"


" Kenapa, Mas?" Tanya Yuni pada Firman.


" Lidahku kegigit, Dek !"


" Makanya hati-hati makannya. Mana sini coba tak lihat." Melihat istrinya hawatir, Firman menurut untuk menjulurkan lidah yang dirasanya perih.


" Ya Allah, Mas... sampe berdarah lidah kamu. Bentar ya, mas. Tak beli obat dulu buat ngobati lidah Mas biar gak jadi sariawan."


" Alah gak usah. Cuma luka dikit ini !"


" Mas, jangan-jangan ada yang nyumpahin kamu itu!"


" Siapa?"


" Ya gak tau! Mungkin Mas pernah berbuat salah kali, sama siapa gitu..."

__ADS_1


" Mas mu ini terlalu baik untuk berbuat salah sama orang, Dek. Apalagi yang nyampe berani nyumpahin mas. Hehehe." Ucap Firman bangga. Kalaupun ada palingan juga Nana.


__ADS_2