
Di semester ini, Nana mulai memikirkan cara bagaimana dia dapat menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari umumnya. Ia mulai mengumpulkan informasi dan membuat perencanaan yang matang demi masa depannya bersama Zen. Semua itu dilakukan Nana secara sembunyi-sembunyi, karna Ia tidak ingin teman-temannya sampai mengatainya "ngebet nikah" jika mengetahui hal ini. Walaupun itu adalah kenyataannya.
Dua bulan berlalu, namun Nana belum dapat menepati janjinya pada Zen untuk pulang kerumah satu bulan sekali agar dapat bertemu dan melepas rindu dengannya.
Karna Nana merasa jika Ia berada di rumah, fikirannya hanya akan dipenuhi oleh Zen. Hingga tidak mampu memikirkan hal lainnya apalagi tugas kampusnya. Bahkan sudah dua minggu terakhir Ia rela tidak berkomunikasi dengan Zen, agar dapat lebih berkonsentrasi dengan tujuan yang sudah Ia buat.
" Lho, ini mas Zen kan ?" Sapa Maimunah saat mengambil sepeda motor diparkiran.
Disinilah Zen sekarang, di sebuah lahan parkir gedung fakultas ekonomi. Dimana Nana menjalani kegiatan belajarnya di kampus XX. Dua minggu tidak mendapat kabar dari Nana membuat Zen ingin mengejutkan Nana dengan kedatangannya di kampus.
Karna Nana sebelum ini Nana selalu pamit pada Zen saat akan dan sesudah selesai mengikuti perkuliahan setiap waktunya. Itulah mengapa Zen menjadi hafal jadwal kuliah Nana.
" Iya. Mbaknya temen kost Mumum Nana, kan ?"
May mengangguk, Haduh manisnya cara dia panggil Nana. Jadi pingin...
" Kelasnya udah selesai ya, Mbak?"
Perasaan kok mas Zen lebih kelihatan muda dari terakhir lihat ya...
Mungkin hal itu disebabkan karna terlalu seringnya Ia bergaul dengan Nana yang usianya masih sangat muda, hingga menjadikannya ikut awet muda, May. Hehe
" Eh iya, Mas! Aku jadi kelupaan sama Nana." May sempat terhanyut dalam lamunannya.
" Mas Zen, ikut aku aja yuk."
" Kemana ? Emangnya Mumum-ku dimana ?"
Ini ngomongnya gimana ya? Dia marah nggak ya kalau aku bilang Nana lagi sama cowok lain. May sedang menimbang.
" Emm. Gimana ya ngomongnya."
" Emangnya ada apa sih, Mbak ?" Zen mengerutkan dahinya. Merasakan ada hal ganjil.
" Nana lagi diantar Azam. Ke klinik. Nana nya lagi sakit." Karna merasa rikuh, May menjadi kesulitan merangkai kalimatnya.
" Mumum-ku kenapa ? Klinik mana ?" Panik.
May menghirup udara sebanyak mungkin lalu mengeluarkannya secara perlahan, " Udah tiga harian Mumum Nana demam, Mas."
Aduh, kenapa aku jadi ikutan manggil gitu! Malu sendiri dengan ucapannya.
" Ma'af Mas, keceplosan." Melihat wajah Zen yang masih tegang, May melanjutkan pebjelasannya " Sebenarnya tadi rencananya mau ke klinik sama aku. Cuma karna pas dikelas tadi Nana bilang badanya lemes banget buat jalan aja nggak kuat, jadi Renata minta tolong ke temen cowok buat nganterin dia sama Nana ke klinik kampus."
Ya Allah, Mun... Bisa-bisanya kamu sakit sampai kayak gitu tapi masih nggak ngabarin aku.
Hawatir bercampur sedih lah yang saat ini Zen rasakan. Dua minggu tidak ada kabar, akhirnya harus seperti ini.
" Kliniknya di sebelah mana, Mbak ?" Tidak sabar ingin menenui Nana.
__ADS_1
" Bareng aku aja, Mas. Aku juga mau nyusul mereka kok."
***
Selesai diperiksa dan diberi obat, Nana diperkenankan untuk beristirahat diruang perawatan sampai Ia memiliki cukup tenaga untuk menyangga tubuhnya sendiri.
" Mbak Ren, aku ditinggal sendiri juga nggak apa-apa lho."
" Nggak perlu nunggu disuruh kamu juga nanti aku pasti pulang ke kost. Udah sana, kamu istirahat aja dulu. Aku nungguin May didepan, kalau ada perlu apa-apa bilang ya."
" Kalau aku bilang perlu kasih sayang dari Mamam-ku, emangnya sampean bisa menuhi, Mbak?" Nana nyengir menggoda Renata yang merasa risih saat mendengar Nana memanggil Zen dengan sebutan itu.
" Oh, udah berani nglunjak ya ini bocah !" Rena berkacak pinggang, untuk membuat nyali Nana menciut.
" Heehe. Ampun ! Dilarang menyiksa orang yang lagi sakit lho, Mbak. Wekk."
Dengan sisa-sisa tenaga Nana ingin melemparkan candaan pada Renata, agar Ia dan yang lainnya tidak perlu mengahawatirkan keadaannya.
" Mbak Rena..." Nana memanggil Rena yang sudah menyibakkan korden yang menutupi ranjang Nana.
" Apa !"
" Kalau kak Azam masih ada didepan, tolong bilangin makasih ya sama dia."
Setelah dia memantapkan hatinya pada Zen, Nana memilih membatasi komunikasinya dengan Azam. Agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap perasaan antar keduanya.
Karna merasa kesepian setelah ditinggal Renata keluar, Nana membuka obrolannya dengan Zen terakhir kali di kotak pesan ponselnya.
Pingin ketemu sama kamu, Mam. Gumannya setelah membaca barisan pesan.
Tiba-tiba perasaan sedih menyeruak dalam hatinya. Karna terlalu fokus dengan rencana yang sudah dicanangkan, membuat Nana harus berakhir diranjang perawatan seperti ini. Sendiri, tanpa ada Zen yang menjadi penyemangatnya selama ini.
" Assalamu'alaikum, Mam."
Karna sudah tidak mampu menahan rasa kesepian, akhirnya Nana melakukan panggilan pada Zen yang sebenarnya juga sudah berada di depan pintu tempatnya beristirahat.
" Wa'alaikum salam, Mum. Mumum lagi dimana?" Zen mencoba untuk bersikap biasa sebelum mengakat telfon dari Nana.
" Lagi tiduran, di kamar." Terdengar suara Nana terisak. " Mam..."
" Iya, Mum. Kenapa?" Mendengar suara Nana yang menahan tangis, hati Zen terasa sakit.
Nana menangis. Dia benar-benar mengharapkan untuk dapat bertemu. Namun Ia tidak mungkin mengatakan keinginannya itu sekarang. Ia tidak mau keinginannya justru hanya akan mengganggu pekerjaan Zen di desa.
" Kangen..." Nana menutup matanya dengan lengan, agar tidak ada yang melihatnya menangis.
" Apa, Mum. Aku nggak denger." Ucap Zen sambil membuka tirai yang menjadi sekat pemisah antar ranjang satu dengan ranjang lainnya yang sedang kosong.
Nana merasa mendengar suara Zen begitu dekat dengannya. Namun pikirannya berkata jika itu merupakan perasaannya saja, karna Ia sedang ingin bertemu dengan Zen.
__ADS_1
" Aku kangen sama kamu, Mam." Nana menangis namun sekarang Zen tersenyum bahagia.
Dapat melihat dan mendengar Nana mengucapkan kata rindu secara langsung, sudah seperti obat untuk hati Zen yang terluka karna suara tangisan Nana.
" Aku juga kangen kamu, Mum." Zen menarik tangan Nana yang menutupi mata lebarnya.
Melihat siapa yang sedang berdiri dihadapan, membuat Nana mengedip-ngedipkan matanya. Siapa tau dia sedang berhalusinasi karna demam yang Ia alami.
" Kenapa kedip-kedip ? Mau godain aku ya?" Zen memperlihatkan senyuman yang dapat menyakinkan Nana siapa pemilik senyuman itu.
Karna Nana sangat menyukai lesung di pipi Zen, yang hanya dapat Ia lihat saat pemiliknya sedang tersenyum.
Nana tertawa dalam gelimangan air mata. Dia benar-benar bahagia, hingga lupa akan rasa sakit yang sedang dialaminya.
" Cepat sembuh ya, sayang. Jangan nangis terus. Kan udah ketemu sama obatnya." Zen menghapuskan air mata dipipi Nana.
" Obat ?" Zen mengangguk. " Obat apa?" Nana mengernyitkan dahinya, mengira Zen salah berucap.
" Obat kangen. Tadi kan katanya sakit gara-gara kangen sama aku."
" Kapan coba aku bilang gitu ? Nggak usah ngarang deh !"
" Berarti tadi bilang kangen, cuma bohongan ni?" Zen pura-pura merajuk. " Pulang aja lah kalau gitu."
" Jangan." Sambil memegangi tangan Zen. " Iya iya. Aku kangen sama Mamam-ku yang ini."
" Yang ini ? Emang ada yang lain apa ?"
" Hahaaha. Enggak lah. Kamu kan satu-satunya buatku, Mam."
***
Mendapat kabar kehadiran Zen dari Renata, membuat Naila segera menyusul ke klinik kampus. Sejak Ia mengetahui Nana sudah memiliki tunangan, Naila menaruh rasa penasaran yang besar terhadap sosok Zen, yang telah berhasil menahlukan hati Nana.
Karna memiliki kesamaan rasa, yaitu rasa penasan tentang bagaimana Nana dan Zen ketika hanya berdua. Naila, Renata dan Maimunah mengadakan operasi gabungan untuk mengintai mereka.
Disaat melihat Zen memasuki ruang perawatan dimana Nana sedang beristirahat, Mereka mengikuti Zen yang sedang mencari keberadaan Nana dibalik tirai-tirai dengan gaya tukang copet amatiran sambil cekikikan.
" Lihat yang beginian, bikin jiwa jombloku jadi bergejolak." Komentar Naila saat menyaksikan adegan yang sedang berlangsung di balik tirai yang tempatnya menutupi separuh badan.
" Maksud kamu ?"
" Kamu nyindir kita?"
Dua jomblo yang sebenarnya melirik kearah Naila, merasa tidak terima dengan ucapan Naila yang mereka ketahui masih memiliki pacar.
" Hehehe. Ma'af, gaes. Aku nggak ada maksud. Suwer !" Mengacungkan dua jari.
" Habisnya mereka sweet banget, gaes. Bikin lupa kalau aku juga punya pacar !"
__ADS_1