
Sebelum maju ke depan kelas. Secara khusus, Nana membagikan kopian materi yang akan ia presentasikan pada Naila, Renata dan Maimunah.
Pluk.
Naila menjatuhkan sesuatu benda yang tidak ia kenali. Lalu ia melongokkan kepalanya ke bawah bangku untuk memeriksa apa yang sudah ia jatuhkan tadi.
" Apa yang jatuh tadi, Nay? " Tanya Renata yang juga melihat sesuatu melayang dari bangku Naila.
" Nggak tau. "
Disaat yang bersamaan Naila mengambil sebuah kertas berwarna merah muda yang terkulai tidak berdaya di lantai. Maimunah tertawa cekikikan di bagian pojok. Membuat telinga Renata yang berada di sampingnya menjadi risih sendiri.
" Kamu kenapa lagi sih? Jangan kebiasaan deh! " Renata menoleh pada Maimunah.
Maimunah memang tidak memiliki banyak ekspresi. Mau senang, mau sedih, sedang di sanjung ataupun sedang di omeli, ekspresinya tetap sama. Bahkan untuk menanggapi tingkah polah ekspresif Nana, Maimunah hanya bisa menjadi ponsel yang berada dalam mode getar disaat yang lainnya tertawa sampai terbahak-bahak. Sampai Nana memiliki julukan khusus untuknya, yakni manusia tanpa ekspresi.
Tanpa menjawab pertanyaan Renata, Maimunah menunjukkan sesuatu yng mungkin menjadi penyebab ia cekikikan. Sebua kertas berwarna merah muda.
" Hah?!? "
" Ada di kertas materi. " Maimunah memberikan keterangan.
Renata langsung mencari-cari diantara kertas materi presentasi hari ini yang tad diberiakan oleh Nana.
Ketemu!
Tidak mau kaget sendirian, Renata menepuk-nepuk punggung Naila yang masih merunduk, mencoba meraih sesuatu. " Nay, lihat ini Nay. Cepetan! "
Jedug.
" Aaww! "
Kepala Naila sampai kepentok meja Renata. Bukan kaget karna tepukan Renata yang memburu, tapi karna cover dari kertas yang baru saja ia pungut.
__ADS_1
" Nay! "
" Ren! "
Renata dan Naila kompak menunjukkan kertas yang menjadikan Nana dan Zen sebagai model cover dari kertas merah muda yang berada ditangan mereka masing-masing. Tanpa membuka pembungkus plastik pada kertas itupun mereka bisa mengetaui, jika benda ini merupakan kartu undangan pernikahannya Nana dan Zen.
Nana menunduk, saat pandangan teman-temannya mengarah tajam padanya.
" Kok dia nikahnya mendadak banget ya? " Karna Nana memang menutup rapat rencana pernikahannya ini dari teman-temanya.
" Jangan-jangan... " Tanpa sadar, pandangan Renata langsung beralih ke perut Nana yang tertutupi hijab. Di ikuti Naila dan Maimunah.
Selang beberapa detik. " Amit... amit...! Amit... amit...! " Ucap Naila smbil mengetuk meja berulang-ulang.
" Kalian jangan pada shu'udon! Masa iya sih, Nana hamil duluan. "
" May! " Seru Naila dan Renata. Sampai memarik perhatian Pak Asdos.
***
Sebelum pergi ke tujuan selanjutnya. Zen mengajak Nana mampir ke sebuah kedai yang menyediakan bebek bakar.
Nana asik tertawa sendiri saat Zen sedang memesan makanan untuk ia bawa ke suatu tempat, yang Nana juga tidak tau dimana.
" Mumum masih ketawa aja! " Zen kembali dengan membawakan segelas teh hangat untuk meredakan kembung Nana.
" Habis, mbak-mbak pada lucu banget sih! "
Nana mengenang kejadian di dalam kamar mandi gedung fakultasnya, selesai jam perkuliahan tadi. Saat Ia sedang berdiri depan cermin sambil mengelus-ngelus perutnya yang terasa tidak nyaman, Naila dan Renata yang kebetulan menyusulnya ke dalam kamar mandi melihatnya dengan tatapan yang aneh. Dan disitulah akhirnya mereka berdua memberanikan diri bertanya pada Nana, mengenai kebenaran dari kecurigaan mereka. Bukan untuk mencela, tapi memang karna mereka saling peduli.
Dan jahilnya Nana, disudutkan dengan pertanyaan sensitif seperti itu bukannya mengelak, ia malah berakting seolah-olah ia dan Zen memang benar telah melakukan sebuah kesalahan besar yang mengakibatkan tanggal pernikahan mereka harus di percepat.
" Puas? Bikin mbak-mbak jadi salah paham. " Zen ikut tertawa karna Nana sudah menceritakan keadaannya saat itu.
__ADS_1
Kaget? Tentu saja. Sedih? Apalagi. Tapi mereka masih bisa mencoba untuk menguatkan Nana. Karna dalam kondisinya yang seperti ini, pasti Nana sangat tertekan dan membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Itu yang terlintas dibenak Renata, Naila dan Maimunah yang menguping pembicaraan mereka dari dalam WC.
" Padahal, bulan kemarin ya, Mam. Mumum itu haid-nya barengan sama mbak Rena. Tapi malah dia yang pertama kali ngira, kalau Mumum hamil duluan! " Nana tertawa sambil memegangi pipinya yang sudah terasa kram. Tapi Nana tetap melanjutkan kesenangan ini sambil menirukan gaya teman-temannya yang mengelus-ngelus perutnya, " Sehat terus ya dedek, kata Mbak Nay. Kalau Mbak Rena, yang kuat ya, Dek. Tante Rena bakal ikut jagain kamu sama mama kamu kok. Kalau Mbak May... " Nana tertawa lagi. Karna Ini adalah bagian paling lucunya. " Semoga kamu jadi anak yang sholeh sholehah. " Ucap Maimunah saat keluar dari WC, tanpa ekspresi.
" Nakal! Nakal! Nakal! Coba sini, Mum. Mamam juga pingin ngelus dedek kita. "
Plak. Zen mengaduh. Nana menampik tangannya, saat akan mencoba menyentuh perutnya.
" Enak aja ngaku-ngaku! Ini kan bikinan Mumum sendiri. " Sambil mengamankan perut yang sudah berisi, teh hangat.
" Tapikan, dia butuh ayah yang bisa bertanggungjawab seperti Mamam, Mum! "
" Emang cuma Mamam aja yang bisa bertanggungjawab? Kan masih ada buaannnyyaakkkk Mamam-Mamam lain, di luar sana, yang siap bertanggungjawab sama anaknya Mumum. Wheeekkkk. " Nana menjulurkan lidahnya.
" Apa Mum?! Coba ulangi. "
Meski itu hanya candaan, tapi Zen terlihat tidak terima dengan ucaan Nana.
" Nggak, Sayang... mana mungkin sih, Mumum berani berpaling dari Mamam-ku ini. " Mencubit mesra ganggut Zen, untuk merontokan amarahnya.
Setelah pasangan itu kembali akur, tibactiba Zen mengungkapkan keinginannya.
" Kalau udah nikah nanti, kita coba buat anak yang banyak ya, Mum! "
" Eeehh! Buat anak, nggak boleh coba-coba. " Jawab Nana sambil menggerakkan telunjuknya kekanan dan kekiri.
" Itu kan iklan! " Minyak kayu putih.
" Oh iya! Mamam udah beli kan, yang diminta sama ibu. Buat persyaratan nikahin Mumum? "
" Beli apa? Syarat apa sih Mum? "
Entah Zen yang tidak ingat, atau Ibu Nana yang lupa memberitahukan pada Zen, mengenai sumpahnya yang di saksikan oleh banyak orang, sebagai persyaratan untuk menikahi anak perempuan satu-satunya itu.
__ADS_1