Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Perpisahan Pertama


__ADS_3

Begitu menyenangkannya kebersamaan mereka hingga membuat Zen merasa enggan untuk pulang. Karna dia sudah terlalu nyaman disini, bersama Nana yang telah membuka hatinya. Namun dia harus tetap pulang.


" Mbak, bisa numpang sholat ashar disini?"


" Bisa sih. Tapi harus diruang tamu ini. Soalnya ini kan kost khusus cewek. Kalau aku nekat masukin cowok kedalam kemar, bisa-bisa aku dibrebek sama Pak hansip."


" Kalau digrebeknya sama aku kan nggak masalah!"


" Ye, ngarep! " Hehe. " Emmm. Mau tak anter ke masjid dekat gang sini nggak ?" Sekalian mau beli batagor.


Nana yang adalah penyuka jajanan lokal maupun nasional, sudah hampir satu semester ini berlangganan jajanan batagor ( bakso tahu goreng ) yang mangkal didepan masjid dekat gang masuk kerumah kostnya setiap sore hari.


" Kalau mbak Nana maunya nganterin nyampe rumah, aku juga mau." Dengan nada menggoda.


" Yeeey. Emangnya aku bakul cabe pake ditawar?"


***


Sesampainya di masjid Nana menunjukan tempat wudhu khusus laki-laki pada Zen. Sedangkan Nana masih berdiri diparkiran sepeda motor. Berputar kekanan lalu kekiri, berusaha membuat nyaman pinggangnya yang terasa kejang karna dibonceng oleh Zen menggunakan motor sportnya.


Apa enaknya sih motor sport ! Nyampe cowok-cowok pada suka. Nana merasa kesal pada motor sport berwarna merah milik Zen.


Padahal salah Nana sendiri. Udah tau Zen pake motor sport, dia malah milih buat membonceng dengan posisi menyamping. Ya kan capek, karna harus menahan tubuhnya agar tidak menimpa ketubuh Zen. Hehehe.


Selesai sholat, Zen mencari-cari keberadaan Nana. Yang kemudian Ia dapati, sedang berdiri mengantri disalah satu pedagang yang berjualan didepan pagar masjid bersama anak-anak TPQ. Zen mendapatkan ide yang cukup iseng. Dia mengeluarkan ponsel jadul dari saku jaketnya, untuk Ia mengabadikan momen Nana yang sedang bersaing dengan anak-anak kecil untuk membeli jajanan.


" Udah selesai?" Nana kembali dengan batagor ditangannya.

__ADS_1


" Udah." Zen mengakhiri keisengannya, merekam gambar Nana.


" Duduk disitu yuk?" Nana menunjuk serambi masjid, yang tidak terpakai untuk kegiatan TPQ. Zen menurut, walau sebenarnya dia sudah berniat untuk pamit tadinya.


Setelah mereka duduk nyaman diatas marmer serambi masji, dengan santai Nana membuka styrofoam yang berisikan batagor untuk ditawarkan pada Zen.


" Mau?"


" Itu apa?" Zen menggelengkan kepala.


" Batagor." Nana mencicip terlebih dulu rasa batagornya.


" Itu makanan apa?" Zen heran dengan makanan yang sedang dimakan Nana. Karna melihat bentuknya nggak jelas menurut Zen.


Hah !? Dia nggak tau batagor. Maklum sih, dikampung mereka memang belum ada yang menjajakan jajanan sejenis ini.


" Aaaaahh..." Zen memekik.


" Kenapa, Dek?"


" Huh hah, Ada cabenya. Hahhh..." Mata Zen terlihat berair dan keningnya juga terlihat basah.


" Sampean nggak doyan pedes?" Zen menggeleng.


Nana meletakan makanan yang sedang Ia pegang ke lantai. Lalu menutupi wajahnya dengan hijab yang terurai didadanya. Kemudian tertawalah dia sejadi-jadinya. Bagaimana tidak ! Karna ketidak tahuannya, Nana menyuapi Zen dengan cabe lebih dari tiga potong.


Tidak menyangka dapat melihat tawa Nana sampai seperti itu, membuat Zen melupakan sedikit rasa yang membakar dilidahnya.

__ADS_1


Puas tertawa, Nana membuka ransel yang tidak sempat Ia masukan ke dalam kamar kostnya. Ia mengeluarkan botol minuman yang tinggal setengah isinya. Lalu membuka tutupnya sebelum Ia berikan pada Zen. Tanpa berkata, secepat kilat Zen menyambut botol itu. Kemudian meneguknya tanpa ampun. Karna heran menyaksikan tingkah Zen, mulut Nana sampai menganga.


" Sepertinya, aku harus beli botol minum yang baru deh!" Ucap Nana setelah menerima botol kosong dari Zen.


" Emang kenapa, Mbak?"


" Tadi isinya masih segini, tapi tiba-tiba jadi kosong. Kayaknya bocor deh!" Sambil mengangkat botol tinggi, menerawangnya penuh teliti. Lalu melirik Zen yang sedang mentertawakanya.


Zen mengeluarkan uang dari saku jaketnya. Mengambil satu lembaran berwarna merah muda, lalu Ia berikan pada Nana.


" Ya udah, ini buat beli botol yang baru."


" Hehehe. Apaan sih ! Bercanda kali." Nana tidak mau menerima uang pecahan 100 ribu yang diberikan Zen.


" Udah disimpen aja. Buat jajan batagor ektra cabe, besok." Dengan cara paksa Zen menyelipkan uangnya digenggaman Nana.


" Yeeey, modus. Bilang aja kalau mau pegang-pegang tanganku. Iya kan? " Padahal waktu dikost mereka sudah pegangan tangan lama. " Udah sana cepetan pulang."


" Pulang lah...! Udah diusir ini sama yang punya wilayah. Ayo aku anterin dulu ke kost."


" Nggak usah. Aku jalan aja, deket ini." Menghindar agar tidak dibonceng menggunakan sepeda motor milik Zen.


" Nanti kalau ada yang mau nyulik mbak Nana gimana?"


" Yang ada, kamu itu penculiknya. Sekarang aja lagi bujuk aku buat dianterin. Nanti jangan-jangan nggak dianteri ke kost, malah dibawa pulang lagi!"


Mungkin karna ini merupakan perpisahan pertama kalinya untuk mereka. Membuat mereka bingung untuk mengakhiri pembicaraan. Akhirnya setelah terjadi tawar menawar yang panjang, merekapun daat berpisah dengan memilih jalan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2