
Sesampainya di rumah, Ibu melihat Nana dan Ayah tiduran diruang TV. Meski melihat kehadiran Ibu, mereka terlihat acuh. Kompak mentap Ibu sekilas lalu beralih kelayar TV yang menampilkan sebuah acara. Ini adalah kesempatan bagus, namun Ibu masih belum memiliki keberanian untuk membahas apa yang sudah terjadi dirumah Zen pada mereka berdua.
" Kalian sudah makan?" Selalu merasa terabaikan saat bersama pasangan Ayah dan anak ini.
" Bapak, sampun." Jawab Nana lalu kembali memeluk Ayah. Tidak peduli dengan Ibu yang duduk di pinggiran kasur tepat di belakangnya.
" Lha kamu nggak makan, Nduk?"
" Nanti kalau pingin, mau bikin mie instan." Nana terdiam. " Kok Ibu lama?" Tanya Nana yang lama-lama merasa kasihan sama Ibu yang seperti sedang mencari perhatian.
" Paklek kamu ngedrop, gara-gara denger lamarannya ditolak." Sedikit melebih-lebihkan, untuk mencari aman.
Nana dan Ayah yang tadinya cuwek hanya melihat kelayar TV, sekarang mata mereka kompak menatap ke arah Ibu. Mencari tau kelengkapan cerita.
" Terus sekarang gimana keadaannya paklek?" Ada rasa bersalah muncul dalam hati Nana.
" Waktu Ibu pulang sih udah agak mendingan." Seketika perasaan Nana menjadi lega dan dan kembali mengalihkan pandangannya kelayar TV. Berbeda dengan Nana, Ayah masih menatap Ibu. Feeling Ayah mengatakan Ibu belum menuntaskan ucapannya." Karna Ibu bilang, mau menerima lamarannya." Lanjut Ibu.
Jjeeeeedddduuuaarrrrrr..... bukan hanya hati. Namun dari ujung rambut hingga ujung kuku jari kaki Nana serasa tersambar oleh ucapan Ibu.
" Lha gimana lagi, Pak? Ibu takut lihat Adekmu ngedrop gitu pas denger lamarannya ditolak."
__ADS_1
Nana berdiri, " Ya udah kan Ibu yang nerima, jadi Ibu yang nikah sama dek Zen."
Nana berjalan cepat menuju kerumahnya. Sesampainya dipintu yang terhubung dengan rumahnya, dia teringat jika dirumahnya nggak ada air minum. Dengan hati yang masih kesal dia berbalik menuju kedapur Ibu, untuk mengambil sebotol air putih didalam kulkas.
" Biarkan aja dulu, Bu." Ibu yang hendak mengejar Nana, dilarang Ayah.
" Tapi, Pak... " Air mata Ibu jatuh, membayangkan seberapa besar kemarahan Nana kali ini.
" Ini kan memang kesalahan Ibu."
" Ibu lihat dek Subkhan pucet baget, pak. Ibu takut kalau dek subkhan kenapa-napa trus ibu yang disalahkan. Ibu kan takut pak..." Ayah yang memahami kelemahan ibu membuat ayah menjadi urung untuk marah.
Sesampainya dikamar yang berada dilantai dua rumahnya, Nana melemparkan diri keatas kasur. Biasanya kamar ini hanya Ia gunakan untuk disiang hari. Dimusim seperti ini, saat malam hari hawa di dalam kamar ini berubah menjadi sangat dingin meski tanpa menghidupkan AC. Karna posisi rumah disekitar, tingginya tidak ada yang sebanding dengan tinggi rumahnya. Membuat angin dari laut yang jaraknya sangat dekat dengan pemukiman, berhembusan bebas kesela-sela dinding. Ditambah lagi kondisi jendela-jendela kaca yang berukuran besar sangat memungkinkan ditembus oleh hawa dari luar.
Nana menengkurapkan tubuhnya diatas kasur. Menutup kepalanya dengan bantal, berharap suara tangisannya tidak akan membuat heboh para tetangga. Yang rumahnya berbaris rapat di sekitar rumahnya.
Ya Allah... Apakah ini karma-Mu, karna aku sering pacaran sebelumnya? Sampai Kau tega tak izinkan aku memilih jodohku sendiri.
Ya Allah... Kan Engkau maha tau. Aku bener-bener berpacaran kan cuma sekali, sama Ardi. Kalau sama yang lainnya kan nggak disengaja. Keluh Nana dalam tangisannya.
Setelah kelelahan menangis dan mengeluh, Nana tertidur dengan memeluk guling yang basah entah karna ingus atau murni air matanya.
__ADS_1
Di seperempat malam Nana terbangun, meringkukan kaki agar tertutupi rok lebarnya.
Malam ini menjadi malam yang panjang dan menusuk bagi Nana. Dia tidak mengetahui ada beberapa selimut tebal didalam lemari, yang sengaja Sholeh siapkan untuknya.
Kini tubuh Nana sudah menggigil. Dia coba menghangatkan kedua telapak tangannya dengan menyisipkan keketiak secara menyilang. Namun rasanya sia-sia apa yang dia lakukan, tubuhnya masih saja menggigil. Ditambah sakit maagnya yang kambuh, karna dia sudah melewatkan jam makan siang dan malamnya. Nana menagis, menahan kesakitannya.
" Ibu..."
" Bapak..."
Sudah Ia coba berkali-kali memanggil Ayah dan Ibu, dengan seluruh tenaganya yang masih ada. Sayangnya suara yang Ia keluarkan tidak terdengar sampai ditelinga orang tuanya.
Namun firasat seorang Ibu sepertinya begitu tajam. Berbekalkan kunci cadangan, Ibu membuka pintu kamar Nana untuk melihat keadaan anak gadisnya yang semalam memendam amarah terhadapnya.
Betapa terkejutnya hati Ibu, mendapati putrinya meringkuk dengan tubuh yang sedikit membiru. Bahkan bibir merah yang menjadi icon kecantikan putrinya itupun sudah tidak terlihat olehnya.
" Na... Nana..." Ibu menggoyangkan tubuh Nana.
Dengan air yang terus berjatuhan dari kedua matanya, Ibu memanggil nama putrinya. Terkadang Ibu memanggil dengan nada menjerit sambil memeluk tubuh yang sama sekali tidak memberinya respon.
Menyesal. Adalah kata yang mewakili perasaan Ibu saat ini. Seharusnya dia lebih mendengarkan ucapan Firman dan Hafid untuk lebih mementingkan perasaan anak perempuan satu-satunya itu. Agar kemalangan ini tidak perlu menimpa Nana, yang juga berarti menimpa seluruh anggota keluarganya.
__ADS_1