
Nana yang tidak memiliki cukup keberanian untuk menolak secara terang-terangan lamaran dari Zen, memutuskan untuk menghubungi keempat kakaknya. Guna membentuk sebuah konspirasi penolakan lamaran.
" Asalamu'alikum, Mas... " Memberikan salam dengan nada lenjeh khas Nana, saat telpon tersambung.
" Wa'alaikum salam, Sayangku..."
Kakak yang dipilih untuk Ia hubungi pertama kali adalah Sholeh, yang sekarang ini berada di Lampung bersama Rahmat. Nana berniat menggunakan kasih sayang satu-satunya kakak yang masih bujangan itu untuk membantunya meyakinkan Ayah dan Ibu menolak lamaran Zen.
" Kalau sama Zen, Mas setuju banget, Dek." Sholeh menanggapi keluh kesah Nana yang panjang lebar tentang lamaran dari Zen.
" Mas dukung lahir batin."
Mak deg, kenyataan tidak berpihak padanya. Mendengar respon yang tidak sesuai dengan harapan, dari orang yang selama ini memanjakannya secara berlebihan itu membuat hati Nana seperti terhianati. Tanpa berkata apapun Nana mematikan sambungan telfon. Tubuh Nana serasa membeku, hanya bulir hangat dari mata yang mampu bergerak bebas memilih jalannya.
Setelah bisa mengendalikan diri serta perasaan yang terhianati, Nana melanjutkan misi konspirasinya dengan menghubungi Rahmat. Karna Nana merasa, Rahmat akan dapat memberikan pengaruh lebih besar pada kedua orang tuanya, dibanding kakak-kakaknya yang lain.
" Assalamu'alaikum mas Rahmat."
" Wa'alaikum Salam. Gimana ada kabar apa?" Terdengar suara tawa yang samar di telinga Nana.
__ADS_1
Cukup dengan basa basinya, Nana masuk pada inti. Yaitu menceritakan maksud dan tujuannya menelfon. Seperti halnya yang Ia ceritakan pada Sholeh.
" Salah sendiri kenapa milih kuliah di Jawa."
Tanggapan Rahmat pun sama sekali tidak melegakan hati Nana. " Coba kamu nurut sama Mas, kuliahnya disini. Pasti nggak bakalan kejadian kayak gini !" Dengan nada candaan ala Rahmat.
Karna suasana hati yang sudah tidak stabil, Nana menanggapi candaan Rahmad sekenanya. Kemudian mengahiri pembicaraan yang tidak sesuai harapan sedikit lebih sopan dari yang Ia lakukan pada Sholeh.
" Mereka lagi kesambet apa sih..... ! Kenapa disaat seperti ini malah kompak. menjadi kakak-kakak yang nggak berguna. Nggak bisa diharapkan ! "
Rasanya sudah seperti ingin menjungkir balikan kasur, namun Nana tidak punya cukup tenaga untuk merealisasikannya.
Pada hari yang sama, sebelum Nana memutuskan untuk menghubungi kedua kakaknya, Ayah yang tengah memikirkan baik-baik mengenai lamaran yang datang untuk anak gadisnya itu sudah terlebih dulu menghubungi Rahmad.
Walau Ibu terus membujuk Ayah untuk menerima lamaran dari Zen, namun Ayah juga ingin mendengarkan pendapat dari Rahmat sebagai anak tertua. Sekaligus orang tua pengganti untuk Nana ketika berada di Lampung, untuk menjadi bahan pertimbangannya.
Selanjutnya terjadilah perundingan diantara mereka bertiga, yaitu Ayah, Rahmad dan Sholeh. Karna pada saat Ayah menghubungi Rahmad, Ia sedang bersama dengan Sholeh.
" Kak, berani taruhan nggak?" Setelah perundingan dengan Ayah berakhir.
__ADS_1
" Taruhan apa, Leh?" Rahmat heran mendengar adiknya yang tiba-tiba mengajaknya taruhan.
" Aku berani bertaruh kalau sebentar lagi dek Nana bakal telfon kesini." Mengarahkan telunjuknya pada ponsel miliknya.
" Hahaha. Emang dia mau ngapain telfon kamu?" Rahmat menggelengkan kepala, tidak mempercayai prediksi Sholeh.
Tidak selang lama dari waktu mereka membicarakan tentang Nana, ponsel Sholeh berbunyi. Sesuai prediksinya, Sholeh menunjukan ponsel yang layarnya sedang menyala, bertuliskan nama adik mereka disana pada Rahmat yang tadi tidak mempercayainya.
Berakhirnya sambungan telfonnya dengan Nana, kedua kakak yang tidak dapat diharapkan menurut Nana itupun tertawa.
Kemudian Sholeh kembali memberikan prediksinya, bahwa sebentar lagi Nana akan menghubungi Rahmat. Dan benar saja hal itu memang terjadi.
Seperti yang mereka lakukan sebelumnya, setelah Nana mengakhiri obrolannya dengan Rahmat. Rahmad dan Sholeh kembali mentertawakan Nana, bahkan kali ini tawa mereka terdengar lebih jahat dari sebelumnya. Karna mereka berdua sedang membayangkan, bagaimana ekspresi Nana saat ini. Karna Nana mendapat dua penolakan rencana konspirasinya dari duo kakak yang dholim itu.
Yang Sholeh ketahui mengenai Zen, Ia adalah pemuda yang sudah mapan, pekerja keras dan mandiri. Sholeh juga tidak mempersalahkan tentang usia Zen yang selisih sekitar tiga belas tahun dengan Nana. Malah dia merasa bahwa usia Zen dirasa sangat pas untuk ngemong Nana, yang baginya sangat manja dan kekanakan.
Terlepas dari itu, yang tidak luput dari pertimbangan Sholeh. Sebagai anak bungu dan perempuan satu-satunya Nana bisa dibilang memiliki kewajiban untuk tinggal menetap bersama Ayah dan Ibu. Sholeh berharap, Zen dapat menjaga Ayah dan Ibu seperti apa yang sudah Ia lakukan selama ini terhadap Ayahnya yang sudah bertahun-tahun mengalami sakit.
Dari semua yang Sholeh ketahui tentang Zen, tidak ada satupun yang membuatnya merasa keberatan untuk Zen menjadikan Nana sebagai istrinya.
__ADS_1