
Seusai mengantar pulang kakak perempuan dan keponakannya yang tinggal di kota Semarang, kini Zen kembali melanjutkan perjalanannya menggunakan mobil untuk mengantarkan Nana ke rumah kost. Meski sudah memasuki musim liburan, Nana tetap harus tinggal di sana. Karna pada liburan kali ini, Nana mengambil perkuliah semester pendek demi bisa mempercepat masa kuliahnya.
Hanya tinggal Nana dan Zen didalam mobil, dan mereka bisa bebas merbuat apa saja. Berbicarakan dan berekspresi sesuka hati tanpa hawatir akan mengganggu ketertiban dunia.
" Mam, emangnya Mamam nggak capek apa, sering antar jemput Mumum? Udah kayak tukang ojek aja. " Nana memulai obrolan.
Sebenarnya sudah sejak lama Nana inhin membahas ini dengan Zen. Ia merasa tidak enak hati jika harus membuat repot Zen teris menerus seperti ini. Apalagi jika ternyata Zen melakukannya dengan terpaksa karna status hubungan yang mengikatnya dengan Nana.
" Mumum kan udah gede, bisa sendiri. Kaki Mumum juga udah nggak bermasalah. "
Zen menoleh pada kaki Nana yang tertutupi rok lebarnya. " Capek itu pasti, Mum. "Seketika Nana menundukan kepalanya saat Zen memberikan jawaban yang terlalu terus terang itu.
" Tapi bisa mengantarkan Mumum seperti ini, udah jadi kepuasan tersendiri buat Mamam. Karna bisa memastikan sendiri kalau Mumum dalam keadaan baik-baik saja, saat tiba di tujuan. "
Dalam lubuk hati Zen paling dalam, peristiwa kecelakaan yang dialami Nana waktu itu masih tersimpan jelas, menyisakan rasa kehawatiran bukan main pada Zen.
" Tapi kan jadi menyita waktu Mamam. " Ucap Nana sambil menahan rasa harunya.
" Selagi Mamam masih mampu, Mumum mau minta antar jemput tiap hari juga Mamam nggak keberatan kok. Toh nantinya waktu yang dimiliki Mamam akan jadi milik Mumum juga. "
Eh? Tidak di sangka, Nana seperti menemukan jawaban atas kerisauannya selama ini. Kerisauan yang menjadi dinding penghalang untuknya melangkah ke pelaminan. Nana menekan sudut matanya yang terlanjur berair karna perasaan bahagiannya.
" Mamam serius? " Ucap Nana menggoda Zen. " Nggak nyesel kalau suatu saatnya nanti bakal Mumum tagih? "
__ADS_1
Zen mengucap dengan mantap, " Serius lah! Apasih yang nggak buat Mumum-ku tercinta. "
Aaaaaa... Padahal yang berdebar adalah dadanya, tetapi yang Nana pegangi sekarang adalah bibirnya.
Nana menatap ke kaca pintu mobil, dilihatnya bayangan Zen yang terpantul disana, dalam hati Nana berkata, Mamam siap-siap ya, karna sebentar lagi Mumum bakal menagih ucapan Mamam itu.
***
Nana merogoh ponselnya yang berada di dalam ransel. Hanya ingin memeriksa, apakah ada informasi penting yang perlu segera ia ketahui, karna sejak awal perjalanan ia belum memeriksa ponselnya yang terus kerasukan notifikasi.
Sesaat setelah sebuah voicenote di putar dengan volume cukup kencang di ponsel Nana, tiba-tiba suasana di dalam mobil Zen berubah menjadi suram.
" Tunggu kedatangan Kakak ya, Dek. Sampai ketemu di kota Semarang... " Suara laki-laki itu berhasil merusak ketenangan jiwa dan raga Zen. Apalagi saat mendengar kata penutup pada pesan suara itu, " Emmuahh. "
Tidak kalah kaget dari Zen saat mendengar kata penutup pada voicenote tersebut, Nana merasakan tubuhnya melemas dan terasa gemetaran, ditambah lagi ketegangan yang baru saja ia lewati. Yang ia kira merupakan bentuk kemarahan yang dengan sengaja Zen tunjukkan padanya.
Mamam marah ya? Nana tidak berani menanyakannya langsung.
Zen menengok kearah Nana, meski hatinya terasa perih bukan berarti ia bisa mengabaikan kondisi Nana setelah insiden yang terjadi karna kelalaiannya. Dan lagi-lagi Nana salah mengartikan pandangan yang ditujukan Zen padanya itu, adalah sebuah tatapan kebencian.
Hiks, Kayaknya Mamam beneran marah deh sama aku. Nana merasa sedih tapi sekaligus merasa bersalah pada Zen meski sebenarnya ia tidak merasa melakukan kesalahan.
Kak Ardi, kamu lagi kesambet apa sih!!! bisa-bisanya kirim pesan suara kayak gitu. Nana menggertakan giginya, karna merasa kesal pada mantan pacar, yang konon katanya adalah mantan terindahnya.
__ADS_1
Cukup lama mobil Zen berada dalam mode sunyi. Tidak ada satupun kata yang terucap dari bibir keduanya. Hingga Nana tidak tahan lagi berada dalam suasana seperti ini.
" Mamam marah ya, gara-gara pesan suara dari Kak Ardi tadi. "
Ardi? Sejak Himma dan Alfa membagikan cerita masa lalu Nana, nama itu menjadi sulit untuk terhapus dari ingatan Zen. Jadi Mumum masih ada hibungan sama dia?
Ada perasaan hancur disana. Apa yang ia hawatirkan benar terjadi dihadapannya sendiri. Jika Nana masih belum dapat melupakan cinta di masa lalunya.
" Menurut Mumum? " Ucap Zen tanpa menoleh pada Nana.
Nana terdiam, dalam hati ia sedang memilah-milah kata untuk memberikan penjelasan pada Zen, agar tidak terjadi salah paham lagi.
" Puas, udah bisa pamer kemesraan sama mantan di hadapan Mamam? "
Deg. Perasaan Nana terasa sakit sekali mendengar perkataan tajam dari mulut Zen.
" Maksud Mamam apa? Mumum aja nggak tau kok, kenapa tiba-tiba Kak Ardi bisa kirim pesan kayak gitu ke Mumum. Tapi Mamam malah nuduh Mumum, seakan-akan Mumum udah selingkuh dibelakng Mamam. " Nana meluapkan emosi yang disertai dengan deraian air mata.
Setelah begitu banya perasaan cinta yang ia perlihatkan, ia malah mendapat tuduhan yang tidak beralasan seperti ini. Nana sangat kecewa dengan Zen.
" Nih HP Mumum! " Maksud hati Nana ingin melemparkan ponselnya ke pangkuan Zen. Tapi karna terlalu kuat tenaganya, ponsel itu malah membentur pintu mobil dan jatuh ke kolong tempat duduk Zen. " Kalau Mamam masih nggak percaya, baca aja semua pesan yang ada di HP Mumum! "
Setelah mengatakan itu, Nana membuang wajahnya kearah berlawanan dengan temat Zen duduk, dan menjaganya agar tidak terlihat oleh laki-laki yang sudah mengecewakannya itu.
__ADS_1