
Masih dalam suasana hati yang geli, Nana keluar dari ruang laborat dengan menutup bagian mulutnya, yang tidak bisa berhenti tertawa. Sedangkan Zen yang mengetahui alasan kenapa Nana tertawa sejak tadi hanya bisa berpaling sambil menahan rasa malunya.
Kalau saja tangan Nana tadi tidak berada dalam genggam Zen, mungkin ia memiliki kesempatan untuk mengabadikan momen langka itu menggunakan ponselnya. Dimana mata dan kepalanya sendiri menyaksikan raut ketakutan di wajah Zen, saat sebuah jarum suntik akan di tembuskan pada kulit lengannya, untuk diambil sempel darahnya.
" Ehem... Ketawain aja terus... " Ucap Zen menyindir Nana.
Hahaha, siapa suruh bikin Mumum ketawa! Batin Nana.
" Siapa sih yang ketawa, Mam? Mumum lagi niupin tangan ini lho. Masih cenut-cenut tau! " Nana menunjukkan tangan putihnya yang memerah, bekas genggaman Zen.
" Ma'af... sakit banget ya? "
Ucapan Nana berhasil membuat Zen merasa bersalah dan berhenti menghiraukan tawanya yang masih kesulitan untuk ia kontrol.
Dengan penuh kehati-hatian Zen memegang tangan Nana dan mengajaknya untuk duduk dibangku yang ia dan Nana tempati tadi pagi. Karna mereka masih harus menunggu hasil pemeriksaan yang mereka jalani di ruang laborat tadi keluar.
Haahaha, Mamam... Mamam... Nana berusaha menyembunyikan senyumnya, agar tidak terlihat oleh Zen yang sedang fokus meredakan nyeri di tangannya.
Ia tidak habis pikir, bagaimana laki-laki yang selama ini nampak gagah lagi kuat, laki-laki yang siap sedia melawan dunia untuk melindunginya ini, bisa terlihat lemah saat duhadapkan dengan sebuah jarum suntik, yang maha kecil itu.
__ADS_1
" Ma'af ya, Mum. Gara-gara Mamam, tangan Mumum jadi sakit kayak gini. " Zen memelas, sambil terus mengelus tangan Nana.
Klunting... klunting...
" Nggak apa-apa Sayang. Sebentar lagi juga Mamam bakal nyakitin Mumum lebih dari ini kan? "
Selagi Zen melongo, Nana menarik tangannya untuk memeriksa pesan masuk diponsel. Karna Zen sedang berfikir, bagaimana dirinya bisa menyakiti Nana 'lebih dari ini'. Pada gadis di tepi jalanpun ia tidak pernah sentuh, aalagi menyakiti. Lalu bagaimana ia bisa berbuat kasar pada gadis yang begitu ia cintai dan ingin ia lindungi itu.
Jadi begitu toh penilaian Mumum terhadap-ku!
" Emangnya Mamam kelihatannya seperti orang yang suka berbuat kasar begitu tah? " Main fisik seenaknya.
" Bukan yang kayak gitu, Sayang. "
" Kalau bukan kayak gitu, terus maksudnya Mumum apa? "
" Itu, kata mbak-mbak di kost, nanti pas malam pertama, Mumum bakal ngerasa kesakitan gara-gara Mamam. " Sambil terus membalas pesan yang masuk, Nana menjelaskan alasannya.
" Hah? " Mulut dan mata Zen menganga. Otaknya tidak mampu merespon kata demi kata yang diucapkan Nana. Zen tersenyum saat menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Sebenarnya dia sadar nggak sih, sama apa yang dia omongin barusan?! Merasa gergetan pada Nana.
" Mum... "
" Dalem, Sayang. " Akhirnya Nana menoleh.
" Kenapa? "
" Sebelum kita berangkat ke Semarang, kita mampir beli palu besar dulu ya? "
" Iya, terserah Mamam aja. Yang penting jam empat Mumum udah nyampe di Semarang. " Jawab Nana cuek.
" Mumum kok nggak tanya, Kenapa Mamam ngajakin buat beli palu besar? "
Oh! Ceritanya dia mau ngrayu aku toh. Nana tersenyum malu, karna tidak peka dengan maksud Zen yang ingin merayunya dengan teknik seperti yang ada dalam acara lawakan di TV.
" Emang buat apa, Sayang? "
" Buat getokin kepala mbak-mbak yang sudah ngajarin Mumum-ku, yang nggak-nggak! " Ucap Zen kesal.
__ADS_1
Lah? Kok?
Ketimbang merasa kecewa, karna ternyata Zen tidak sedang merayunya, Nana malah merasa kaget dan bingung. Tadi sebenarnya ia sedang membahas apa sih, selagi asik bermain dengan ponsel. Dan pembahasan mana yang membuat Zen terpropokasi seperti ini.