Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Surat Cinta Dari Zen


__ADS_3

Nana menyelonjorkan kakinya di emperan masjid agung kota Demak. Masjid yang sangat terkenal dengan sejarahnya. Dan menjadi salah satu tempat favorit para peziarah dari dalam maupun luar kota. Dan karna lokasinya yang berada di depan alun-alun kota, menjadikan masjid ini tidak pernah sepi dari pengunjung.


Zen sudah kembali membawa dua botol minuman dengan jenis berbeda ditangan. Ditawarkannya kedua minuman itu pada Nana. Nana memilih air meneral, karna sebelum berangkat dia kebayakan bercermin mematut diri, hingga melupakan botol air minum yang biasa dia bawa kemana-mana.


" Capek kan? Coba tadi nurut mau digendong." Mengingat halaman masjid ini yang sangat luas, Nana malah nekat berjalan tanpa bantuan. " Sakit nggak kakinya?" Ikut duduk disamping Nana.


" Di halaman masjid banyak orang, masa iya mau digendong cowok. Emang aku cewek apaan?"


" Cewek mesum yang suka godain aku." Zen mendorong bahu Nana dengan bahunya.


" Apa !" Mencubit pinggang Zen.


" Aaauuu. Tadi kan mbak Nana tanya, aku cewek apaan? Udah aku bantu jawab juga, masih kena cubit. Hehe."


Banyak sekali yang mereka bicarakan sambil menunggu bedug masjid ditabuh, bertanda waktu sholat dhuhur tiba. Dimulai dari cerita tentang diri mereka, sampai cerita Zen yang bertekat membeli mobil disaat perekonomiannya masih sangat lemah. Namun keadaan memaksanya. Dimana keadaan Ayah yang harus riwa-riwi dirujuk ke rumah sakit, membutuhkan mobil untuk mempermudah transportasinya.


***


Selesai menunaikan sholat dhuhur ditempat terpisah dengan Zen, Nana menyelonjorkan lagu kakinya yang terasa cenut-cenut, dipojokan tempat sholat khusus wanita.

__ADS_1


Teringat dengan amplop putih yang diberikan Zen padanya saat berada didalam mobil. Nana sudah tidak tahan lagi untuk tidak membukanya karna rasa penasarannya. Dan juga sudah terlalu capek, untuk main tebak menebak tentang apa isinya.


" Kertas ?" Sudah seperti menerima surat izin dari anak sekolahan saja batin Nana.


Jadi ini beneran surat ? Cara Nana menjembreng kertas dua lembar yang menyatu itu, sudah seperti mau membacakan teks proklamasi dalam upacara bendera.


Teruntukmu Calon makmumku,


Nalal Muna.


" Eh, beneran dia tau nama lengkapku?" Kaget, Nana membungkam mulutnya yang menganga dengan tangan kirinya.


" Baru baca judulnya kok udah deg-degan ya."


Dan ma'afkan aku yang belum mampu memberikan kisah indah untukmu.


Maka, bersediakah engkau membantuku untuk mewujudkan kisah yang indah bersamaku seperti inginmu ?


Sampai dibait ini Nana yang aslinya memang cengeng sudah menitikan air mata karna terenyuh dengan kata-kata Zen.

__ADS_1


Engkau adalah wanita pertama yang hadir mengisi hidupku, bukan berarti aku menunggu wanita kedua, ketiga ataupun seterusnya.


Demi Allah, hanya engkau wanita yang ada didalam do'aku. Yang selalu ku mintakan pada-Nya agar menjadikanmu sebagai penyempurna agamaku. Dan menjadikanmu sebagai teman untuk menghabiskan sisa umurku.


Apakah engkau bersedia untuk itu, wahai calon makmumku ?


Nana membenamkan wajah dilengan kirinya, karna sudah tidak dapat mengontrol air mata yang terus mengalir dengan derasnya. Namun dia juga tertawa bahagia mendapatkan pernyataan cinta yang tidak pernah terbayang sebelumnya.


Lanjut lagi Ia membaca isi surat cinta dari Zen, setelah berhasil mengontrol emosi yang bergejolak tentunya.


Saat engkau menginginkanku menyatakan cinta padamu, terselip rasa hawatir dalam benakku. Karna aku bukanlah lelaki yang pandai merangkai kata-kata indah untuk kau dengar, apalagi berucap tentang kata cinta.


Karna bagiku rangkaian kata paling indah didunia ini adalah kalimat ijab kabul, yang kelak aku ucapkan atas namamu. Dengan menjabat tangan walimu dan kemudian disahkan oleh pada saksi tentunya.


" Aaaaaaaaaa. Nggak pandai merangkai kata apanya? Tulisan kamu udah bikin aku kayak gini tau." Maki Nana pada kertas putih di genggemannya. Wajar bila ada orang yang melihat Nana, akan berpendapat bahwa Nana sedang kesurupan. Karna sebentar nangis, sebentar tertawa dan sekarang ngedumel sendiri dipojokan ruangan.


*Dan Ingatlah bahwa a**ku akan selalu siap mengucapkan kalimat itu untukmu, pada saat kapanpun engkau siap untuk mendengarnya*.


Yang akan selalu setia menanti,

__ADS_1


Calon Imammu.


Selesai membaca, Nana mencium kertas putih berisikan pernyataan cinta yang melebihi ekspektasinya. Ingin rasanya melompat untuk melampiaskan kebahagian, namun apa daya. Kakinya yang masih di gips tidak mampu memenuhi keinginannya.


__ADS_2