
Rahmad dan Firman berada dibagian depan, untuk memimpin jalan. Sedangkan Sholeh dan Hafid berada di belakang, berjalan mengiringi langkah kecil Nana. Empat lelaki berseragam baju adat itu, siap mengantarkan Nana untuk bertemu dengan Zen untuk pertama kalinya, setelah mereka sah sebagai sepasang suami istri.
" Di persilahkan kepada pengantin putra, untuk berdiri menyambut kedatangan Mbak Nalal Muna yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. " Ucap MC yang mengambil alih acara saat ini.
Deg.
Masih berada di tempat duduk yang sama, Zen yang sudah mengetahui alasan mengapa Nana sampai mengamuk di hari penting seperti ini, mengalihkan pandangannya kearah pintu rumah.
" Mumum? " Senyum Zen mengembang seketika.
Ia hampir tidak bisa mengenali gadis anggun yang berada di antara tubuh-tubuh gagah yang sedang mengawalnya. Namun, saat melihat Nana malu-malu membalas senyumannya, ia baru yakin, bahwa dia adalah bidadari tanpa sayap yang telah ia nikahi.
Hish, Mamam kok ngelihatinnya kayak gitu banget sih!
Sholeh dan Firman menyerahkan tangan Nana yang sedang menaiki anak tangga pada Rahmad dan Firman yang sudah terlebih dulu menaiki panggung pelaminan. Sekarang menjadi tugas mereka untuk mengantarkan Nana pada Zen, yang sudah berdiri menanti kedatangannya.
Nana membungkuk dan menyalami tangan Zen, yang masih terpesona dengan penampilannya saat ini.
" Ini beneran Mumum-ku kan? " Tanyanya, sebelum melingkarkan tangan Nana di lengan kokohnya.
" Iya, Kangmas. Ini Diajeng-mu. " Dengan nada manja cenderung genit Nana menjawab Zen.
" Mumum! " Suara Zen tertahan. Ia merasa geregetan dengan cara pengucapan Nana, yang terkesan sedang menggodanya itu.
Rahmad menggaruk-garuk blangkonnya yang tidak gatal sedangkan Firman hanya menggelengkan kepalanya pelan, mereka menjadi malu sendiri melihat tingkah pengantin baru di hadapan mereka.
***
Mendengar MC meminta Zen untuk menyambut kedatangan Nana, Naila dan Renata yang sedang berada di dalam rumah tetangga bersama teman-temannya yang lain seperti berlomba untuk dapat segera melihat sosok Nana.
__ADS_1
" Aaaaaa. "
" Nana! "
Teriakan Renata dan Naila memancing teman-teman perempuannya untuk ikut keluar dan meninggalkan makanan mereka yang belum habis.
Bak putri keraton, Nana melambaikan tangannya pelan sambil tersenyum pada teman-teman seperjuangannya di kampus.
" Umi!!! " Teriak Abi yang membawa keluar piring makannya. " Aku pada-mu! "
" Abi! " Naila dan yang lainnya kompak memukuli Abi. Karna ulahnya, semua pandangan para hadirin jadi terarah pada mereka, termasuk Zen.
***
Duduk di hadapan Pak penghulu dan duo ayah. Sambil menggenggam tangan Nana, Zen membacakan sighat taklik atau perjanjian jatuhnya talak atas diri Nana yang sudah ia tanda tangani dalam buku nikah. Sebuah perjanjian yang tidak akan mungkin ia langgar, apapun kondisinya nanti. Ia yakin akan hal itu.
" Mbak Nalal. Kang Zen-mu ini sudah sah, sudah resmi menjadi suami sampean menurut agama maupun negara. Apapun kondisinya nanti, bersabarlah. Niatkan semuanya semata karna ibadah. " Pak penghulu memberikan petuah pada Nana.
Selesai penyerahan mahar. Sambil menggenggam tangan kiri Nana, Zen menaruh tangan kananya diatas ubun-ubun Nana. Di saat itu, Zen sedang memanjakan do'a untuk masa depannya bersama Nana.
" Cium, cium, cium, cium. " Sorak teman-teman Nana yang berkumpul di emperan rumah tetangga.
" Nih. " Nana menyerahkan diri pada Zen untuk dicium.
" Mumum!!! " Bertambah rasa gemas Zen pada Nana. " Kenapa jadi murahan kayak gini sih? "
" Kan Mamam udah bayar Mumum. " Jawab Nana enteng.
Zen tidak tahan dengan pemilihan kata Nana yang seolah memiliki makna lain itu.
__ADS_1
" Itu mahar, Sayang-ku! "
" Halah sama aja! " Nana tidak mau tau. " Udah, ini mau nggak? " Nana masih menawarkan dirinya pada Zen.
" Hish... " Zen sedikit kesal, momen yang harusnya jadi momen romantis malah jadi adegan pemaksaan seperti ini.
Dengan penuh kelembutan Zen menyentuh kedua pipi Nana kemudian mendekatkan bibirnya pada kening Nana yang tidak tertutupi siger atau hiasan kepalanya.
Nana merasa mrinding di sekujur tubuhnya. Namun ia nyaman dengan perasaan itu.
" Waaaahhh.... "
" Adek kagak tahan, Bang! "
Suittt... suiiiit....
" Seng jomblo panas. "
" Ajor atiku! "
Tanpa mempedulikan teriakan-teriakan itu, Zen dan Nana nenikmati ciuman pertama mereka.
Terimakasih ya Allah atas kenikmatan-Mu ini. Akhirnya Engkau mendatangkan hari ini untuk kami. Rasa syukur Zen.
Nana membuka mata, saat Zen melepaskan kecupan dari keningnya. Karna merasa ketagihan, tanpa rasa malu ia meminta Zen untuk melakukannya lagi.
" Maleh. "
" Mumum... " Memanggil dengan mesra. " Nggak boleh nakal ya. Nanti kalau Mamam jadi kepancing, siapa coba yang mau tanggungjawab? "
__ADS_1
" Ya Mumum lah! " Tantang Nana.